Kisah pemuda Sulawesi di Bukit Karang Pangandaran terungkap melalui jejak sepatu boots

Kejadian Mencurigakan di Desa Madasari

Di Dusun/Desa Madasari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, terjadi kejadian yang mengejutkan. Seorang pemuda yang tinggal sendirian di perbukitan karang Ki Brewoh berhasil diamankan oleh warga setempat. Pemuda bernama Anzahyar Laadjim atau Anca (26) ini mengaku berasal dari Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, sebuah daerah yang jauh dari lokasi kejadian.

Anca telah tinggal di perbukitan karang selama satu tahun tanpa membawa peralatan apa pun. Tempat tinggalnya jauh dari perkampungan dan sangat terpencil. Kejadian ini dimulai dari sering hilangnya makanan di sebuah warung milik Noto Nugroho, warga setempat. Noto sering kehilangan nasi, telur, dan makanan lainnya. Menurut Kepala Dusun Madasari, Kusmawan, kejadian ini sudah berlangsung lama, hingga akhirnya Noto memutuskan untuk mengambil tindakan.

Pengintaian Warga dan Penemuan Jejak

Warung Noto tidak memiliki kunci dan pintu, sehingga mudah diakses. Meskipun jumlah makanan yang hilang tidak banyak, seperti ayam goreng satu potong, beras satu cangkir, dan telur dua biji, Noto mulai merasa kesal. Ia kemudian mengumpulkan para pemuda untuk mengintip pelaku pencuri makanan tersebut.

Noto bahkan memasang kamera pengintai untuk mendapatkan bukti. Hasil pengintaian warga menunjukkan adanya jejak sepatu boots yang diduga digunakan oleh pelaku. Kusmawan menjelaskan bahwa pelaku memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu menggunakan sepatu boots dan berbadan kecil. Sebanyak 20 pemuda kemudian berkumpul untuk mencari pelaku.

Pada akhirnya, jejak sepatu boots ditemukan di pinggir pantai. Pelaku melarikan diri ke perkebunan, tetapi warga kembali menemukan jejak tersebut di pantai. Akhirnya, pada Minggu (7/12/2025) dini hari pukul 00.30 WIB, seorang warga bernama Jojo menemukan pemuda tersebut sedang bersembunyi di sela-sela tenda di pinggir pantai.

Penangkapan dan Perilaku Anca

Setelah ditangkap, Anca tidak banyak berbicara. Ia tidak mengerti bahasa Sunda yang digunakan oleh warga saat menanyainya. Anca hanya mengaku lapar dan sudah dua hari tidak makan. Oleh karena itu, ia terpaksa mengambil makanan di warung Noto. Selain itu, Anca kerap makan dedaunan yang ditemukan di kebun dan mencari ikan yang terdampar di pantai.

Kusmawan menjelaskan bahwa Anca sangat kurus saat ditemukan. Pemuda tersebut tidak memiliki pakaian lain selain yang dipakainya. Warga memberinya makan berupa roti dan memberikan pakaian serta meminta Anca mandi.

Pencarian Keluarga dan Alasan Anca

Para pemuda mencari keluarga Anca lewat media sosial. Dengan telepon seluler milik warga, Anca mencari akun milik keluarganya. Setelah nyambung dengan orangtuanya di Sulawesi dan Tasikmalaya, Anca tampak kaget dan ketakutan. Ia mengatakan lebih baik mengakhiri hidup daripada pulang ke Sulawesi.

Anca bersikukuh tidak mau bertemu dengan orangtuanya. Para pemuda menyampaikan akan mempertemukan dengan keluarganya yang di Tasikmalaya, bukan dengan orangtua di Sulawesi. Kusmawan menjelaskan bahwa Anca mengaku kuliah di Bandung, namun diminta orangtuanya untuk masuk jurusan tertentu, yang tidak ingin ia ikuti.

Kejadian Mistis dan Perasaan Anca

Setelah ditemukan dan diketahui asal usulnya, pihak keluarga dari Tasikmalaya datang menjemput Anca. Keluarga yang menjemput adalah adik Anca yang tinggal di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Saat ini, posisi Anca belum diketahui apakah sudah kembali ke Sulawesi atau masih di Bandung.

Selain itu, Anca mengaku sering mengalami hal-hal mistis saat tinggal di bukit karang. Ia mengaku banyak bertemu makhluk gaib. Suatu waktu, Anca mengaku ketiduran di bukit karang dan mendengar suara tanpa wujud yang meminta sesajen. Suara tersebut meminta jatah dan tumbal karena Anca telah lama tinggal di sana.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *