Agustus 26, 2026

Pengguna Setuju Tarif Langganan TransJakarta Rp200 Ribu/Bulan, Semoga Ditetapkan

0
AA1SejmK.jpg

Pengguna TransJakarta Setuju dengan Usulan Tarif Langganan Rp 200 Ribu per Bulan

Banyak pengguna setia bus TransJakarta menyambut baik usulan tarif langganan sebesar Rp 200.000 per bulan yang diajukan oleh Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) periode 2026-2028, Sugihardjo. Mereka berharap kebijakan ini dapat segera direalisasikan karena dianggap lebih hemat dan efisien, terutama bagi para pekerja yang sering menggunakan layanan TransJakarta setiap hari.

Salah satu pengguna, Gita (27), mengungkapkan bahwa dirinya sangat setuju dengan usulan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pekerjaannya membutuhkan mobilitas tinggi, sehingga hampir setiap hari ia menggunakan TransJakarta untuk berpindah lokasi. “Setuju banget. Karena memang aku kerjanya moving, berpindah-pindah dan memang setiap kemana-mana naiknya Transjakarta. Jauh lebih hemat kalau benar terjadi,” kata Gita.

Selama ini, Gita mengaku menghabiskan hampir Rp 300.000 setiap bulan hanya untuk ongkos Transjakarta. Jika usulan tarif langganan senilai Rp 200.000 per bulan benar-benar diterapkan, pengeluarannya akan berkurang secara signifikan. “Biasanya sebulan itu ngisi hampir Rp 300.000 kalau dikasih tarif Rp 200.000 sebulan amat sangat untung jadi enggak bikin kantong jebol,” harap Gita agar usulan tersebut terwujud.

Di sisi lain, Gita juga tidak mempermasalahkan kenaikan tarif reguler TransJakarta. Menurutnya, harga tiket TransJakarta sudah bertahun-tahun tidak mengalami penyesuaian. “Kalau pun tarif Transjakarta naik, saya terima. Karena dari saya SMP masih Rp 3.500 aja itu,” ujarnya.

Pengguna Lain Juga Mendukung Skema Langganan

Fatimah (33), salah satu pengguna TransJakarta lainnya, juga menyampaikan dukungan terhadap usulan tarif langganan tersebut. Ia mengatakan bahwa jika paket langganan Rp 200.000 per bulan benar-benar diterapkan, ia akan langsung mendaftar. “Kalau ada paket langganan Rp 200.000 sepertinya aku orang yang pertama daftar kak,” tutur Fatimah dengan semangat.

Fatimah menjelaskan bahwa setiap hari ia menggunakan dua layanan TransJakarta, yaitu BRT dan non-BRT. “Aku naik BRT terus nyambung Non BRT. Nah biasanya kalau tap di BRT Rp 3.500 pas nyambung ke Non BRT bayar lagi Rp 3.500. Hitung aja satu kali perjalanan aku bisa Rp 7.000 dikali pulang habis Rp 14.000. Jauhnya hemat,” katanya.

Dengan biaya tersebut, Fatimah mengaku harus mengeluarkan sekitar Rp 350.000 per bulan untuk transportasi menuju tempat kerja, dengan asumsi 25 hari kerja. Karena itu, ia mendukung jika paket langganan senilai Rp 200.000 per bulan diterapkan. “Sebulan buat Transjakarta aja Rp 350.000 jadi kalau cuma daftar paket Rp 200.000 aku milih itu,” ucap Fatimah.

Harapan Pengguna untuk Skema Langganan

Salma Fauziah (25), pengguna lainnya, juga menyambut baik wacana tarif langganan tersebut. Menurut dia, skema berlangganan akan membantu masyarakat yang rutin menggunakan Transjakarta setiap hari untuk bekerja maupun beraktivitas. “Setuju-setuju aja. Asumsinya pemerintah ngasih usulan biasanya ada opsi jauh lebih murah,” katanya.

Salma berharap usulan tersebut dapat segera direalisasikan. Menurutnya, uang yang dihemat dari biaya transportasi bisa digunakan untuk kebutuhan lain. “Bisa buat langganan bulan depannya. Soalnya kerja uangnya habis sama ongkos,” tutur Salma.

Perhitungan Tarif Langganan oleh DTKJ

Sebelumnya, Ketua DTKJ periode 2026-2028 Sugihardjo mengusulkan adanya paket langganan sebesar Rp 200.000 per bulan untuk pengguna TransJakarta. Skema tersebut diusulkan bersamaan dengan rencana penyesuaian tarif reguler TransJakarta menjadi Rp 5.000 untuk layanan BRT, non-BRT, dan Mikrotrans yang terintegrasi.

“Nah kita mendorong tarif langganan. Kan di luar negeri banyak tuh langganan,” terang Sugihardjo usai dilantik Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta.

Dengan skema tersebut, pengguna akan memperoleh potongan biaya dibandingkan jika membayar tarif harian. Perhitungan tarif langganan didasarkan pada asumsi pengguna melakukan perjalanan pulang pergi selama 25 hari kerja dalam sebulan. “Jadi kalau orang yang bekerja kan kita hitungannya sehari sebulan kan 25 hari kerja kan. Nah itu kan tarifnya mestinya kalau Rp 5.000 berangkat, Rp 5.000 pulang, udah Rp 10.000. Kan jadi kali 25 berapa? Rp 250.000,” kata Sugihardjo.

Dari perhitungan tersebut, DTKJ mengusulkan agar pengguna yang memilih paket langganan memperoleh diskon sebesar 20 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *