— Hiruk pikuk adat Ngarot di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, kembali menjadi perhatian publik. Di tengah prosesi adat yang sarat nilai budaya, keberadaan penjual kue tradisional atau yang kerap disebut kue jadul mencuri perhatian warga dan pengunjung.
Tradisi kuliner lawas ini masih bertahan dan hidup berdampingan dengan upacara adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Momen tersebut terlihat saat pelaksanaan pidangan adat Ngarot yang digelar di Pendopo Balai Adat Desa Lelea, Selasa malam 30 Desember 2025.
Sejak sore hingga malam hari, deretan pedagang kue tradisional tampak menggelar lapak sederhana di sekitar lokasi kegiatan. Aneka jajanan khas tempo dulu tersaji, menghadirkan nuansa nostalgia yang kian memperkaya suasana adat.
Berbagai jenis kue jadul seperti geplak, apem, cucur, wajik, awug, hingga rengginang menjadi buruan pengunjung. Tak sedikit warga yang mengaku sengaja datang lebih awal demi mendapatkan jajanan favorit mereka.
Kehadiran kue-kue tradisional ini seolah menjadi pelengkap wajib dalam setiap rangkaian adat Ngarot.
Salah seorang penjual kue tradisional mengungkapkan, dirinya telah puluhan tahun berjualan setiap perayaan Ngarot. Menurutnya, meski zaman terus berubah, minat masyarakat terhadap jajanan lawas masih terjaga.
“Setiap Ngarot selalu ramai. Dari dulu jualan kue seperti ini. Alhamdulillah masih banyak yang cari, dari anak-anak sampai orang tua,” ujarnya.
Ia menyebut, pembeli tidak hanya berasal dari Desa Lelea, tetapi juga dari luar daerah yang datang untuk menyaksikan tradisi Ngarot. Banyak di antara mereka membeli kue jadul sebagai oleh-oleh atau sekadar mengenang cita rasa masa kecil.
Kuwu Desa Lelea, Raidi, menilai keberadaan penjual kue jadul merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari adat Ngarot. Menurutnya, Ngarot bukan hanya ritual budaya, tetapi juga ruang tumbuh bagi ekonomi masyarakat kecil.
“Dari dulu memang selalu ada penjual kue tradisional setiap Ngarot. Ini bukan sekadar jualan, tapi sudah menjadi bagian dari tradisi. Secara tidak langsung, Ngarot menggerakkan ekonomi warga,” kata Raidi.
Hal senada disampaikan Camat Lelea Atang Suwandi. Ia menilai, pelestarian budaya harus sejalan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Tradisi Ngarot, menurutnya, mampu menjadi ruang kolaborasi antara nilai adat dan kesejahteraan rakyat.
“Budaya bukan hanya tontonan, tapi juga penghidupan. Penjual kue jadul ini contoh nyata bagaimana adat memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Kehadiran aparat pemerintah dan keamanan juga turut mewarnai jalannya kegiatan.
Danramil 1612/Lelea Kapten Arm Suhermanto bersama unsur Forkopimcam hadir memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib.
Ia mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus ketertiban wilayah.
“Selama kegiatan berlangsung, situasi aman dan kondusif. Masyarakat sangat antusias, termasuk para pelaku UMKM tradisional. Ini modal penting dalam menjaga harmoni sosial,” ungkapnya.
Sementara itu, Kapolsek Lelea AKP Heriyanto menambahkan, sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan aparat keamanan menjadi kunci sukses pelaksanaan adat Ngarot setiap tahunnya.
Adat Ngarot sendiri dikenal sebagai tradisi tahunan masyarakat Lelea yang sarat makna filosofis. Selain sebagai simbol kesiapan generasi muda menyongsong musim tanam, Ngarot juga menjadi ruang pelestarian budaya, sosial, dan ekonomi lokal.
Hingga prosesi pidangan adat berakhir, suasana di sekitar Balai Adat Desa Lelea tetap ramai dan penuh kehangatan. Deretan penjual kue jadul masih melayani pembeli yang datang silih berganti, menegaskan bahwa tradisi kuliner lawas masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Keberadaan kue jadul di tengah adat Ngarot Lelea menjadi bukti bahwa modernisasi tidak selalu menggerus budaya lokal. Justru, melalui tradisi seperti Ngarot, warisan leluhur—baik budaya maupun kuliner—masih dapat bertahan dan terus hidup di tengah masyarakat Indramayu.***







