Juli 12, 2026

Tidak Ada Pidato, Pendukung Sudewo Gelar Makan Bersama dan Tabur Bunga di Batas Pengadilan Tipikor

0
Menentukan-Harga-Jual-1024x532.png

Aksi Dukungan untuk Bupati Pati Nonaktif di Depan Pengadilan Tipikor

Pada Rabu (8/7/2026), suasana aksi dukungan terhadap Bupati nonaktif Pati, Sudewo, di depan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jika pada sidang sebelumnya massa sering menggelar orasi, kali ini para loyalis memilih untuk melakukan kegiatan yang lebih spiritual dan tenang.

Kegiatan tersebut melibatkan doa bersama, makan bersama, serta ritual tabur bunga di sepanjang border besi yang dipasang oleh aparat di depan pengadilan. Koordinator Aksi Pati Bangkit (APB), Sutirto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk mendoakan Sudewo selama menjalani proses persidangan.

“Kegiatan ini untuk spirit bertolak ke jalur langit, mendoakan Bapak Sudewo. Ini merupakan ikhtiar. Selain usaha, kami juga berdoa,” ujarnya.

Prosesi Makan Bersama dengan Polisi

Aksi dimulai dengan pembacaan manakib, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama yang juga diikuti oleh sejumlah personel kepolisian yang bertugas mengamankan persidangan. Sebanyak 150 porsi makanan disiapkan secara swadaya oleh para pendukung. Menu yang disajikan antara lain nasi uduk, ayam kampung ingkung, tempe, tahu, mi, telur, kacang, hingga pisang.

Sutirto menyebutkan bahwa dirinya membawa 15 ekor ayam ingkung. Ia juga menambahkan bahwa makan bersama ini juga dilakukan bersama aparat kepolisian.

“Ada yang iuran Rp100 ribu, Rp300 ribu. Ada juga yang menyumbang ayam kampung. Semua swadaya,” ujarnya.

Ritual Tabur Bunga sebagai Simbol Doa

Selain makan bersama, loyalis juga menaburkan bunga mawar, melati, dan kantil di sekitar border besi yang membatasi area pengadilan. Menurut Sutirto, bunga tersebut digunakan sebagai simbol dalam doa yang dipanjatkan bersama.

“Bunga itu sebagai media untuk jalur langit,” katanya.

Prosesi tabur bunga dilakukan sambil melantunkan selawat dan doa untuk Sudewo. Sutirto menjelaskan bahwa konsep aksi sengaja diubah agar lebih menyejukkan dan tidak hanya berisi orasi.

“Hari ini tidak ada orasi. Kami hanya mendengarkan, berdoa, makan bersama, dan mendoakan Pak Sudewo di depan Pengadilan Tipikor Semarang,” ujarnya.

Rencana Aksi Mendatang

Ia menambahkan bahwa ke depan bentuk aksi dukungan akan terus divariasikan, mulai dari selawatan hingga pertunjukan teatrikal, namun tetap mengedepankan suasana damai dan tertib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *