Naik Gunung Bersama Anak: Tentang Janji, Resiko, dan Keberanian untuk Hadir

Gunung Manglayang mungkin bukan pendakian panjang, tetapi bagi pendaki pemula, terutama anak-anak, jalurnya cukup menguji.

Minggu malam, 28 Desember 2025, pukul 20.16 WIB.

Baru pada pukul inilah saya benar-benar punya ruang untuk menuliskan kisah hari ini, kisah yang sejak pagi berputar di kepala, tentang janji kecil yang ternyata membawa pelajaran besar.

Pagi tadi, sekitar setengah delapan, anak saya menagih janji: naik Gunung Manglayang.

Saya sempat mencoba mengalihkan dengan kalimat singkat, “Terserah A’a.” Bukan karena tak mau, melainkan karena saya tahu betul cuaca akhir tahun sering kali tak bisa diajak berkompromi.

Seperti dugaan, suara-suara kehati-hatian datang dari mana-mana. Paman, nenek, hingga ibunya sendiri menyarankan agar “naik gunung” cukup sampai Situs Batu Kuda di Kampung Cikoneng, Cibiru, Bandung. Aksesnya mudah, bisa ditempuh kendaraan, dan relatif aman untuk anak-anak.

Masalahnya, bagi anak saya, naik gunung bukan sekadar soal sampai di suatu tempat. Ini tentang ayah yang menepati janji, menaklukkan rasa penasaran, dan membuktikan keberanian diri.

Di sinilah saya berada di persimpangan yang sering dialami banyak orang tua:

menjaga keselamatan anak, atau memberi ruang bagi pertumbuhan mentalnya.

Kami akhirnya sampai di Situs Batu Kuda, Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung Barat. 

Konon sejarahnya, pada jaman kerajaan dahulu, seekor kuda tunggangan Prabu Layang Kusuma dan Prameswarinya, terperosok ke dalam lumpur dan berubah menjadi batu.

Setelah berfoto dan beristirahat sejenak, anak saya mendekat dan berbisik,

“Yah, kita naik saja sampai puncak, ya?”

Saya terdiam cukup lama.

Ia mengusulkan agar kami naik berdua saja. Sepupu-sepupunya menunggu di bawah bersama orang tuanya.

Di titik itu, dilema saya benar-benar mengeras.

Di satu sisi, ini kesempatan emas demi kebersamaan intens dengan anak saya, tanpa gawai, tanpa distraksi.

Di sisi lain, cuaca yang tak menentu, kondisi fisiknya yang belum terbiasa mendaki, serta persiapan yang jauh dari ideal membuat kekhawatiran terus menekan.

Namun ada satu hal yang menahan saya untuk tidak langsung menolak: pengalaman saya sebagai pembina SISPALA. Pengalaman itu mengajarkan bahwa risiko bukan untuk dihindari sepenuhnya, melainkan dikenali, diukur, dan dikelola.

Akhirnya saya mengiyakan.

Kami mulai mendaki dengan perbekalan seadanya. Hingga Pos 1, medan masih bersahabat. Setelah itu, jalur berubah: lebih curam dan licin. Saya meminta anak saya menyesuaikan langkah, mengatur napas, dan tidak memaksakan diri. Ia terlalu bersemangat, tapi mau mendengar. Bagi saya, itu pertanda penting: ia belajar percaya dan bekerja sama.

Menuju Pos 2 dan Pos 3, medan semakin berat. Hingga akhirnya kami tiba di puncak. Tidak lama, cukup untuk duduk, berfoto, dan merasakan lega. Lalu kami memutuskan turun, saya tidak ingin hujan datang lebih dulu.

Sayangnya, hujan tetap turun saat kami melewati Pos 1. Jalur menjadi licin, langkah melambat, dan tenaga terkuras. Pegal dan keram kecil karena dingin tak terhindarkan. Namun kami terus turun bersama, saling mengingatkan, saling menunggu.

Kami tiba kembali di Situs Batu Kuda dengan tubuh basah, tetapi hati utuh.

Selamat. Sehat.

Di rumah, mandi air hangat dan makan bersama terasa seperti penutup yang sempurna.

Ada satu hal yang paling saya syukuri hari itu:

kedekatan yang lahir bukan dari ceramah panjang, melainkan dari kebersamaan yang nyata. Dari langkah yang disesuaikan, napas yang ditunggu, dan kepercayaan yang dibangun di jalur licin.

Mungkin itulah makna hadir sebagai orang tua, berani menemani anak saat ia belajar mengenali batas dirinya.

Selanjutnya jujur saja, semakin beranjak dewasa semakin jarang rasanya anak seusianya masih mau naik gunung bersama ayahnya.

Bagi saya, itulah puncak yang sesungguhnya.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *