PIKIRAN RAKYAT – Pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, yang membandingkan nilai bantuan Rp1 miliar dari Malaysia ke bencana di Sumatera dengan kekuatan anggaran pemerintah Indonesia memicu perhatian akademisi.
Diksi “masih kalah” yang dilontarkan Mendagri dinilai berisiko mengaburkan makna solidaritas antarnegara.
Pakar Komunikasi Publik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr. Evi Novianti, S.Sos., M.Si, memberikan catatan kritis terkait cara pejabat publik mengomunikasikan isu sensitif di ranah internasional. Menurutnya, pemilihan kata dalam merespons bantuan negara sahabat harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Evi mengatakan diksi “masih kalah” yang digunakan Mendagri Tito cenderung bersifat komparatif-hirarkis. Ia menilai hal ini kurang sensitif karena bisa mengubah persepsi publik terhadap esensi bantuan itu sendiri.
“Pemilihan diksi tersebut berpotensi menggeser makna bantuan kemanusiaan menjadi ajang pembandingan kekuatan, bukan lagi soal solidaritas,” ujar Evi kepada Pikiran-rakyat.com, Rabu, 17 Desember 2025.
Dosen Fikom Unpad itu menekankan bahwa dalam hubungan diplomatik, bantuan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan simbol hubungan baik yang tidak sepatutnya diadu secara nominal.
Dampak dari pernyataan tersebut, lanjutnya, tidak hanya berhenti di meja diplomasi, tetapi juga hingga ke level psikologi massa. Ada kekhawatiran munculnya psychological distancing atau kerenggangan psikologis antara masyarakat Indonesia dan Malaysia.
“Pernyataan tersebut dapat memicu psychological distancing antar masyarakat serumpun, menimbulkan rasa tidak dihargai pada pihak pemberi bantuan dan defensif pada publik domestik, yang berisiko mereduksi makna empati lintas negara,” ujar Evi.
Sebagai evaluasi bagi komunikasi publik pemerintah, Evi menyarankan penggunaan strategi appreciative framing. Strategi ini mengedepankan rasa hormat tanpa menghilangkan pesan mengenai kemandirian bangsa.
“Manajemen komunikasi seharusnya menekankan appreciative framing: mengakui kontribusi pihak luar secara hormat, sambil menyampaikan kapasitas anggaran nasional sebagai bentuk kesiapan negara, tanpa diksi komparatif yang berpotensi merendahkan,” kata Evi.
Sebelumnya, Mendagri Tito mengomentari kontribusi bantuan dari negara tetangga, Malaysia, kepada korban terdampak bencana di Sumatera. Menurut Tito, nilai bantuan dari Malaysia tersebut dinilai tidak signifikan.
Mendagri Tito mengungkapkan bahwa ia sempat menerima informasi mengenai adanya pengusaha dari Malaysia yang berencana menyumbang obat-obatan untuk warga yang terdampak bencana di Aceh.
Namun, setelah dilakukan kajian mendalam, lanjut mantan Kapolri RI ini, total nilai bantuan bencana tersebut diperkirakan hanya mencapai sekitar Rp1 miliar.
“Setelah dilihat (jenisnya), obat, dikaji, berapa banyak obat-obatan yang dikirim, itu nilainya tidak sampai Rp1 miliar, kurang lebih Rp 1 miliar,” kata Tito dalam sebuah wawancara video bersama Helmy Yahya, dikutip Rabu, 17 Desember 2025.***







