PIKIRAN RAKYAT SULTENG– Dalam dunia politik dan birokrasi yang sering kali penuh dengan aturan formal, gambar ini terasa seperti tempat beristirahat yang menyenangkan. Kita melihat Menteri Hukum RI, Dr. Supratman Andi Agtas, SH. MH., bukan sedang berdiri di balik podium yang kaku, tetapi sedang memeluk hangat seorang teman lama, seorang akademisi dari UIN Datokarama Palu.
Terkadang kita melihat tawa yang dipaksakan hanya untuk keperluan dokumentasi, senyum “plastik” yang hanya sampai pada bibir, sementara matanya kosong atau bahkan menyimpan niat tersembunyi. Namun, perhatikanlah tawa Dr. Supratman dalam momen ini. Itu adalah tawa yang alami, tawa yang tulus, dan benar-benar asli tanpa rekayasa.
Di balik posisi tinggi sebagai seorang Menteri, Dr. Supratman Andi Agtas, S.H., M.H., menunjukkan bahwa inti dari seorang pemimpin adalah kerendahan hati–humility. Menteri Hukum dan HAM RI tidak sedang mengangkat dirinya sebagai penguasa yang mengharapkan penghormatan, melainkan sebagai seorang teman dekat yang sedang merayakan pertemuan dengan Prof. Dr Hamlan Andi Baso Malla, S.Ag., M.Ag.
KEIKHLASAN Vs BASA-BASI POLITIK
Dunia saat ini mungkin penuh dengan konflik, seseorang bisa tertawa lebar di depan kamera, padahal di baliknya ia sedang merencanakan taktik atau bahkan menzalimi orang lain dengan sangat dingin. Namun, dalam pelukan hangat Menkum kali ini, yang terlihat justru sebaliknya, yaitu ketulusan tanpa perlu banyak basa-basi.
Kedekatan hati ini menunjukkan bahwa sejauh apa pun langkah kaki menuju pusat kekuasaan di Jakarta, akar persahabatan dan rasa hormat terhadap sesama, khususnya terhadap mereka yang berjuang di bidang pendidikan seperti dosen UIN Datokarama ini, tidak akan pernah hilang.
Gambar ini bukan hanya sekadar rekaman acara resmi. Ini merupakan pesan untuk kita semua bahwa, jabatan hanyalah amanat yang bersifat sementara, sedangkan kemanusiaan dan kejujuran adalah warisan yang tak pernah pudar, seorang pemimpin hebat adalah dia yang tetap mampu menghargai dengan hangat tanpa merasa lebih unggul.
Melihat Menteri Hukum tertawa bebas seperti itu, mengingatkan bahwa menjadi seseorang yang berpengaruh memang menyenangkan, tetapi menjadi orang yang jujur dan rendah hati jauh lebih mulia. Sebuah gambar yang menunjukkan bahwa persahabatan sejati tidak memandang batasan protokol.
SISI KERAS DR. SUPRATMAN ANDI AGTAS
Melihat foto keakraban antara Menteri Hukum RI, Dr. Supratman Andi Agtas dengan rekan akademisi dari UIN Datokarama Palu, seolah mengajak kita melihat dua sisi mata uang dari seorang pemimpin yang sejati. Di satu sisi, terdapat kehangatan yang luar biasa, senyum yang alami, tawa yang tulus, dan pelukan yang tanpa batas. Namun di sisi lain, keramahan tersebut bukanlah tanda kelemahan.
Terdapat batas yang jelas yang perlu dipahami bahwa Menkum adalah orang yang tulus, namun bukan seseorang yang mudah ditipu. Bagi Dr. Supratman, sebuah hubungan, baik itu persahabatan maupun profesional, harus didirikan di atas dasar yang suci, yaitu Kepercayaan. Dr. Supratman merupakan jenis pemimpin yang sangat menghargai kejujuran.
Namun, bagi pihak yang mencoba bermain-main dengan janji manis, atau yang suka mengiyakan di depan namun tidak pernah membuktikannya, jangan pernah mengharapkan kesempatan kedua.
Dalam kamus kepemimpinan Dr. Supratman Abdi Agtas, tidak ada ruang bagi individu yang “banyak bobo”, istilah untuk seseorang yang lalai, sering berbohong, kurang komitmen, atau hanya menjadi pribadi PHP—Pemberi Harapan Palsu. Bila seseorang menipu kepercayaan, terutama melalui janji-janji yang tidak dipenuhi, maka pintu kepercayaan akan tertutup rapat selamanya.
TIDAK ADA SIKAP BERTENDENS, TIDAK ADA RUANG UNTUK KEBIASAAN BERBOHONG
Berbeda dari orang-orang yang tampak sopan namun menyimpan kebencian atau rencana jahat untuk melukai sesama, Dr. Supratman tampil dengan jujur dan tulus. Ia menerima sahabatnya dengan tulus karena melihat kesamaan dalam integritas.
Namun, ini merupakan peringatan keras bagi siapa saja yang mudah berkata: “siap…siap…Insya Allah…Insya Allah…Aman…Aman, tetapi tidak menjalankannya. Jangan pernah mencoba menipu Dr. Supratman. Jangan pernah membuat janji jika tidak bermaksud memenuhinya. Bukti nyata jauh lebih berharga di mata Menkum daripada seribu kata persetujuan yang isinya kosong.
Bila integritas seorang pemimpin rusak, misalnya seorang rektor (ini hanya contoh) menurut pandangan Dr. Supratman melalui tindakan palsu yang sengaja dilakukan, maka nilai kepercayaan akan hilang. Menkum adalah sosok yang sangat menghargai teman, tetapi ia juga sangat menjaga martabat dan prinsipnya.
Perpindahan Episentrum: UIN Datokarama Kini Menjadi Pilihan Utama
Terdapat pemandangan menarik yang kini menjadi perbincangan hangat di kalangan akademisi dan masyarakat Sulawesi Tengah. Saat berbagai agenda strategis nasional, seperti Serap Aspirasi Percepatan Reformasi Polri oleh Menteri Hukum Dr. Supratman Andi Agtas, hingga program Rekrutmen Mahasiswa Anti Korupsi oleh Kejati Sulteng dilaksanakan, perhatian publik tertuju pada satu tempat: UIN Datokarama Palu.
Ini bukan hanya tentang pemilihan tempat, tetapi sebuah pernyataan kuat mengenai ke mana arah keyakinan masyarakat danstakeholder saat ini berlabuh.
Menara Putih yang Mulai Terpisah
Selama ini, Universitas Tadulako (Untad) selalu menjadi daya tarik utama. Namun, kenyataan saat ini menyampaikan hal yang berbeda. Bukan karena institusi tersebut mengalami masalah, tetapi karena gaya kepemimpinan yang dianggap mulai jauh dari realitas sosial. Fenomena “Raja di Menara Gading” tampaknya menjadi gambaran yang tidak terbantahkan.
Saat seorang pemimpin lebih fokus menunjukkan kesombongan dan eksklusivitas posisinya, secara tidak sadar ia menciptakan dinding tinggi yang memisahkan kampus dari perasaan masyarakat. Kepemimpinan yang tidak berakar dan cenderung sombong pada akhirnya akan ditinggalkan oleh mitra strategis yang lebih menghargai kejujuran dan sikap terbuka.
Mengapa Menteri Supratman Agtas dan Kajati Sulteng lebih memilih UIN Datokarama? Jawabannya terletak pada kenyamanan komunikasi serta kepercayaan (trust). Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa Dr. Supratman Andi Agtas adalah mantan Dosen Fakultas Hukum Universitas Tadulako. Tapi mengapa?
Kemampuan untuk mengakses hati seseorang tidak mudah ditolak. Pemimpin yang rendah hati akan mencari tempat di mana mereka dapat berbicara tanpa adanya batasan protokol yang ketat. Hal ini tentu berkaitan dengan tanda-tanda ketidakpercayaan. Ketika lembaga penegak hukum seperti Kejaksaan Tinggi dan kementerian selevel Kemenkum memutuskan untuk beralih dari Untad, ini menjadi “hantaman halus” bagi para pengambil kebijakan di sana. Ini menunjukkan bahwastakeholderlebih menghargai sikap rendah hati dibandingkan dengan kemegahan yang kosong.
Kembali pada tokoh Dr. Supratman Andi Agtas, seorang pemimpin yang anti-ketidakjujuran dan sangat menghargai komitmen, ia pasti memiliki naluri yang tajam dalam memilih rekan kerja. Menteri Hukum RI tidak mencari panggung yang penuh dengan kesan kosong atau ucapan yang hanya sekadar formalitas birokrasi.
Pemilihan jatuh kepada UIN Datokarama karena lembaga ini mampu menunjukkan wajah yang lebih ramah, terbuka, dan tulus. Sebaliknya, jika kepemimpinan di kampus lain sudah tercoreng oleh rasa sombong dan janji-janji yang tidak pernah dibuktikan, maka tidak perlu heran jika akhirnya hanya menjadi penonton dalam gelaran besar kemajuan daerah.
Foto pelukan hangat Menteri Hukum di UIN Datokarama merupakan bukti nyata bahwa posisi tinggi akan selalu tunduk pada kejujuran, dan pintu kepercayaan hanya akan terbuka bagi mereka yang rendah hati, bukan bagi yang merasa dirinya raja di puncak menara. Hanya orang buta yang tidak menyadari, mengapa Untad begitu banyak pejabat yang meninggalkan. Jawabannya karena di sana penuh dengan kesombongan dan keangkuhan Raja di Menara Gading.

Tinggalkan Balasan