Karyawan Korea Selatan Bekerja 501 Jam Lebih Banyak daripada Jerman
Karyawan Korea Selatan Masih Bekerja Lebih Lama Dibanding Negara Maju
Data terbaru dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa pekerja di Korea Selatan masih menghabiskan waktu bekerja jauh lebih lama dibandingkan sebagian besar negara maju lainnya. Rata-rata jam kerja mereka mencapai 1.833 jam dalam setahun, yang membuat Korea Selatan berada di peringkat keenam negara dengan jam kerja tahunan terpanjang di antara negara-negara anggota OECD.
Jam Kerja di Korea Selatan Berada di Atas Rata-Rata OECD
Dibandingkan rata-rata jam kerja seluruh anggota OECD yang berada di angka 1.736 jam per tahun, pekerja Korea Selatan masih bekerja sekitar 97 jam lebih lama. Angka ini dihitung berdasarkan total jam kerja yang benar-benar dilakukan pekerja selama satu tahun, kemudian dibagi dengan rata-rata jumlah orang yang bekerja pada periode tersebut.
Meski angka ini tergolong tinggi, Korea Selatan bukanlah negara dengan jam kerja terpanjang. Posisi pertama masih ditempati Meksiko dengan rata-rata 2.205 jam per tahun, diikuti oleh Kosta Rika, Chile, Yunani, dan Israel. Data ini menunjukkan bahwa budaya kerja dengan jam panjang masih ditemukan di sejumlah negara, meskipun tren global mulai mengarah pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Perbedaan dengan Jerman Setara dengan 63 Hari Kerja
Perbedaan paling mencolok terlihat ketika Korea Selatan dibandingkan dengan Jerman. Rata-rata pekerja di Jerman hanya bekerja sekitar 1.332 jam dalam setahun. Artinya, pekerja Korea Selatan menghabiskan waktu bekerja 501 jam lebih lama setiap tahunnya. Jika dihitung menggunakan standar delapan jam kerja per hari, selisih tersebut setara dengan sekitar 63 hari kerja tambahan dalam satu tahun.
Bayangkan saja, ketika banyak pekerja di Jerman memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau menjalankan hobi, pekerja Korea Selatan masih harus menghabiskan waktu di tempat kerja. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kebijakan ketenagakerjaan dan budaya kerja memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup masyarakat di masing-masing negara.
Jam Kerja Korea Selatan Masih Tinggi Dibanding Negara Maju Lainnya
Bukan hanya dibandingkan dengan Jerman, jam kerja Korea Selatan juga masih lebih panjang daripada sejumlah negara maju lainnya. Rata-rata pekerja di Amerika Serikat bekerja sekitar 1.800 jam per tahun, Australia 1.633 jam, Jepang 1.598 jam, dan Inggris 1.533 jam. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Korea Selatan masih berada di atas sebagian besar negara maju dalam hal total jam kerja tahunan.
Kondisi tersebut membuat isu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance masih menjadi perhatian besar. Jam kerja yang panjang berpotensi mengurangi waktu untuk beristirahat, menghabiskan waktu bersama keluarga, maupun melakukan aktivitas di luar pekerjaan. Karena itulah pemerintah Korea Selatan terus berupaya mencari keseimbangan agar produktivitas tetap terjaga tanpa membuat pekerja harus mengorbankan waktu pribadinya.
Penurunan Jam Kerja Berkat Kebijakan Pemerintah
Walaupun masih tergolong tinggi, rata-rata jam kerja di Korea Selatan sebenarnya terus mengalami penurunan selama lebih dari satu dekade terakhir. Pada 2010, rata-rata jam kerja tahunan masih mencapai 2.163 jam. Angka tersebut kemudian turun menjadi 2.082 jam pada 2015 dan akhirnya berada di bawah 2.000 jam untuk pertama kalinya pada 2018 setelah diberlakukannya pembatasan maksimal 52 jam kerja per minggu.
Berdasarkan data terbaru, rata-rata jam kerja pada tahun lalu turun menjadi 1.833 jam atau 32 jam lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.865 jam. Menurut laporan Yonhap News, penurunan ini menunjukkan bahwa berbagai kebijakan pemerintah mulai memberikan dampak nyata, termasuk penerapan sistem lima hari kerja dan perluasan hari libur pengganti.
Target Pemerintah untuk Menurunkan Jam Kerja
Pemerintah Korea Selatan memiliki target untuk menurunkan rata-rata jam kerja tahunan ke kisaran 1.700 jam pada tahun 2030 agar lebih mendekati rata-rata negara-negara OECD. Salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah penerapan sistem kerja 4,5 hari dalam seminggu. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan waktu istirahat yang lebih banyak tanpa mengurangi daya saing ekonomi negara.
Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan pedoman untuk mencegah penyalahgunaan sistem kontrak upah yang berpotensi membuat lembur tidak dibayar. Di sisi lain, pemerintah turut mendorong pembahasan aturan yang dikenal sebagai No KakaoTalk After Work, yaitu kebijakan untuk mengurangi pengiriman pesan pekerjaan setelah jam kantor berakhir. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pekerja benar-benar menikmati waktu istirahat dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi.





