Juli 12, 2026

Askarindo: Permintaan Bus Naik 10% di Semester I-2026, Belum Pulih ke Level 2024

0
Honda-Kalbar-149.jpg



Industri karoseri nasional mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada semester pertama tahun 2026. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo), permintaan terhadap bus mengalami kenaikan sebesar sekitar 10% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Meskipun demikian, peningkatan ini belum mampu membawa industri kembali ke level optimal seperti yang tercapai pada 2024.

Ketua Umum Askarindo, Jimmy Tenacious, menyatakan bahwa kenaikan permintaan bus pada semester pertama 2026 menjadi indikasi positif bagi industri karoseri setelah sebelumnya mengalami tekanan berat pada tahun lalu. Ia menjelaskan bahwa kondisi industri pada akhir semester pertama 2026 menunjukkan perbaikan, meski masih jauh dari tingkat terbaik sebelum pandemi.

“Peningkatan sekitar 10% dalam permintaan bus dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan bahwa aktivitas pasar mulai bergerak. Namun, pemulihan industri masih berlangsung secara bertahap dan belum mampu memperbaiki kondisi seperti pada 2024,” ujarnya.

Menurut Jimmy, industri karoseri mengalami penurunan signifikan pada tahun 2025 akibat kebijakan pengetatan anggaran pemerintah. Hal ini berdampak pada melemahnya permintaan bus dari berbagai segmen, termasuk pengurangan utilisasi produksi pelaku industri.

“Tahun 2025 merupakan masa yang sulit bagi industri karoseri karena kebijakan pengetatan anggaran pemerintah. Hingga saat ini, belum ada peningkatan yang signifikan,” tambahnya.

Jimmy juga menjelaskan bahwa permintaan bus pada tahun ini didorong oleh beberapa segmen utama, terutama bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan bus kota. Perbedaan ini terjadi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika bus pariwisata menjadi kontributor terbesar terhadap permintaan industri.

“Permintaan terhadap bus kota meningkat karena rencana pengembangan transportasi publik di berbagai daerah. Selain penambahan koridor Transjakarta, kota-kota seperti Semarang dan Surabaya juga sedang mengembangkan layanan angkutan massal berbasis bus,” katanya.

Di tengah mulai membaiknya permintaan, Jimmy mengingatkan bahwa industri karoseri masih menghadapi tantangan besar, khususnya meningkatnya persaingan dari produk impor. Menurut dia, masuknya produk bus dari Tiongkok menjadi perhatian serius karena berpotensi menekan daya saing produsen dalam negeri.

“Kami sangat berharap pemerintah dapat memperkuat implementasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar industri karoseri nasional tetap kompetitif,” ujarnya.

Meskipun pemulihan belum sepenuhnya terjadi, Askarindo tetap optimistis bahwa permintaan bus akan terus meningkat pada semester kedua 2026. Hal ini dipengaruhi oleh berlanjutnya pembangunan infrastruktur jalan dan meningkatnya mobilitas masyarakat. Pemulihan ini diharapkan bisa menjadi langkah awal menuju kembalinya industri karoseri ke level optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *