Wabup Garut Putri Karlina terjunkan inspektorat, audit kades yang keluarganya viral intimidasi warga

Ringkasan Berita:

  • Audit Inspektorat: Wabup Garut Putri Karlina menerjunkan tim untuk mengaudit Kades Panggalih pasca-intimidasi keluarga kades terhadap warga yang viral.
  • Transparansi Dana: Audit bertujuan memberikan informasi berimbang mengenai aliran dana desa guna menjawab kritik warga soal mandeknya pembangunan.
  • Evaluasi Pemimpin: Putri menekankan agar pejabat belajar dari kesalahan, tidak antikritik, dan berhenti merespons masukan warga dengan emosi.

Wakil Bupati Garut Putri Karlina menerjunkan inspektorat untuk memeriksa Kepala Desa (Kades) di Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu yang keluarganya viral mengintimidasi warga.

Bacaan Lainnya

Baru-baru ini, sebuah video yang menayangkan aksi keluarga kepala desa mengintimidasi warga menjadi sorotan viral di media sosial.

Peristiwanya sendiri terjadi di Kampung Babakangadoh RT01 RW06, Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada 27 Oktober 2025 lalu.

Dalam video yang beredar viral, sekumpulan orang yang merupakan keluarga kades berbicara dengan nada tinggi bahkan kata-kata kasar kepada warga bernama Holis Muhlisin (31).

Diketahui, alasan di balik intimidasi tersebut karena Holis Muhlisin mengkritik pembangunan di Desa Panggalih melalui media sosial.

Putri Karlina menjelaskan, pihaknya telah menghubungi Inspektorat Kabupaten Garut untuk melakukan audit terhadap kepala desa yang bersangkutan.

“Saya sudah menghubungi Pak Inspektur dari Inspektorat untuk segera datang ke desa mengaudit seperti yang teman-teman minta,” ucap Putri Karlina dalam unggahan Instagram resminya, Sabtu (3/1/2026) malam.

Menurut Putri karlina, langkah ini pihaknya ambil sebagai upaya memberikan informasi berimbang kepada masyarakat.

“Mengaudit bukan untuk mencelakakan kepala desa, tetapi untuk memberikan informasi berimbang,” tutur Putri Karlina.

“Kalau memang misalnya di desa itu ada pembangunan dan dana desa berjalan sesuai dengan kebutuhan, maka seharusnya Pak Kades tidak perlu takut kalau akan diaudit,” sambung dia.

Putri Karlina juga akan membeberkan informasi terkait aliran dana desa, termasuk kepada pihak yang mempertanyakannya.

“Kita harus memberikan informasi ke mana sih dana desa yang dikeluhkan katanya enggak ada pembangunan itu. Mungkin nanti Aa yang mengkontenkan itu juga harus tahu informasinya,” ucap Putri Karlina.

“Jadi, kalau inspektorat sudah ada hasilnya, akan saya coba jelaskan kalau memang di desa itu ternyata ada atau tidak ada pembangunan, ke mana kah dana desanya berada,” jelas dia.

Harus Belajar dari Kesalahan

Dalam keterangannya, Putri Karlina juga berbicara mengenai peristiwa serupa yang pernah terjadi di Kabupaten Garut, termasuk oleh dirinya sendiri.

Diketahui, Putri Karlina pernah viral karena berbicara dengan nada tinggi kepada warga yang mengkritiknya secara langsung. Ia pun menyadari betul bahwa hal tersebut adalah tindakan yang salah.

“Aku ini pernah punya pengalaman jatuh di lubang yang salah ketika aku marah-marahin orang yang seharusnya aku enggak marahin,” kata Putri Karlina.

“Terus, beberapa bulan sebelum ini baru viral juga di Garut intimidasi kepala desa kepada orang yang mengkontenkan masalah di desanya,” imbuhnya.

Ia mengaku heran bahwa peristiwa yang sama bisa terulang lagi ketika kejadian sebelumnya sudah viral di media.

“Loh kok yang sekarang bisa kejadian lagi? Enggak lihat HP apa gimana? Kalau kamu berbuat hal yang salah terus viral tuh ribet banget. Salah juga, mengintimidasi itu udah pasti salah,” kata Putri Karlina.

Istri dari Anggota DPRD Jabar Maula Akbar ini pun berharap perangkat pemerintahan bisa belajar dari peristiwa serupa yang pernah terjadi.

“Karena nasi sudah menjadi bubur, semoga oknum yang bersangkutan mendapat pelajaran, hikmah, dan kesadaran bahwa marah-marah itu bukan solusi,” jelas Putri Karlina.

Putri Karlina juga menilai, sudah menjadi konsekuensi yang wajar apabila seorang pemimpin mendapatkan kritik dari warganya.

“Ya, namanya memilih untuk menjadi pimpinan pasti akan berhadapan dengan kritik, orang yang enggak suka dan tidak setuju terhadap apa yang kita lakukan,” beber Putri Karlina.

“Itu risiko dan itu harus diterima. Ketika mencalonkan saja itu sudah harus menerima konsekuensi tidak disukai orang atau mendengar hal yang kita tidak sukai,” imbuh dia.

Dia pun berharap, peristiwa ini menjadi pelajaran dan tidak terjadi lagi di Kabupaten Garut.

“Tolong ini menjadi pelajaran. Aku pernah salah dan tidak akan pernah mengulangi. Kades yang sebelumnya juga ada salah,” kata Putri Karlina.

“Mohon kepada kades yang lain atau siapa pun pejabat lainnya, sebuah konsekuensi yang harus kita terima bersama kalau kita dikritik atau mendapatkan masukan yang kurang mengenakan,” lanjutnya lagi.

“Harus legowo, terbuka, dan mengakui kalau memang masih ada yang belum sempurna dari kepemimpinan kita,” sambungnya.

Menurut Putri Karlina, merespons hal dengan emosi justru tidak akan menyelesaikan masalah yang terjadi.

“Tolong jangan selesaikan masalah dengan emosi, atau jangan malu ketika ada yang mengkontenkan. Kalau kerja benar, pasti tidak akan malu yang kayak gitu. Mungkin hari ini belum, tetapi besok akan,” tuturnya.

Terima Kritik dan Masukan

Putri Karlina juga berterima kasih kepada masyarakat yang kerap memberikan kritik maupun masukan kepada kepemimpinannya.

“Untuk masyarakat, terima kasih sudah selalu memberikan masukan dalam bentuk apa pun. Misalnya dalam bentuk konten, DM (Direct Message), atau kanal-kanal lainnya,” ujar Putri Karlina.

“Saya selalu menerima baik buruknya dari apa yang diberikan dan disampaikan oleh masyarakat,” sambung dia.

Ia juga berterima kasih kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait atensi dari peristiwa viral yang terjadi.

“Terima kasih perhatiannya untuk Pak Gubernur, insya Allah selanjutnya kami tangani di kabupaten,” pungkasnya.

Kronologi Kejadian

Adapun, peristiwa keluarga kepala desa mengintimidasi warga di Garut ini menimpa korban bernama Holis Muhlisin (31).

“Iya betul itu adalah saya, kejadiannya tanggal 27 Oktober 2025, kemudian saya posting di Facebook 31 Desember 2025,” ujarnya melalui sambungan telepon, Sabtu (3/1/2025) malam.

Ia menuturkan, peristiwa tersebut bermula saat dirinya hendak bertemu dengan seseorang di wilayah desanya untuk membicarakan urusan akun Facebook.

Namun, singkat cerita pertemuan itu ternyata dilakukan di halaman rumah sang kepala desa yakni di Kampung Pasircamat.

“Padahal urusan saya dengan teman soal akun Facebook palsu sudah selesai, tapi tiba-tiba ada beberapa keluarga kepala desa yang mengintimidasi saya,” ungkapnya.

Intimidasi itu ucapnya, dilakukan oleh empat orang, yakni istri kepala desa, anak kepala desa, menantu kepala desa, serta keponakan kepala desa.

Holis mengaku sempat mendapatkan kekerasan berupa cekikan di leher dan pukulan di punggungnya.

“Saya sebagai korban tidak enak, digituin sama orang lain. Saya melakukan (posting video) untuk kemajuan desa,” ucapnya.

Dalam video yang diunggahnya Holis terlihat dimaki-maki keluarga kepala desa, diantara mereka bahkan mengucapkan kalimat hinaan terhadap korban.

Holis terlihat hanya bisa terdiam, sementara dua laki-laki dan satu perempuan terus memaki-makinya.

“Video itu direkam oleh teman saya yang sebelumnya janjian dengan saya,” ungkapnya.

Sebelumnya pada tanggal 14 Oktober, ia juga mengaku sempat dipanggil oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Panggalih untuk mengklarifikasi unggahannya di Facebook soal jalan rusak.

Dalam pertemuan tersebut, kata Holis, BPD mengingatkan dirinya agar mengkritik secara santun dengan tidak menyebutkan nama desa.

“Sebetulnya saya juga takut pas upload, tapi saya ingat kata Pak Gubernur agar mengunggah pembangunan di desa,” tandasnya.

telah mencoba melakukan konfirmasi terkait peristiwa tersebut melalui Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga Minggu malam yang bersangkutan belum memberikan respons.

(/Rheina, Sidqi Al Ghifari)

Baca berita lainnya diGoogle News.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *