Aksi Demonstrasi oleh Gen Z yang Mengguncang Berbagai Negara
Di berbagai belahan dunia, aksi demonstrasi oleh Generasi Z (Gen Z) semakin meningkat. Dari Nepal hingga Indonesia, tuntutan keadilan, penghapusan korupsi, dan penegakan hukum menjadi tema utama dalam aksi tersebut. Bahkan, beberapa peristiwa demo ini telah menimbulkan korban jiwa.
Demo di Bulgaria: Gulingkan Perdana Menteri
Beberapa waktu lalu, demonstran di Bulgaria awalnya mengkritik masalah anggaran negara. Namun, aksi ini berkembang menjadi kritik terhadap praktik korupsi, kolusi, serta dominasi oligarki yang dianggap menghambat reformasi politik dan ekonomi. Presiden Bulgaria Rumen Radev secara terbuka meminta pemerintah mengundurkan diri. Dalam pernyataannya, Radev menegaskan bahwa pemerintah gagal memilih antara suara rakyat dan ketakutan terhadap mafia. Pernyataan tersebut memperkuat tekanan politik terhadap kabinet yang akhirnya resmi mundur.
Selain jumlah massa yang besar, demonstrasi juga diwarnai simbol-simbol kreatif. Sebuah patung babi merah muda raksasa dipasang di depan gedung parlemen sebagai lambang kemarahan publik terhadap korupsi dan pemborosan anggaran negara.
Demo di Meksiko: Bentrokan dengan Pihak Berwajib
Pada November 2025, warga Meksiko khususnya melakukan aksi unjuk rasa. Aksi ini diprakarsai oleh anak muda Generasi Z (Gen Z) di Meksiko. Aksi ini menyuarakan terkait kasus korupsi dan impunitas. Pada pertengahan November, aksi demo ini berujung bentrokan antara pendemo dan pihak berwajib, setelah unjuk rasa dilakukan di seluruh wilayah termasuk ibu kota Mexico City.
Ribuan orang berunjuk rasa di seluruh Meksiko, memprotes meningkatnya kejahatan, korupsi, dan impunitas, dalam demonstrasi yang diorganisir oleh anggota Generasi Z. Sekretaris Keamanan Publik Mexico City Pablo Vazquez mengatakan dalam konferensi pers bahwa 100 petugas polisi terluka, termasuk 40 orang yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Sebanyak 20 warga sipil lainnya juga terluka, ujar Vazquez kepada media lokal Milenio. 20 orang lainnya ditangkap dan 20 lagi “dituntut atas pelanggaran administratif”.
Kemudian menurut El Universal, sebuah media berita Meksiko, pasukan keamanan menembakkan gas air mata dan melemparkan batu ke arah para pengunjuk rasa saat mereka memasuki perimeter Istana Nasional.
Demo di Nepal: Korban Jiwa dan Tagar #NepoBaby
Aksi protes juga dilakukan oleh Gen Z di Nepal. Demonstran menuntut keadilan dan meminta agar membasmi korupsi di Nepal. Pada demo ini, kemarahan warga tidak terbendung, sehingga menyebabkan korban jiwa hingga terbakarnya istri mantan PM Nepal.
Kementerian Kesehatan Nepal menyatakan 72 orang tewas dan juga melukai 2.113 orang akibat dari demo anti korupsi Gen-Z di Nepal. “Banyak jenazah manusia ditemukan di pusat perbelanjaan, rumah, dan bangunan lain yang dibakar atau diserang,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan Nepal, Prakash Budathoki, sesuai yang dikutip The Hindu pada Senin (15/9).
Melansir BBC, para demonstran di Nepal mengidentifikasi diri sebagai Gerakan “Demo Gen Z”. Istilah ini pun menjadi simbol persatuan di sepanjang gerakan. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan universitas di kota-kota besar Nepal – Kathmandu, Pokhara, dan Itahari – bergabung untuk menyuarakan tuntutan.
Setelah demo mereda, mereka kemudian menyerukan tagar #NepoKids dan #NepoBaby. Kedua slogan ini dipakai para Gen Z di media sosial dan banner untuk mengkritik pemerintah. Kedua istilah ini semakin populer setelah merebaknya sejumlah video yang menunjukkan gaya hidup mewah para politisi dan keluarga mereka yang menjadi viral. Tagar ini ditujukan untuk mengusik para pejabat tentang kemewahan dan kesuksesan yang dituding diambil dari uang publik, sementara rakyat Nepal kesulitan.
Demo di Indonesia: Rumah Pejabat Dijarah
Demo di Indonesia berlangsung hampir selama 2 minggu. Masyarakat khususnya Gen Z menuliskan berbagai macam tuntutan di saat demo dan di media sosialnya. Selain itu, setidaknya ada lima pejabat yang rumahnya dijarah. Peristiwa penjarahan itu bermula dilakukan di rumah anggota DPR RI non-aktif Ahmad Sahroni di Jakarta Utara. Penjarahan kemudian melebar hingga ke rumah pejabat DPR non-aktif lainnya seperti Eko Patrio, Nafa Urbach, dan Uya Kuya. Bahkan, rumah bendahara negara yakni Menkeu Sri Mulyani di Bintaro juga turut dijarah.
Sebanyak 9 orang meninggal dunia dalam peristiwa demo ini. Demo ini juga mengkritisi agar pihak kepolisian dan meminta adanya reformasi Polri, karena muncul peristiwa penggilasan driver ojol dengan mobil rantis.

Tinggalkan Balasan