Isi Artikel
- 1 Lihatlah fakta terkini berikut ini mengenai kondisi pemerintahan Bulgaria:
- 1.1 1. Kabinet Resmi Mengundurkan Diri
- 1.2 2. Tokoh Oligarki Menjadi Target Demonstrasi
- 1.3 3. Rencana Anggaran yang Memicu Aksi Massal
- 1.4 4. Masalah Korupsi dan Kelompok Kepentingan Politik Memperkuat
- 1.5 5. Presiden Mengimbau Pemerintah Untuk Mengundurkan Diri
- 1.6 6. Demonstrasi Kreatif Menghiasi Jalanan
- 1.7 7. Ancaman Ketidakstabilan Politik dan Ekonomi
- 1.8 8. Pemerintahan Sementara dan Pemilu Awal yang Mengancam
, JAKARTA — Gelombang demonstrasi besar mengguncangBulgariasetelah jutaan penduduk, terutama kalangan pemuda atauGen Z, turun ke jalan di Sofia dan beberapa kota lainnya.
Gerakan pemuda Bulgaria, terutama dari kelompokGen Ztelah berhasil menggulingkan kabinet yang korup. Banyak demonstran yang marah hingga membuat rezim Bulgaria yang berkuasa menyadari dan mundur.
Lihatlah fakta terkini berikut ini mengenai kondisi pemerintahan Bulgaria:
1. Kabinet Resmi Mengundurkan Diri
Dilansir The Guardian(Pelajaran, 16/12/2025), Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov mengajukan pengunduran diri kabinetnya setelah masa jabatannya kurang dari setahun, tepat sebelum parlemen melakukan pemungutan suara terhadap mosi tidak percaya.
The New York Timesbahkan mengungkapkan kemarahan masyarakat kali ini tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, tetapi juga kepada tokoh-tokoh politik penting yang dianggap menjadi perwakilan dari korupsi sistemik di Bulgaria.
2. Tokoh Oligarki Menjadi Target Demonstrasi
Salah satu nama yang mendapat perhatian adalah Delyan Peevski, mantan pengusaha media yang sekarang menjadi tokoh politik penting. Peevski telah menerima sanksi dari Amerika Serikat dan Inggris karena diduga terlibat dalam tindakan korupsi.
Ia sempat menyangkal tuduhan tersebut, namun banyak peserta demonstrasi percaya bahwa pengaruh Peevski masih kuat di lingkaran kekuasaan, sehingga simbol oligarki menjadi inti dari tuntutan perubahan.
3. Rencana Anggaran yang Memicu Aksi Massal
Sumber awal gelombang protes adalah rancangan anggaran 2026 yang berisi rencana kenaikan pajak, iuran jaminan sosial, serta pengeluaran negara di Bulgaria. Pemerintah setempat pernah menarik rancangan tersebut, namun tindakan ini dinilai terlambat dan tidak mampu mengurangi kemarahan masyarakat.
4. Masalah Korupsi dan Kelompok Kepentingan Politik Memperkuat
Para demonstran menganggap masalah anggaran hanyalah permukaan dari sebuah masalah yang lebih besar. Aksi unjuk rasa berkembang menjadi kritik menyeluruh terhadap tindakan korupsi, kongkalikong, dan kekuasaan para oligarki yang dinilai menghambat proses perubahan politik dan ekonomi.
5. Presiden Mengimbau Pemerintah Untuk Mengundurkan Diri
Presiden Bulgaria Rumen Radev secara terang-terangan mengajukan permintaan kepada pemerintah untuk meletakkan jabatan. Dalam pernyataannya, Radev menegaskan bahwa pemerintah gagal memilih antara suara rakyat dan ketakutan terhadap kelompok kejahatan. Pernyataan ini memperkuat tekanan politik terhadap kabinet yang akhirnya secara resmi mengundurkan diri.
6. Demonstrasi Kreatif Menghiasi Jalanan
Selain jumlah peserta yang besar, aksi unjuk rasa juga dihiasi dengan simbol-simbol kreatif. Sebuah patung babi merah besar dipasang di depan gedung parlemen sebagai lambang kekesalan masyarakat terhadap praktik korupsi dan pemborosan dana negara.
7. Ancaman Ketidakstabilan Politik dan Ekonomi
Berdasarkan laporan Reuters, mundurnya kabinet berpotensi memperpanjang ketidakstabilan politik di Bulgaria. Negara anggota Uni Eropa dan NATO ini telah mengadakan tujuh pemilu nasional dalam empat tahun terakhir karena parlemen yang terpecah dan koalisi pemerintah yang tidak stabil. Kondisi ini dianggap berisiko mengganggu kepercayaan para investor serta persiapan transisi menuju penggunaan mata uang euro.
8. Pemerintahan Sementara dan Pemilu Awal yang Mengancam
Presiden Radev akan mengajak partai-partai di parlemen untuk membentuk pemerintahan yang baru. Jika langkah tersebut tidak berhasil, Bulgaria berisiko mengadakan pemilu lebih awal, yang akan menjadi pemilu kedelapan sejak tahun 2020.
Bulgaria sebelumnya juga berada di posisi terbawah dalam Indeks Persepsi Korupsi Transparency International di kawasan Eropa. Para analis menganggap rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara dan elit politik sebagai akar dari krisis yang terus berulang. (Angela Keraf)







