Guci: Destinasi Wisata yang Menyimpan Nilai Budaya dan Spiritual
Objek wisata Guci, yang terletak di kaki Gunung Slamet, tidak hanya menjadi tempat liburan yang menarik bagi para pengunjung. Namun, ia juga memiliki makna yang lebih dalam sebagai kawasan sakral yang menyimpan nilai budaya dan spiritual yang tinggi. Pandangan ini disampaikan oleh W. Winarno, seorang pemuda pegiat budaya Tegal, yang menekankan pentingnya menjaga Guci dengan pendekatan kebudayaan, bukan hanya pembangunan fisik.
“Guci itu tidak bisa dilihat hanya sebagai tempat wisata. Ia bagian dari wilayah sakral kaki Gunung Slamet yang sejak lama memiliki muatan spiritual dan kebudayaan yang sangat kuat,” ujar Winarno kepada Kabar Tegal, Kamis, 25 Desember 2025.
Menurutnya, secara historis dan spiritual, kawasan Guci tidak terlepas dari kebudayaan tua yang berkembang di wilayah Tegal dan sekitarnya. Termasuk pengaruh Galuh Purba yang telah ada jauh sebelum abad ke-7. “Kalau kita bicara kebudayaan Tegal, itu tidak lepas dari Galuh Purba. Bahkan dalam catatan tertulis yang didokumentasikan pada tahun 1800 oleh Bupati Condronegoro, dijelaskan tentang kebudayaan asli Nuswantoro yang pusat spiritualnya berada di Tanah Jawa, salah satunya Gunung Slamet,” katanya.
Winarno, yang juga penulis buku Catatan Kekerabatan Aceh-Tegal, menjelaskan bahwa dalam catatan tersebut terdapat keyakinan tentang tiga sosok yang dimuliakan, yakni Sang Hyang Batara Windu Buana, Sang Hyang Nogo, dan Sang Hyang Guring Buntutan. Ketiga sosok ini menjadi simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
“Dalam naskah itu disebutkan bahwa Sang Hyang Nogo merupakan energi besar yang menjaga dan melindungi punjering Tanah Jawa, yaitu Gunung Slamet. Guci yang berada di kaki gunung ini otomatis berada dalam lingkaran energi dan nilai sakral tersebut,” ujarnya.
Ia menuturkan, legenda Sang Hyang Nogo juga menjadi pengingat agar manusia tidak bersikap serakah terhadap alam. Kisah tersebut menggambarkan bahwa eksploitasi berlebihan terhadap Gunung Slamet akan membawa dampak buruk.
“Dalam cerita itu digambarkan dengan jelas bahwa ketika ada sifat serakah dan angkara murka yang ingin memanfaatkan kekuatan alam, maka alam akan bereaksi. Itu pesan moral yang relevan sampai hari ini, termasuk dalam pengelolaan kawasan Guci,” katanya.
Winarno menilai, berbagai persoalan lingkungan yang muncul di sekitar Guci tidak bisa dilepaskan dari menurunnya penghormatan terhadap nilai-nilai alam dan spiritual. “Kalau dilihat dari sisi spiritual, sudah waktunya manusia melakukan resik-resik. Netralisasi itu penting, mulai dari hutan, aliran sungai, sampai tata kelola lingkungannya, karena itu sumber kehidupan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pemanfaatan potensi Guci tetap boleh dilakukan, namun harus berlandaskan aturan dan etika yang selaras dengan alam. “Bukan tidak boleh dimanfaatkan, tapi harus ada aturan yang benar. Jangan sampai hanya mengejar keuntungan, sementara keseimbangan alam dan nilai budaya diabaikan,” katanya.
Terkait simbol dan ornamen di kawasan Guci, Winarno menyebut tidak semua simbol layak ditampilkan. “Kalau kami yang memahami sisi spiritual, simbol yang pantas dimunculkan di Guci itu hanya simbol Guci itu sendiri dan simbol naga. Simbol lain yang tidak sesuai secara spiritual memang tidak seharusnya dimunculkan,” ucapnya.
Ia juga menyinggung tradisi Ruat Bumi yang hingga kini masih dilakukan masyarakat sekitar Guci, khususnya di Dukuh Pekandangan, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan alam. “Ruat Bumi itu bukan sekadar tradisi, tapi bentuk penghormatan kepada Bagawan Kures atau Sang Hyang Guring Buntutan. Dalam catatan Condronegoro tahun 1800, sosok ini termasuk yang dimuliakan dengan simbol kambing,” jelasnya.
Winarno berharap pemerintah daerah lebih berhati-hati dalam menata dan mengembangkan kawasan Guci agar tidak mengabaikan nilai-nilai yang telah hidup turun-temurun. “Pemerintah daerah jangan hanya fokus membangun. Guci di kaki Gunung Slamet itu sakral. Pendekatannya harus kebudayaan dan spiritual, jangan sampai dibangun dengan cara yang keliru atau bernilai negatif,” pungkasnya.







