Merayakan ibadah Natal merupakan momen yang ditunggu umat Kristiani di seluruh dunia. Saat di mana kita berkumpul dengan keluarga dan sanak kerabat, menikmati kebersamaan yang hikmat dan kudus.
Namun bagi Febrilia Silitonga, tahun ini suasananya berbeda. Ia dan suami merayakan Hari Raya Natal jauh dari tanah air.
“Kami biasanya ambil cuti setiap hari Natal. Tapi karena waktu libur yang pendek, tidak cukup untuk pergi ke Indonesia,” tutur Febri, panggilan akrabnya.
Febri datang ke Jepang tiga tahun yang lalu untuk mengikuti suami yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan Jepang di Yokohama. Tahun ini keduanya mengikuti perayaan dan ibadah Natal yang diadakan oleh KBRI Tokyo yang bekerja sama dengan Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia (KMKI).
“Waktu tinggal di Indonesia, ibadah Natal selalu dirayakan bersama keluarga besar. Dalam hati ada rasa sedih tanpa mereka. Tapi, bisa bersilaturahmi dengan perantau lain dari Indonesia benar-benar mengurangi kesedihan. Mereka seperti keluarga kedua kami di Jepang,” papar Febri. Baginya dan suami, Natal adalah tentang keluarga.
Apa yang dipaparkan Febri di atas hampir senada dengan tema Natal KBRI tahun 2025 ini, yaitu: Allah datang untuk menyelamatkan keluarga.
Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 27 Desember di Balai Indonesia (Komplek Sekolah Indonesia-Tokyo) itu dibuka dengan kata sambutan Romo Wil dari Gereja Katolik Matsubara, Tokyo.
Khotbah Natal tahun ini yang disampaikan dalam bahasa Indonesia membuat Febri dapat berefleksi akan pentingnya peran keluarga.
Ia lalu mengulang kembali apa telah disampaikan, “Keselamatan keluarga bisa terjadi, apabila setiap pribadi mau saling mengampuni. Namun, Tuhan memilih melakukan kolaborasi konkret dengan manusia.”
“Tuhan ingin manusia turut andil, membuka pintu hatinya untuk menerima setiap ketidaksempurnaan orang lain. Tuhan telah memberi teladan lewat meja perjamuan, dari sanalah lahir harapan dan pengampunan.”
“Sudahkah kita menjadikan meja makan sebagai tempat yang sakral, di mana setiap pribadi terkoneksi kembali? Mulailah dari hal sederhana, dari meja makan kita.”
Setelah khotbah, acara lalu disambung dengan penyalaan lilin. Upacara penyalaan lilin Natal dilakukan oleh Romo Galuh sebagai perwakilan dari Gereja Katolik Matsubara, oleh Pendeta Gereja Interdenominasi Injili Indonesia (GIII) Tokyo, Pendeta Gereja International Full Gospel Fellowship (IFGF), oleh ketua Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia (KMKI), ketua panitia Natal, serta Ibu Maria Renata Hutagalung sebagai perwakilan dari KBRI Tokyo.
Lebih lanjut Febri mengatakan, “Ibadah Natal tahun ini dipimpin oleh Gereja Katolik. Dan doa umat sebagai pengungkapan rasa syukur dan permohonan ditujukan untuk gereja-gereja di dunia, keluarga Kristen, umat Kristiani di Jepang, juga perdamaian dunia.”
Acara silaturahmi memberi warna Nusantara yang hangat dengan pertunjukan tradisional yang dibawakan oleh KMKI dan KBRI Tokyo. “Ada pertunjukan tari Bali dan musik angklung juga,” ujar Febri. “Sebelum diakhiri dengan persembahan dan doa penutup.”
Saat ditanya tentang peraturan khusus untuk mengikuti acara Natal di KBRI Tokyo, ia memaparkan, “Kami diminta untuk tidak membawa makanan atau minuman ke dalam ruang acara. Tapi panitia menyediakan snack Indonesia untuk dibawa pulang, kok. Juga, karena tidak ada tempat parkir, semua orang diminta untuk datang dengan transportasi umum.”
Informasi untuk mengikuti acara Natal mudah didapatkan. Febri menyampaikan, “Kami dapat info dari WhatsApp grup KMKI Jepang. Untuk yang tertarik ikut tahun depan bisa join grup ini.”
Selain ikut acara Natal di KBRI, Febri dan suami yang sekarang berdomisili di Yokohama itu ikut serta dalam perayaan ibadah Natal di Tokyo Union Church pada hari Kamis, 25 Desember 2025 pada pukul 11.00 siang.
Febri kemudian menuturkan bahwa ia mempunyai tradisi Natal baru yang dimulai sejak saat menetap di Jepang.
“Sekarang aku sering pergi ke Christmas market dan mengadakan open house di rumah. Senang bisa kumpul merayakan Natal dengan teman-teman di sini.”
Momen berharga
Momen paling mengharukan saat Natal di Jepang bagi Febri adalah dapat merayakan ibadah bersama suami tercinta pada tanggal 25 Desember.
“Hari Natal di Jepang bukan hari libur nasional. Di perusahaan Jepang biasanya orang-orang tetap bekerja. Jadi sangat bersyukur suami bisa ambil libur pada hari itu. Kami bisa beribadah tepat pada tanggal 25, pergi ke gereja dan bertukar kado dengan teman.”
“Bagi yang merayakan, kami ucapkan selamat Natal. Semoga membawa sukacita yang berlimpah, dan selamat Tahun Baru 2026,” ucap Febri sebagai kata penutup.
***
Terima kasih banyak kepada Febrilia Silitonga yang telah berbagi pengalaman.
Foto-foto: Febrilia Silitonga, May Wagiman.







