Mantan Biarawati Mengungkap Kebenaran di Balik Mitos Agama Kristen
Seorang mantan biarawati yang kini memeluk agama Islam, Hj. Irene Handono, pernah membuka tabir kebohongan yang tersembunyi dalam ajaran agama Kristen. Pengalamannya sebagai biarawati sejak kecil memberinya wawasan mendalam tentang struktur dan dogma gereja. Namun, ketika ia mulai mengeksplorasi agama lain, khususnya Islam, ia menemukan kontradiksi yang membuatnya berpikir ulang.
Dalam sebuah ceramahnya yang diabadikan dalam VCD, Hj. Irene menjelaskan bahwa saat ia masih menjadi biarawati, ia diajarkan oleh pastor untuk membenci agama Islam. Menurut pengakuannya, pastor tersebut mengatakan bahwa “Islam itu agama buruk” karena banyak koruptor, preman, dan orang miskin di Indonesia yang merupakan umat Islam. Namun, ia tidak langsung menerima pendapat tersebut. Ia membandingkan kondisi umat Kristiani di berbagai negara seperti Meksiko, Irlandia, Filipina, dan Italia, yang juga memiliki masalah serupa seperti kemiskinan, kriminalitas, dan mafia. Dari sana, ia menyimpulkan bahwa tidak adil untuk menilai suatu agama hanya dari keadaan umatnya.
Ia lalu memutuskan untuk mempelajari Islam secara langsung dari sumbernya, yaitu Al-Qur’an. Setelah membaca Surah Al-Ikhlas, ia merasa tersentuh dan memulai diskusi dengan pastor. Dalam percakapan tersebut, ia bertanya tentang hakikat ketuhanan. Pastor menjelaskan dengan menggunakan segitiga sama sisi, yang melambangkan ketuhanan Trinitas (Allah, Roh Kudus, Yesus). Namun, Hj. Irene menggambarkan bujur sangkar dan bertanya apakah Tuhan bisa berkembang seperti itu. Pertanyaan ini mencerminkan keraguan terhadap konsep Trinitas yang diajarkan dalam agama Kristen.
Selain itu, ia juga menantang konsep Yesus sebagai Tuhan. Dengan logika sederhana, ia menanyakan siapa yang menciptakan meja kayu. Jawaban pastur adalah tukang kayu, dan ia menegaskan bahwa meja kayu tidak akan pernah menjadi tukang kayu. Dengan demikian, ia menyimpulkan bahwa Yesus, sebagai manusia, tidak mungkin menjadi pencipta manusia alias Tuhan.
Pengalaman hidupnya sebagai biarawati juga membuatnya menyadari bahwa agama Kristen memiliki strategi tertentu untuk menarik penganut baru. Misalnya, gereja sering mengucapkan selamat Idul Fitri agar orang Muslim merasa sungkan untuk tidak membalas dengan ucapan selamat Natal. Taktik ini digunakan untuk memperluas pengaruh agama Kristen di tengah masyarakat Muslim.
Hj. Irene juga mengungkapkan bahwa gereja memiliki proyek-proyek kristenisasi yang terstruktur. Contohnya, program Jericho yang bertujuan mengkristenkan Jawa, serta Joseph 2004 yang ingin menjadikan orang Kristen sebagai presiden atau minimal pemimpin yang berpikiran sekuler. Ia menyoroti pentingnya mempelajari Islamologi untuk menghadapi ancaman ini. Dalam pandangannya, umat Islam harus lebih aktif dalam menyebarluaskan kebenaran agama mereka, bukan hanya melalui ibadah tetapi juga melalui pendidikan dan kesadaran sosial.
[IMAGE: Mantan Biarawati Mengungkap Kebenaran di Balik Mitos Agama Kristen]
Pengalaman Hj. Irene Handono menjadi bukti bahwa tidak semua ajaran agama Kristen dapat diterima begitu saja. Ada kebohongan yang tersembunyi di balik mitos-mitos yang sering dianggap benar. Dengan pengetahuan dan kesadaran yang cukup, setiap individu dapat membedakan antara kebenaran dan kebohongan dalam agama. Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang jelas dan terbuka, serta mengajarkan toleransi dan keadilan. Dengan demikian, kebenaran agama tidak boleh ditutupi oleh prasangka atau keyakinan yang salah.

