– Perusahaan dagang Belanda Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) kerap diajak atau dimintai campur tangan dalam berbagai urusan politik kerajaan di Nusantara.
Hal tersebut disampaikan sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana. VOC sendiri didirikan pada Maret 1602 dan dibekali hak istimewa bernama oktroi.
Hak ini memungkinkan VOC memiliki angkatan bersenjata, berperang, membuat perjanjian politik, hingga menguasai wilayah.
“Kehadiran VOC di Nusantara sebenarnya bertujuan untuk berdagang dan tidak memiliki kebijakan teritorial yang jelas,” ujar Sri saat berbincang dengan , Selasa (23/12/2025).
Namun, kata dia, VOC pada akhirnya bisa menguasai wilayah yang luas karena ikut campur dalam konflik politik kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Alasan VOC ikut campur urusan kerajaan Nusantara
Sri Margana menjelaskan, konflik internal sebenarnya sudah lama terjadi di berbagai kerajaan Nusantara, terutama terkait perebutan tahta dan pemberontakan.
Dalam situasi seperti itu, salah satu pihak yang berseteru kerap mencari dukungan VOC.
“Dalam konflik suksesi, biasanya ada pihak yang meminta VOC menjadi sekutu. Begitu pula dalam pemberontakan, VOC sering dimintai bantuan,” jelasnya.
Sebagai imbalan atas bantuan tersebut, VOC memperoleh konsesi wilayah. Dari sinilah VOC bisa memonopoli perdagangan dan menerapkan kebijakan ekonomi sesuai kepentingannya.
Sri menyebut fenomena ini sebagai invited colonialism atau kolonialisme yang “diundang” oleh elite pribumi.
“VOC membantu dengan perjanjian-perjanjian yang isinya biasanya penguasaan wilayah tertentu. Wilayah yang disasar umumnya pesisir dan pelabuhan-pelabuhan penting,” ungkap Sri.
Contoh campur tangan VOC
Salah satu contoh campur tangan VOC terjadi saat pemberontakan Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar pada 1680-an.
Sultan Haji memberontak atau berkhianat kepada ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa yang saat itu menjadi raja Kesultanan Banten.
“Banten itu ya Sultan Haji itu yang Sultan Haji. Sultan Haji memberontak melawan ayahnya itu. Dia mengajak kerja sama VOC. Akhirnya VOC memperoleh kebijakan di Banten,” kata Sri.
“VOC mendapatkan wilayah konsesi, bisa membangun gudang-gudang perdagangan. Kan Banten pusat perdagangan lada,” imbuhnya.
Sultan Haji pun berkuasa. Namun pemerintahannya juga menandai awal keruntuhan Kesultanan Banten.
Kemudian, VOC juga ikut campur tangan terhadap permasalahan Kesultanan Gowa-Tallo yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin.
Perusahaan dagang Belanda itu diajak bersekutu dengan Arung Palakka pada 1667-an yang ingin memerdekakan kerajaannya dari Gowa-Tallo.
Konflik tersebut akhirnya dimenangkan oleh Arung Palakka bersama VOC dan Sultan Hasanuddin menyerah melalui Perjanjian Bongaya pada 1669.
“VOC mulai punya kebijakan di Sulawesi Selatan, terus membangun Benteng Rotterdam,” tutur Sri.
Sejak saat itu, perusahaan dagang Belanda tersebut juga mulai membangun kekuatan di Makassar atau Ujung Pandang.
Campur tangan VOC juga tercatat pada konflik Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin Amangkurat I dan diteruskan Amangkurat II .
VOC diajak bekerja sama oleh Amangkurat II untuk membebaskan wilayahnya yang dikuasai Trunojoyo.
“Waktu Amangkurat I mendapat serangan Trunojoyo, kemudian melarikan diri ke Tegal. Hingga di sana, dilanjutkan anaknya Amangkurat II. Dia akan dibantu VOC. Jadi Amangkurat II dibantu VOC melawan Trunojoyo,” ucap Sri.
Bahkan Amangkurat II dinobatkan menjadi raja Mataram Islam di atas kapal milik VOC, menggantikan ayahnya.
Pada akhirnya, perlawanan Trunojoyo berhasil dipadamkan oleh Mataram Islam dan VOC pada Desember 1679.
“Lalu sebagai gantinya dia memberi konsesi pesisir utara Jawa dari Semarang ke Jepara VOC,” terang Sri.
Tak sampai di situ, VOC kembali ikut mengambil peran dalam Kerajaan Mataram Islam era kepemimpinan Pakubuwono II.
Pada masa pemerintahan Pakubuwono II, terjadi kerusuhan etnis Tionghoa di Batavia yang diakibatkan oleh kebijakan eksploitatif VOC.
“Ketika Keraton Mataram di Kartasura, itu kan ada Geger Pecinan,” ujar Sri.
Saat itu, Pakubuwono II diketahui telah bersekutu dengan VOC. Hal tersebut membuat etnis Tionghoa dan masyarakat Mataram merasa kecewa.
Pemberontakan pun terjadi dengan menyerbu Keraton Kartasura dan berhasil menguasainya pada Juni 1742.
Akibatnya, Pakubuwono II bersama keluarganya terpaksa melarikan diri ke Ponorogo dengan didampingi oleh VOC.
Pemberontakan itu kemudian dapat dipadamkan VOC dan Pakubuwono II kembali ke Kartasura pada November 1742.
“Sebagai gantinya, pesisir utara Jawa dari Jepara ke ujung Timur Jawa diserahkan ke VOC,” jelas Sri.
Namun akibat pemberontakan, Keraton Kartasura mengalami kerusakan. Sehingga Pakubuwono memindahkan istananya ke Desa Sala.







