– Langkah kaki ribuan jamaah mulai memenuhi teras marmer dingin Masjid Istiqlal menjelang adzan magrib terdengar. Tidak ada kegaduhan yang mengganggu, hanya barisan rapi jamaah yang duduk bersila, menantikan momen suci berbuka puasa di bawah kubah raksasa dengan diameter 45 meter itu.
Masjid Nasional yang menjadi kebanggaan Indonesia kembali tampil menarik menyambut bulan Ramadan tahun 1447 Hijriah. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, Istiqlal berubah menjadi surga spiritual yang menawarkan pengalaman berbuka puasa yang luar biasa sekaligus indah, mirip dengan suasana di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.
Tradisi Berbuka Puasa dengan Ribuan Paket
Salah satu daya tarik utama Masjid Istiqlal adalah tradisi pemberian takjil dan makanan berat secara gratis. Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga menjabat sebagai Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa jumlah makanan yang dibagikan tahun ini sangat besar guna melayani jemaah yang datang dari berbagai daerah.
“Selain itu, di sini juga secara rutin kita lakukan buka puasa. Kegiatan buka puasa di Istiqlal ini, pada hari-hari akhir pekan seperti Jumat, Sabtu, dan Minggu, memberikan makanan nasi boks kepada antara 7.000 hingga 10.000 orang. Sedangkan pada hari biasa, jumlahnya sekitar 4.000 hingga 5.000 orang,” kata Nasaruddin Umar.
Pemandangan yang menarik akan terlihat sekitar pukul 16.00 WIB, ketika truk-truk pengangkut makanan mulai mendekat. Petugas dengan cepat membagikan kotak nasi kepada jemaah yang sudah berbaris rapi. Mendekati Idulfitri, antrian bahkan meluas hingga ke area luar masjid karena meningkatnya jumlah jemaah yang ingin meraih keberkahan pada sepuluh malam terakhir.
Lantunan Qari Internasional dan Penyelesaian Pembacaan 30 Juz Selama Shalat Tarawih
Bagi yang menginginkan kualitas ibadah yang tinggi, Istiqlal menyediakan “menu” spiritual yang mewah. Setiap malam sebelum shalat Tarawih, pendengaran jemaah akan disuguhkan dengan suara merdu para qari internasional yang bergantian hingga akhir bulan suci.
Tidak hanya itu, para penceramah yang diundang juga merupakan tokoh-tokoh terpilih, mulai dari ulama yang memiliki ilmu mendalam hingga tokoh masyarakat yang religius. Namun, daya tarik utamanya tetap berada pada konsistensi shalat Tarawih yang menyelesaikan 30 juz Al-Quran selama sebulan penuh.
“Nah ini tradisi kami di Masjid Istiqlal, shalat Tarawihnya membaca 30 juz hingga akhir Ramadan,” katanya.
Namun, Nasaruddin memastikan bahwa membaca ayat suci Al Quran tidak akan terlalu lama meskipun dalam rangka menyelesaikan bacaan quran. Hal ini dilakukan agar jemaah tidak terlalu lama berdiri dan tetap dapat beribadah dengan khusyuk.
“Tetapi begitu, di satu halaman dibagi menjadi tiga bagian, jadi tidak terlalu lama berdiri. Kami memilih imam-imam yang terpilih, qari-qari internasional yang mampu menjadi imam di sini. Muazinnya juga dipilih dengan sangat ketat,” jelasnya.
Iktikaf yang Lebih Padat Daripada Tarawih: Fenomena “Lantai 5”
Berbeda dengan kebanyakan masjid yang mulai sepi menjelang akhir Ramadan, Masjid Istiqlal justru semakin ramai. Nasaruddin mengatakan keadaan ini mirip dengan situasi di Makkah dan Madinah. Di malam-malam ganjil, jemaah memadati setiap sudut hingga lantai kelima untuk beriktikaf.
Momen menyentuh sering terlihat pada malam hari. Jemaah membawa makanan sahur dari rumah, menyantapnya bersama di bawah bangunan karya arsitek Friedrich Silaban, kemudian melanjutkan ibadah dengan salat lail dan meditasi hingga tiba waktu Subuh.
Iktikaf terjadi di sepuluh hari terakhir Ramadan. Pengalaman di Masjid Istiqlal, justru iktikaf lebih ramai dibandingkan sholat Tarawih. Bahkan pada malam-malam ganjil, penuh hingga lantai lima. Mereka, kita bisa melihat bagaimana mereka bisa berbuka bersama, membawa makanan dari rumahnya, sambil duduk di bawah pohon mereka berbuka.
Fasilitas yang modern dan ramah bagi penyandang disabilitas
Pada tahun ini, Istiqlal juga meningkatkan kenyamanan jemaah melalui penggunaan teknologi dan fasilitas yang lebih baik. Layar LCD besar kini dipasang di sisi kanan dan kiri masjid agar jemaah yang berada di baris paling belakang tetap dapat melihat wajah penceramah dengan jelas.
Selain peningkatan kebersihan toilet, aspek inklusivitas menjadi fokus utama. Masjid yang mampu menampung 250.000 jemaah ini menyediakan fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas, mulai dari lift, toilet, hingga area saf paling depan yang dirancang agar mereka tidak perlu berdesak-desakan.
Sebagai lambang kemerdekaan dan kerukunan, Masjid Istiqlal yang berdiri berdampingan dengan Gereja Katedral tetap menjadi simbol spiritualitas. Pada Ramadan 1447 H ini, Istiqlal menunjukkan bahwa keindahan arsitektur modern dapat bekerja sama secara sempurna dengan kehangatan tradisi ibadah yang memperhatikan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan