Wali Kota Bima: Pelantikan Ipar adalah Fitnah, Ini Penjelasannya
Penjelasan Wali Kota Bima Mengenai Pelantikan Istri
Wali Kota Bima, A Rahman H Abidin, menyangkal beredarnya isu bahwa dirinya melantik iparnya sebagai pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Bima. Ia juga menegaskan bahwa pelantikan istrinya, Badrah Ekawati, sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bima telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mendapatkan persetujuan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Rahman mengatakan bahwa pelantikan istrinya pada Rabu (1/7) dilakukan melalui mekanisme yang sudah ditetapkan. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya, pihaknya telah memperoleh izin peraturan teknis dari BKN. “Tanpa izin tersebut, kami tidak bisa melakukan pelantikan. Jika tidak ada izin, bisa saja hak kepegawaian daerah dibekukan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa istrinya telah menjadi aparatur sipil negara (ASN) selama 33 tahun. Sejak 2016, ia telah menjabat sebagai administrator (eselon III), jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Wali Kota Bima. Menurut Rahman, Badrah sempat dinonaktifkan dari jabatan struktural menjadi staf setelah dirinya kalah dalam Pilkada 2018. Oleh karena itu, pelantikan tersebut merupakan pengembalian ke jabatan sebelumnya, bukan promosi ke jabatan yang lebih tinggi.
“Sejak 2016, istri saya sudah menjabat eselon III. Tapi karena saya kalah Pilkada 2018, istri saya kemudian dinonjobkan menjadi staf. Posisi yang dulu sekarang saya kembalikan, bukan naik ke eselon II,” katanya.
Rahman juga menjelaskan bahwa istrinya telah meniti karier sebagai ASN sejak awal. Mulai dari staf, kepala seksi, kepala bidang, hingga kembali menduduki jabatan administrator sesuai ketentuan pengembangan karier ASN.
Penyangkalan Terkait Pelantikan Ipar
Selain itu, Rahman juga membantah informasi yang menyebut dirinya melantik iparnya sebagai pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Bima. “Kalau lantik ipar, tidak ada ipar. Jadi, kalau ipar, itu fitnah,” tegasnya.
Ia menyayangkan beredarnya informasi di media sosial yang menyebut dirinya melantik sejumlah anggota keluarga tanpa konfirmasi. Menurutnya, informasi tersebut dapat menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. “Ya, saya ambil hikmahnya saja dari semua kejadian ini,” katanya.

