Isi Artikel
Pelatihan Kepemimpinan “Tangsel Leadership 2025” Menjadi Sorotan
Pelatihan kepemimpinan yang bertajuk “Tangsel Leadership 2025: Strategic Communication & Management Risk for Public Governance” menjadi perhatian publik setelah diketahui menghabiskan anggaran sebesar Rp1,5 miliar untuk dua hari kegiatan. Acara ini diselenggarakan oleh Pemkot Tangsel di Grand Sunshine Hotel Bandung dan menarik perhatian banyak pihak.
Pelatihan tersebut dihadiri oleh pejabat eselon II dan III serta menghadirkan tiga narasumber. Namun, kritik terhadap biaya yang dikeluarkan terus berdatangan. Pasalnya, pada hari kedua kegiatan hanya diisi dengan sarapan, kegiatan ringan, lalu peserta pulang. Hal ini membuat banyak orang merasa bahwa acara tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang digunakan.
Rundown lengkap dari acara tersebut juga memperkuat kritik yang ada. Banyak yang merasa bahwa kegiatan tersebut tidak cukup bermanfaat bagi peserta. Berikut adalah susunan acara lengkap dari pelatihan:
Hari Pertama (Selasa, 9 Desember 2025)
- 08.00-08.30 : Open & Registration
- 08.30-09.00 : Opening Ceremony (MC)
- 09.00-10.30 : Sambutan & Arahan Wali Kota Tangsel Drs. H. Benyamin Davnie
- 10.30-11.45 : Speaker 1 : Sri Sumahardani (Strategic communication)
- 10.45-12.30 : Q & A Session & Post-Test
- 12.30-13.30 : Lunch Break
- 12.30-14.00 : SPEAKER 2 : Davied Verrionica (Management Risk for Public Governance)
- 14.30-15.30 : Panel Discussion & Post-Test
- 15.30-16.30 : SPEAKER 3 : Ustaz Zacky Mirza (Motivation Spiritual)
- 16.30 : Closing
- 16.30-17.00 : Pembagian kunci kamar
- 19.00-22.00 : Makan malam dan ramah tamah
- 22.00 : Peserta Istirahat
Hari Kedua (Rabu, 10 Desember 2025)
- 06.30-08.00 : Sarapan
- 08.00-10.00 : Tim Building
- 10.00 : Persiapan Kembali Ke Tangsel
- 10:30 : Peserta Kembali ke Tangsel
Penjelasan Pemkot Tangsel
Dugaan pemborosan berupa perjalanan dinas sejumlah pejabat Pemerintah Kota Tangerang Selatan ke Bandung mencuat setelah sebuah unggahan di media sosial beredar luas. Dalam unggahan tersebut, terlihat deretan mobil dinas berpelat merah terparkir rapi di area sebuah hotel bintang empat di Bandung pada 9-10 Desember 2025.
Spanduk acara bertuliskan “Tangsel Leadership 2025: Strategic Communication & Management Risk for Public Governance” juga tampak terpampang di area hotel. Unggahan itu menyebutkan para pejabat Tangsel dari eselon II dan III melakukan perjalanan ke Bandung. Kegiatan ini diduga menghabiskan anggaran hingga Rp 1,5 miliar.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan memberikan alasan penyelenggaraan Leadership Training di Bandung yang dituding menghabiskan anggaran besar. Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Tangsel, Wahyudi Leksono, menegaskan kegiatan tersebut merupakan program resmi yang telah disahkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2025.
“Leadership Training ini bukan kegiatan mendadak. Program ini sudah ditetapkan dalam RKPD 2025 sebagai bagian dari agenda pengembangan kompetensi ASN Tangsel,” ujar Wahyudi Leksono.
Ia menjelaskan, kegiatan itu berlangsung selama empat hari dan dibagi dalam dua gelombang, yakni 9-10 dan 11-12 Desember 2025, dengan total peserta mencapai 200 pejabat eselon II dan III.
Menanggapi pertanyaan publik terkait pemilihan Kota Bandung sebagai lokasi kegiatan, Wahyudi menyampaikan keputusan tersebut telah melalui kajian kebutuhan pelatihan. “Bandung dipilih karena memiliki fasilitas pelatihan yang memadai, lingkungan belajar yang kondusif, serta ketersediaan narasumber berkualitas yang relevan dengan materi pengembangan kepemimpinan. Di sana, peserta dapat mengikuti sesi pelatihan secara fokus tanpa terdistraksi oleh rutinitas pekerjaan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menambahkan pelatihan di luar kota bukan untuk memanjakan peserta, melainkan demi efektivitas pembelajaran. “Tujuan kami adalah memastikan proses pembelajaran berjalan optimal dan terukur. Pemilihan Bandung adalah pertimbangan profesional, bukan gaya-gayaan,” tegasnya.
Terkait tudingan pemborosan, Wahyudi menekankan Leadership Training merupakan bagian dari kewajiban pemerintah daerah dalam melakukan pembinaan pegawai. Menurutnya, peningkatan kapasitas ASN sangat penting untuk memperkuat strategi kebijakan dan karakter kepemimpinan.
“Tanpa pelatihan kepemimpinan yang memadai, kualitas pelayanan publik akan stagnan dan tidak mampu menjawab tantangan birokrasi modern. Pelayanan yang baik hanya bisa diberikan oleh SDM yang kompeten. Itu tidak terjadi secara otomatis ada proses pembinaan yang memang harus didukung anggaran negara,” jelasnya.
Wahyudi menyebut kegiatan ini merupakan implementasi nyata Merit System sesuai UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN, yang menggariskan pentingnya peningkatan kompetensi melalui pendidikan, pelatihan, dan manajemen talenta. “Ini bagian dari komitmen kami menerapkan Merit System secara konsisten dan objektif,” katanya.
Lebih lanjut, Wahyudi menegaskan pihaknya tidak menolak kritik masyarakat. Menurutnya, masukan publik justru menjadi bagian dari kontrol penting dalam tata kelola pemerintahan. “Kami sangat menghargai kritik yang masuk. Itu artinya masyarakat peduli pada kualitas pemerintahan. Pemerintah tidak antikritik, dan kami berterima kasih atas perhatian publik terhadap program ini,” tuturnya.
Ia menambahkan, setiap kritik akan menjadi bahan evaluasi internal agar pelaksanaan kegiatan serupa dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan transparan pada masa mendatang. “Leadership Training adalah investasi sumber daya manusia. Manfaatnya tidak hanya dirasakan ASN, tetapi juga masyarakat yang memperoleh pelayanan. Ini bukan pemborosan, tetapi kebutuhan organisasi untuk terus maju,” pungkasnya.







