Nusakambangan: Dari Pulau Penjara ke Ruang Pembelajaran
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Nusakambangan sudah lama identik sebagai “pulau penjara”. Pulau yang berada di selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ini menaungi 12 lembaga pemasyarakatan (lapas) dan satu balai pemasyarakatan (bapas), serta dikenal dengan tingkat pengamanan tinggi dan narapidana kasus berat. Citra itu melekat puluhan tahun, membentuk persepsi publik yang keras, tertutup, bahkan cenderung menyeramkan.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, wajah Nusakambangan perlahan berubah. Di balik tembok tinggi dan sistem pengamanan berlapis, tumbuh aktivitas produktif yang tidak banyak diketahui publik: pertanian, peternakan, hingga perikanan skala besar yang melibatkan warga binaan secara langsung. Pulau ini tidak lagi hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembelajaran dan pelatihan kerja bagi mereka yang tengah mempersiapkan diri kembali ke masyarakat.
Tambak, Kebun, dan Kandang: Wajah Baru Nusakambangan
Di kawasan Bantar Panjang, hamparan kolam budidaya udang vaname membentang di atas lahan sekitar 7,5 hektare. Aktivitas berlangsung sejak pagi hari, saat warga binaan memeriksa kualitas air, memberi pakan, dan memastikan seluruh siklus budidaya berjalan normal. Di Lapas Kembangkuning, aktivitas produktif tidak kalah beragam. Warga binaan mengelola kebun anggur, budidaya jamur tiram, pertanian semangka, hingga peternakan domba yang terus berkembang.
Sementara di belakang Lapas Batu, ratusan kolam budidaya sidat tengah dibangun bertahap, dengan target menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu sentra produksi sidat terbesar di Indonesia. Seluruh kegiatan itu tidak hanya berorientasi pada produksi pangan, tetapi juga pembentukan keterampilan kerja bagi warga binaan.
Suratman dan Harapan dari Tambak Udang
Di tengah deretan kolam udang, Suratman, warga binaan asal Riau, menjalani rutinitas harian yang kini mulai akrab baginya. Ia mengaku tidak memiliki pengalaman sebelumnya di bidang budidaya udang sebelum mengikuti program di Nusakambangan. “Belajar di sini,” ujarnya singkat.
Melalui pelatihan dan praktik langsung, ia kini memahami proses dasar budidaya udang vaname, mulai dari pemberian pakan, pengelolaan air, hingga pemeliharaan kesehatan udang. Meski pekerjaan menuntut ketelitian, Suratman menyebut kegiatan tersebut justru membuat masa pidananya terasa lebih bermakna. Ia bahkan mulai membayangkan membuka usaha tambak setelah bebas nanti.
Sistem Kerja Terstruktur dan Pelatihan Bertahap
Pendamping budidaya udang vaname, Ahmad Khofi Asalafi, menjelaskan bahwa kawasan tambak di Bantar Panjang memiliki 20 kolam besar dengan luas masing-masing sekitar 3.000 meter persegi. Dalam satu siklus produksi, setiap kolam diisi jutaan benur udang yang dipelihara selama kurang lebih 120 hari hingga siap panen. Warga binaan memegang peran utama dalam operasional harian, mulai dari pemberian pakan lima kali sehari, pemantauan kondisi air, hingga pembersihan kolam. Sebelum terlibat, mereka terlebih dahulu mengikuti pelatihan dasar budidaya.
Selain keterampilan, mereka juga menerima premi dari hasil produksi yang ditabung sebagai bekal setelah bebas.
Kembangkuning: Diversifikasi Keterampilan Warga Binaan
Di Lapas Kembangkuning, Kepala Lapas Winarso menyebut sekitar 100 warga binaan terlibat dalam berbagai kegiatan produktif. Penempatan mereka dilakukan berdasarkan asesmen minat dan kemampuan. “Kalau minatnya di pertanian, diarahkan ke pertanian. Kalau beternak, ke peternakan,” ujarnya.
Kegiatan yang dijalankan mencakup pengelolaan sampah, budidaya ikan nila, kebun semangka, jamur tiram, kebun anggur, hingga peternakan domba. Menurut Kepala Seksi Kegiatan Kerja Fauzi Rahman, setiap warga binaan juga melalui pelatihan awal sebelum ditempatkan, seperti pelatihan budidaya anggur selama dua pekan.
Ismail dan Kebun Anggur di Tengah Masa Hukuman Panjang
Ismail, warga binaan asal Madura yang tengah menjalani pidana 20 tahun penjara, menjadi salah satu peserta program kebun anggur. Ia baru memperoleh kesempatan setelah memenuhi syarat masa pembinaan. Meski belum memiliki pengalaman sebelumnya, ia mulai memahami teknik dasar budidaya anggur. Di kampung halamannya, keluarga Ismail memiliki lahan kebun, sehingga ia berharap keterampilan ini dapat berguna setelah bebas nanti.
Kolam Sidat: Proyek Besar Bernilai Ekonomi Tinggi
Di area belakang Lapas Batu, pembangunan ratusan kolam sidat terus dikebut. Dari target 840 kolam, sekitar 740 kolam telah terbangun. Lebih dari 60 warga binaan dilibatkan dalam proyek ini, didampingi tenaga ahli dari masyarakat. Program ini diproyeksikan menghasilkan lebih dari 80 ton sidat per bulan pada pertengahan 2027. Selain keterampilan, warga binaan juga menerima premi hingga sekitar Rp800 ribu per bulan.
Apresiasi dan Dukungan Kebijakan Nasional
Transformasi Nusakambangan turut menarik perhatian Komisi IV DPR RI yang melakukan kunjungan langsung ke lokasi. Mereka menilai pemanfaatan lahan tidur menjadi kawasan produktif sebagai langkah yang patut diapresiasi dan dapat direplikasi di daerah lain. Sementara itu, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menyebut program ini sebagai bagian dari strategi nasional ketahanan pangan yang melibatkan seluruh lapas dan rutan di Indonesia.
Selain meningkatkan produksi pangan, program ini juga diharapkan membantu stabilitas harga dan pengendalian inflasi.
Lebih dari Sekadar Hukuman
Di balik seluruh aktivitas itu, terdapat satu tujuan utama: membekali warga binaan dengan keterampilan yang bisa digunakan setelah bebas. Kisah Suratman di tambak udang, Ismail di kebun anggur, dan puluhan warga binaan lain di kolam sidat menunjukkan bahwa pemasyarakatan tidak hanya soal menjalani hukuman.
Di Nusakambangan, pulau yang dulu identik dengan jeruji besi kini juga menjadi tempat menanam keterampilan, membangun harapan, dan mempersiapkan kehidupan baru.







