Isi Artikel
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kita merayakan pergantian tahun tepat pada tanggal 1 Januari?
Jika kita melihat kalender, sebenarnya tidak ada fenomena alam yang luar biasa mencolok pada tanggal tersebut.
Matahari tidak berada di titik balik tertentu bagi seluruh penduduk bumi, dan musim pun berbeda-beda di tiap belahan dunia.
Penetapan 1 Januari sebagai awal tahun ternyata bukan hasil dari hukum alam, melainkan produk panjang dari politik, agama, dan koreksi matematika selama ribuan tahun.
Berikut adalah sejarah panjang di balik penetapan 1 Januari sebagai awal tahun baru yang dirangkum dari berbagai sumber.
Awalnya tahun baru dirayakan pada tanggal berbeda-beda
Dalam catatan sejarah, perayaan tahun baru termasuk tradisi yang sangat tua dan tidak selalu mengikuti kalender yang dipakai sekarang.
Dikutip dari Britannica, rekaman paling awal tentang festival tahun baru berasal dari sekitar 2000 SM di Mesopotamia.
Ketika itu, Babylonia merayakan Akitu pada bulan baru setelah ekuinoks vernal (sekitar awal musim semi), sementara Assyria menandai tahun baru dekat ekuinoks musim gugur.
Bangsa lain juga punya patokan yang berbeda untuk awal tahun.
Orang Mesir dan Fenisia, misalnya, mengaitkan awal tahun dengan ekuinoks musim gugur, sementara Persia kuno memulainya pada ekuinoks vernal.
Perbedaan ini karena kalender yang dipakai tiap wilayah tidak sama. Ada yang berbasis matahari, bulan, bahkan gabungan keduanya.
Sistem kalender yang berbeda-beda ini membuat awal tahun dirayakan tidak serempak oleh seluruh dunia.
Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun
Penetapan 1 Januari sebagai awal tahun dilakukan oleh Julius Caesar.
Namun, sebelum itu terjadi, sebenarnya bangsa Romawi Kuno merayakan tahun baru pada 1 Maret.
Dulunya, kalender Romawi Kuno hanya terdiri dari 10 bulan yang dimulai pada bulan Maret hingga Desember.
Hal ini menjelaskan mengapa bulan September (dari kata septem atau tujuh) dan Desember (dari kata decem atau sepuluh) berada di urutan ke-9 dan ke-12 sekarang.
Raja Romawi kedua, Numa Pompilius, kemudian menambahkan bulan Januari (Ianuarius) dan Februari (Februarius) untuk melengkapi kalender agar sesuai dengan siklus bulan.
Namun, penetapan 1 Januari sebagai awal tahun secara resmi baru terjadi berabad-abad kemudian.
Tonggak besar berikutnya terjadi ketika Julius Caesar melakukan reformasi kalender.
Pada 46 SM, Julius Caesar memperkenalkan perubahan besar yang kemudian dikenal sebagai kalender Julian.
Dalam kalender Julian, Caesar merombak kalender Romawi yang sebelumnya sering tidak selaras dengan musim.
Ia lalu menetapkan sistem yang menghitung tahun menjadi 365 seperempat hari serta menambahkan satu hari ekstra secara berkala.
Kalender ini kemudian menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun.
Pemilihan Januari sebagai awal tahun karena Janus, dewa yang menginspirasi bulan ini, digambarkan memiliki dua wajah yang menatap ke masa lalu dan masa depan.
Makna filosofis ini kemudian dianggap sangat cocok untuk menandai sebuah awal yang baru.
Dilansir dari History.com, pada 45 SM, tahun baru dirayakan pada 1 Januari untuk pertama kalinya ketika kalender Julian mulai berlaku.
Seiring meluasnya pengaruh Romawi, penggunaan kalender Julian ikut menyebar.
Tahun baru 1 Januari sempat dilarang pada Abad Pertengahan
Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi dan menyebarnya pengaruh Kristen di Eropa, penggunaan 1 Januari sebagai awal tahun sempat dihentikan.
Para pemimpin gereja pada Abad Pertengahan menganggap perayaan 1 Januari terlalu kental dengan nuansa pagan (penyembahan berhala).
Mengutip On This Day, selama periode ini, banyak negara Eropa mengalihkan perayaan tahun baru ke tanggal-tanggal yang memiliki signifikansi religius, seperti 25 Maret (Hari Raya Kabar Sukacita) atau 25 Desember (Natal).
Selama berabad-abad, Eropa tidak memiliki keseragaman mengenai kapan tahun baru dimulai.
Lahirnya kalender Gregorian
Kekacauan administrasi akibat perbedaan tanggal tahun baru berakhir ketika Paus Gregorius XIII memperkenalkan Kalender Gregorian pada tahun 1582.
Masalah utama pada Kalender Julian adalah perhitungannya yang sedikit meleset mengenai panjang satu tahun surya, yang menyebabkan kalender “tertinggal” sekitar 10 hari pada abad ke-16.
Untuk memperbaiki ini, Paus Gregorius XIII tidak hanya memangkas kelebihan hari tersebut, tetapi juga menetapkan kembali 1 Januari sebagai awal tahun secara universal bagi negara-negara Katolik.
Meski kalender Gregorian diproklamasikan pada 1582, penerimaannya tidak langsung seragam.
Italia, Prancis, dan Spanyol termasuk dalam negara yang paling awal menerima kalender baru ini.
Tapi, negara-negara Protestan dan Ortodoks awalnya menolak perubahan ini.
Inggris dan koloninya (termasuk Amerika Serikat) baru mulai merayakan tahun baru pada 1 Januari pada tahun 1752 setelah diberlakukannya Calendar (New Style) Act 1750-an.
Pada akhirnya, karena kalender Gregorian menjadi kalender sipil yang dipakai luas, 1 Januari ikut terkunci sebagai patokan awal tahun di banyak negara.
Penerimaan 1 Januari sebagai awal tahun di Indonesia
Adopsi 1 Januari di Indonesia tidak lepas dari sejarah kolonialisme.
Sebagai negara yang pernah dikuasai oleh bangsa Eropa, terutama Belanda, Indonesia mengikuti standar Kalender Gregorian yang sudah menjadi standar internasional untuk urusan sipil dan administrasi.
Meski demikian, masyarakat Indonesia yang plural tetap mempertahankan kalender berbasis budaya dan agama lainnya, seperti Tahun Baru Hijriah bagi umat Islam atau Tahun Baru Saka bagi umat Hindu di Bali, yang masing-masing memiliki perhitungan astronomis sendiri.







