Juli 12, 2026

Karina Ranau Memaafkan Terduga Pelaku, Tapi Minta Proses Hukum Berlanjut

0

Karina Ranau Memaafkan Pelaku, Tapi Tetap Ingin Proses Hukum Berjalan

Karina Ranau, korban penganiayaan yang terjadi di warung milik mendiang Epy Kusnandar, disebut telah memaafkan pria yang diduga menjadi pelaku kekerasan tersebut. Meskipun demikian, ia tetap menginginkan proses hukum berjalan hingga tuntas. Kuasa hukum Karina, Hendro Widodo, menjelaskan bahwa kliennya hanya ingin pelaku mempertanggungjawabkan kesalahannya dan menjadi pelajaran bagi masyarakat.

“Ya terkait RJ (Restorative Justice), bahwa syarat-syarat RJ itu kan memang sudah diatur. Misalnya bukan tindak pidana pertama, terus yang kedua ada pemberian maaf, ada pemulihan hak korban,” ujar Hendro Widodo saat ditemui di Polsek Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026).

Ia menekankan bahwa keputusan untuk menggunakan Restorative Justice sepenuhnya diserahkan kepada Karina sebagai korban. Namun, meski secara pribadi telah memaafkan, Karina tetap berharap pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.

“Nah itu yang kami serahkan semuanya kepada klien. Namun klien kami secara manusia sudah memaafkan pelaku, namun secara proses hukum klien kami tetap meminta keadilan karena pemenuhan hak yang dimaksud klien kami adalah ketika pelaku ihukum mempertanggungjawabkan kesalahannya dan menjadi pelajaran bagi masyarakat Indonesia, kurang lebih seperti itu,” tambah Hendro.

Keluarga Pelaku Meminta Maaf, Tapi Karina Tetap Ingin Proses Hukum

Sebelumnya, Karina menjelaskan bahwa pihak keluarga pelaku sebenarnya sudah sempat mendatangi warungnya untuk meminta maaf dan meminta agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, Karina dengan tegas memilih untuk terus melanjutkan proses hukum.

Bagi Karina, ini bukan sekadar masalah pribadi, melainkan soal harga diri seorang perempuan dan pelajaran moral bagi laki-laki agar tidak bertindak kasar di ruang publik.

“Untuk damai rasanya terlalu cepat. Mereka bisa enggak menggantikan rasa sakitnya kedua orang tua saya? Saya ingin memberikan pelajaran saja, efek jera saja. Karena kemarin itu dari hasil BAP-nya masuk ke undang-undang kekerasan,” ungkapnya saat awal membuat laporan penganiaayaan.

Kini, Karina Ranau mengaku masih berusaha memulihkan kondisi mentalnya setelah insiden tersebut.

“Tadinya saya sempat mau ke psikolog cuman saya masih mengerem diri karena pada saat almarhum suami meninggal saya pernah ke psikolog juga untuk bangkit dan sembuh dan saya sudah sembuh. Saya menghindari untuk pergi ke psikolog itu tapi jika memang itu nantinya saya perlukan mungkin saya akan pergi ke sana,” ucap Karina.

Pengakuan Pelaku

Dalam kesempatan yang sama, Karina juga mengungkap informasi yang didengarnya mengenai pengakuan terduga pelaku. Menurut Karina, pelaku diduga mengira dirinya hanyalah pegawai yang bekerja di warung, bukan pemilik usaha tersebut.

“Yang saya dengar, tapi ini masih simpang siur, yang saya dengar katanya kata pelaku itu pada saat kejadian dia tidak tahu kalau saya itu owner-nya dia bilang dikiranya saya itu ibu-ibu yang kerja di warung itu yang jaga warung itu dia bilang gitu. Kiranya dia gak tahu saya owner-nya karena pada saat itu saya lagi nyapu, saya sambil nyapu di depan warung sambil beres-beres,” tutur Karina.

Kronologis Kejadian

Insiden di warung jukut milik mendiang Epy Kusnandar ini sebelumnya diceritakan kronologisnya oleh Karina Ranau. Tubuh Karina saat menceritakan ketegangan di warungnya seperti memperagakan posisi tubuhnya saat kejadian. Sesekali ia menggerakkan tangan untuk menggambarkan aktivitasnya di warung dan bagaimana situasi berubah dalam hitungan detik.

“Jadi kemarin itu hari Senin. Seperti biasa saya sedang beraktivitas di warung. Dari pagi saya sudah ada,” kata Karina Ranau di kawasan Pancoran Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026).

“Pokoknya setiap hari otak saya berpikir untuk warung ini,” ujar Karina dengan nada serius.

Menurut Karina, pria tersebut datang menjelang jam operasional warung. Saat itu terpal bagian depan masih tertutup dan para karyawan masih melakukan persiapan.

Menirukan cara bicara pria tersebut, Karina mengaku sudah merasa tidak nyaman sejak awal.

“Dia datang langsung buka ini,” katanya sambil menunjuk ke arah bagian depan warung.

“Langsung bilang, ‘Pesen dong! Ini nila berapa?’ gitu,” sambung Karina.

Situasi semakin memanas ketika persoalan parkir muncul. Karina menjelaskan area parkir warungnya terbatas sehingga ia berusaha menjaga agar kendaraan pelanggan tidak mengganggu usaha lain di sekitar lokasi. Sambil menunjuk ke sisi warung, Karina menjelaskan motor pria tersebut sejak awal diparkir di lokasi yang menurutnya kurang tepat.

Saat warung mulai dibuka, Karina yang sedang menyapu mencoba meminta pria itu memindahkan kendaraannya.

Karina bercerita dengan fasihnya, sambil memperagakan gerakan menyapu yang dilakukannya saat itu.

“Saya lagi nyapu. Saya bilang, ‘Pak, motornya bisa dipindahin dulu di sana ya Pak? Soalnya enggak enak’ gitu,” katanya.

Awalnya pria itu menjawab akan memindahkan motornya. Namun ketika Karina kembali meminta agar dilakukan saat itu juga, respons yang diterimanya justru berupa bentakan.

Dalam keadaan emosi, setelah itu, pria tersebut menghampirinya. Karina menggerakkan kedua tangannya untuk memperagakan bagaimana dirinya melepaskan sapu dan pengki yang sedang dipegang karena terkejut.

“Pada saat dia kencang, saya kan megang ini (sapu). Saya digituin (bentak) gimana sih, saya lepas ini, pengki sama sapunya saya lepas,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *