– Ketegangan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memuncak menjadi serangan militer.
AS menyerang kota-kota di Venezuela lalu menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro bersama sang istri, Cilia Flores pada Sabtu (3/1/2026).
Komunitas internasional mulai mengamati perkembangan di Venezuela dengan saksama lantaran peta geopolitik yang telah berubah drastis.
Lantas, mana saja yang berada di pihak Venezuela dan mendukung serangan Presiden AS, Donald Trump?
Negara yang mendukung Venezuela
1. Kuba
Secara historis, dua negara secara konsisten mendukung Venezuela, yakni Kuba dan Nikaragua, seperti dikutip dari AS News.
Setelah pengerahan awal AS di Karibia, serangan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba, dan ancaman dari Trump, Kuba menegaskan kembali dukungannya yang “total dan lengkap” untuk Venezuela.
Hal itu dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez.
2. Nikaragua
Nikaragua juga menanggapi langkah-langkah AS, dengan pemerintah Daniel Ortega menuduh Trump berupaya merebut sumber daya minyak Venezuela.
3. Rusia
Dilansir dari BBC, selama bertahun-tahun Rusia menjadi sekutu utama dan mendukung pemerintahan Venezuela.
Namun, para ahli mengatakan bahwa dukungan tersebut saat ini tampaknya hanya bersifat simbolis.
Pergeseran ini terjadi seiring dengan pengerahan pasukan udara dan angkatan laut AS ke Karibia.
Sebelumnya, AS telah melakukan serangan terhadap kapal-lapal di wilayah tersebut yang dituduh menyelundupkan narkoba, menewaskan lebih dari 80 orang, dan dalam beberapa hari terakhir menyita kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela.
Di sisi lain, sejak invasi penuh rusia ke Ukraina pada 2022, Rusia telah mencurahkan sumber daya yang sangat besar ke dalam konflik tersebut sehingga membebani keuangan dan militernya.
Rusia juga menghadapi sanksi Barat yang luas. Faktor inilah yang membuat dukungan Rusia ke Venezuela mungkin tidak sekuat awalnya.
Sejauh ini, Rusia belum juga memberikan bantuan materi apa pun untuk Venezuela.
Meski demikian, Wakil Menteri Luar Negeri Kremlin Sergey Ryabkov tetap menyatakan dukungannya kepada Venezuela.
“Kami mendukung Venezuela, sebagaimana Venezuela mendukung kami,” ungkapnya.
3. China
Selain Rusia, China juga dulunya merupakan aliansi Venezuela, tapi kini tampaknya akan berbeda.
Profesor Fernando Reyes Matta, direktur Pusat Studi China di Universitas Andrés Bello di Chili, berpendapat bahwa Venezuela telah menjadi prioritas yang jauh lebih rendah bagi negara tersebut, terutama sejak Presiden AS Donald Trump kembali ke Gedung Putih.
“Saat ini, tidak ada alasan bagi Rusia dan China untuk mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk membela Venezuela mengingat masalah lain yang mereka hadapi, seperti Rusia dan perangnya di Ukraina, serta upaya China untuk hidup berdampingan secara internasional dengan Presiden Trump,” katanya.
China juga tidak menunjukkan tanda-tanda bakal membela Venezuela secara militer. Negara itu hanya mengutuk keras agresi militer AS dan menyebutnya sebagai campur tangan eksternal.
4. Iran
Sekutu politik dan ideologis Venezuela berikutnya adalah Iran. Negara itu mengembangkan hubungan diplomatik yang lebih dekat dengan Venezuela selama kebangkitan Chavez.
“Ancaman penggunaan kekerasan terhadap Venezuela merupakan pelanggaran yang jelas dan terang-terangan terhadap prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan norma-norma hukum internasional yang bersifat mutlak,” kata Araghchi, dikutip dari ABC News.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan bulan lalu bahwa negaranya mengutuk tindakan AS di Karibia sebagai “unilateralisme agresif” dan mengumumkan “perluasan kerja sama di tingkat bilateral dan multilateral” dengan Venezuela.
5. Turkiye
Hubungan bilateral antara Turkiye dan Venezuela telah terjalin selama lebih dari 7 dekade.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kemitraan kedua negara tersebut sebagian besar hanya bersifat ekonomi.
Negara yang mendukung AS
Sementara itu, AS mengandalkan dukungan publik dari beberapa wilayah Karibia, termasuk Trinidad dan Tobago, Republik Dominika, Grenada, serta wilayah AS Puerto Riko dan Kepulauan Virgin AS.
Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan AS telah beroperasi di seluruh wilayah ini, mendirikan pangkalan dan melakukan latihan militer.
Berikut ini negara yang tampaknya memberikan dukungan ke AS:
1. Trinidad dan Tobago
Dipisahkan oleh selat laut sepanjang 16 kilometer, Trinidad dan Tobago adalah salah satu negara tetangga geografis terdekat Venezuela.
Perdana Menteri Kamla Persad-Bissessar mengatakan kepada wartawan bahwa Marinir AS ditempatkan di sebuah bandara di pulau Tobago, yang juga sedang berupaya mengembangkan radar, landasan pacu, dan jalan raya.
“Mereka akan membantu kami meningkatkan pengawasan dan intelijen radar kami untuk para pengedar narkoba di perairan kami dan di luar perairan kami,” katanya, menurut Associated Press.
2. Republik Dominika
Di tengah peningkatan kekuatan militer AS di Karibia, Presiden Dominika Luis Abinader mengumumkan bahwa ia mengizinkan sementara pemerintahan Trump untuk mendaratkan pesawatnya di dalam area terlarang untuk mengisi bahan bakar.
“Tujuannya jelas, untuk memperkuat lingkaran perlindungan udara dan maritim yang dijaga oleh angkatan bersenjata kita, penguatan yang menentukan untuk mencegah masuknya narkotika dan untuk memberikan pukulan yang lebih telak terhadap kejahatan terorganisasi transnasional,” ungkapnya.
3. Puerto Riko
Puerto Rico adalah pulau teritorial AS yang terletak di sebelah Republik Dominika.
Dikutip dari Reuters, pesawat militer AS aktif telah terlihat di bekas pangkalan angkatan laut Roosevelt Roads dalam beberapa pekan terakhir.
Sebuah helikopter CH-53E Super Stallion dan tiga pesawat MV-22 Osprey telah terlihat di pangkalan tersebut, sedangkan sebuah helikopter Penjaga Pantai AS terlihat melakukan penerbangan di sekitar fasilitas di sana.
4. Guyana
Guyana, negara tetangga Venezuela di sebelah timur, belum secara terbuka mengonfirmasi apakah mereka mendukung AS atau serangan-serangannya terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba.
Meskipun demikian, ketegangan antara Venezuela dan Guyana telah meningkat secara signifikan sejak tahun 2023 karena sengketa teritorial yang telah berlangsung lama, seperti dikutip dari Reuters.
Konflik dimulai setelah Venezuela menemukan sekitar 11 juta barel minyak dan gas yang dapat diekstraksi di lepas pantai Guyana, dan Maduro berjanji untuk memulai operasi pengeboran.
Guyana juga telah melancarkan pertempuran hukum di Mahkamah Internasional dalam upaya untuk menyelesaikan sengketa perbatasan.

Tinggalkan Balasan