Zootopia 2 Menggema, Pemuda Tiongkok Rela Beli Ular Pit Viper dari Indonesia



https://soeara.com

Kehidupan dengan Reptil: Sebuah Tren yang Menarik Perhatian Generasi Muda

Qi Weihao, seorang pria berusia 21 tahun asal Jiangxi, China, baru-baru ini memperkenalkan anggota keluarga barunya, yaitu seekor ular biru yang indah namun sangat berbisa. Ia membeli ular pit viper dari Indonesia dengan harga 1.850 yuan atau sekitar Rp 4,4 juta (kurs Selasa, 16/12/2025). Pembelian ini dilakukan hanya dua hari setelah rilisnya film animasi terbaru Disney, Zootopia 2, pada Rabu (26/11/2025).

Bacaan Lainnya

Film tersebut menampilkan karakter Gary De’Snake, seorang ular yang digambarkan positif dan menggemaskan. Hal ini ternyata memengaruhi minat Qi terhadap reptil. Ia mengungkapkan bahwa ia telah lama ingin memiliki ular berwarna biru. Keinginan itu terwujud setelah melihat bagaimana karakter Gary dalam film digambarkan sebagai sosok yang antusias dan bertanggung jawab.

Gary De’Snake diperankan oleh aktor Amerika Serikat, Ke Huy Quan. Menurut Qi, Zootopia 2 membantu memberikan citra yang lebih baik bagi hewan reptil sebagai peliharaan. “Mereka bukan makhluk aneh, dan Gary adalah representasi terbaik dari itu,” ujarnya.

Film Animasi yang Sukses di China

Zootopia 2 dirilis menjelang akhir Tahun Ular dalam kalender China, yang mungkin menjadi alasan kesuksesannya. Film ini menjadi salah satu animasi asing terlaris sepanjang masa di China dengan pendapatan box office mencapai lebih dari 3,55 miliar yuan atau sekitar Rp 8,4 triliun. Sebelumnya, rekor ini dipegang oleh Zootopia versi pertama yang dirilis pada 2016.

Secara global, film ini juga mencapai pendapatan lebih dari 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 16,7 triliun. Dalam cerita, Gary De’Snake berusaha membersihkan reputasi keluarga serta spesiesnya, dibantu oleh dua tokoh utama, Judy Hopps dan Nick Wilde.

Minat Generasi Muda terhadap Reptil

Qi bukan satu-satunya penggemar reptil di China. Sejak rilisnya Zootopia 2, banyak platform e-commerce besar di China melaporkan lonjakan pencarian dan kenaikan harga ular pit viper asal Indonesia. Menurut laporan media pemerintah China, The Paper, harga ular tersebut kini berkisar mulai dari ratusan hingga ribuan yuan.

Reptil menarik perhatian generasi muda di China dalam beberapa tahun terakhir. Data Xinhua menyebutkan bahwa hingga akhir 2024, terdapat lebih dari 17 juta orang di China yang memelihara hewan eksotis dengan nilai pasar mendekati 10 miliar yuan (sekitar Rp 23,6 triliun). Lebih dari 60 persen pemiliknya berasal dari Gen Z.

Menurut laporan industri hewan peliharaan China tahun 2025, ular menyumbang lebih dari 50 persen dari total reptil yang dipelihara sebagai hewan peliharaan. Banyak dari mereka dibesarkan dan dijinakkan sebelum dijual, sementara sebagian lainnya tersedia melalui penjual daring.

Kekhawatiran Pemerintah dan Keamanan

Meski tren ini menarik perhatian, meningkatnya minat membeli ular berbisa secara daring memicu kekhawatiran pihak berwenang. Qi, yang sudah berpengalaman memelihara reptil, mengingatkan agar tidak gegabah dalam memilih hewan peliharaan.

“Jika kamu tidak memiliki pengalaman yang memadai dan peralatan keselamatan untuk memelihara ular, tolong jangan terburu-buru memelihara ular berbisa hanya karena ikut tren,” ujarnya.

Media China seperti The Beijing News menilai bahwa meskipun dalam film ular biru digambarkan sebagai makhluk menggemaskan, ular pit viper berbisa di dunia nyata bukanlah tren yang aman. Mereka bisa membahayakan pemilik dan keluarga, bahkan potensi insiden keselamatan publik.

Produk Merchandise Karakter Gary Digemari

Selain ular, penggemar Gary De’Snake di China juga memilih untuk membeli merchandise yang lebih aman. Di Taobao, blind box karakter ular biru masuk dalam 10 besar produk terlaris mingguan. Boneka plushie berbasis karakter tersebut juga diminati di toko-toko fisik.

“Kami sedang kehabisan stok boneka Gary, dan kemungkinan tidak akan tersedia dalam waktu dekat,” kata seorang pegawai Shanghai Disneyland.

Dikutip dari YiCai, waralaba Zootopia telah berkolaborasi dengan lebih dari 70 merek China, termasuk Pop Mart, produsen boneka Labubu yang populer secara global awal tahun ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *