Akibat vakum 8 tahun, Padi Reborn kesulitan menarik Gen Z
Padi Reborn adalah salah satu band legendaris yang berasal dari Surabaya. Mereka telah menciptakan banyak lagu hits yang menjadi bagian dari kenangan bagi generasi 90-an dan 2000-an. Namun, di balik kesuksesannya, Padi Reborn juga menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan popularitasnya di kalangan generasi muda, terutama Gen Z.
Keputusan untuk vakum selama lebih dari tujuh tahun sejak tahun 2010 hingga akhirnya kembali pada akhir 2017 memiliki dampak besar terhadap perjalanan karier mereka. Selama masa ini, industri musik Indonesia mengalami perubahan signifikan, dari era fisik ke dunia digital. Vokalis Padi Reborn, Andi Fadly Arifuddin atau yang akrab disapa Fadly, mengakui bahwa masa vakum tersebut menjadi hambatan bagi bandnya untuk dikenal oleh generasi sekarang.
Selama periode vakum, Padi Reborn juga kehilangan kesempatan untuk tampil di panggung sekolah atau acara pensi yang biasanya menjadi wadah efektif untuk memperkenalkan musik kepada pendengar baru. “Kesulitannya ya karena Padi pernah hilang 7 tahun. Artinya, ada 7 pensi yang hilang ya. Ya, itu menurut saya. Padi tidak terlalu banyak dikenal,” kata Fadly saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).
“Karena kami punya waktu kosong hampir 8 tahun tidak pernah muncul di permukaan, tidak pernah konser,” lanjutnya.
Berdasarkan catatan perjalanan karier mereka, Padi memutuskan vakum pada tahun 2010 karena kejenuhan dan konflik internal, sebelum akhirnya kembali bersatu dengan nama “Padi Reborn” pada tahun 2017. Meskipun menyadari adanya jarak usia dan selera musik dengan Gen Z, Fadly mengaku tidak berkecil hati. Baginya, gairah anak muda zaman sekarang tidak jauh berbeda dengan dirinya saat baru memulai karier bermusik di akhir era 90-an.
“Mereka Gen Z yang punya banyak mimpi, seperti saya waktu tamat SMA punya banyak mimpi juga,” tuturnya.
Kini, menjelang usia band yang hampir menginjak tiga dekade, Padi Reborn tetap optimis menatap masa depan. Fadly percaya bahwa kualitas musik akan selalu menemukan pendengarnya sendiri, tanpa terbatas oleh generasi.
“Saya percaya bahwa karya itu tidak ada tidak ada basinya. Lagu itu pasti akan masuk seperti memasuki hati orang-orang, merasakan kondisi pada saat seperti itu,” pungkas Fadly.


