Isi Artikel
Oleh: Prof Dr Nur Hadi Ihsan, Dosen Utama Universitas Darussalam Gontor
Mencari ajaran tasawuf di Gontor ibarat mencari air di lautan
.CO.ID, JAKARTA — Perkataan itu terdengar sejenak kontradiktif, bahkan menantang. Mengapa harus mencari sesuatu yang sudah melimpah? Tapi itulah intinya. Di Gontor, sufisme bukanlah sesuatu yang dicari lewat label, aliran resmi, atau istilah akademis. Ia tidak muncul sebagai bidang studi yang diberi nama jelas. Ia hadir sebagai suasana, kebiasaan hidup, serta semangat batin yang meresap ke seluruh aspek pendidikan dan pembentukan manusia.
Tasawuf di Gontor tidak dianggap sebagai jalan khusus menuju Tuhan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Justru, ia diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin waktu, kehidupan sederhana, ketaatan pada aturan, keikhlasan dalam melayani, serta ketekunan dalam menuntut ilmu—semua ini merupakan bentuk praktik sufistik, meskipun tidak selalu disebut dengan istilah itu. Di sini, tasawuf tidak muncul sebagai wacana teori, tetapi sebagai tindakan nyata. Ia diajarkan bukan melalui definisi, melainkan melalui pembiasaan. Bukan melalui ceramah tentang fana’ dan baqa’, tetapi melalui latihan menundukkan ego, mengendalikan diri, serta mengutamakan kewajiban.
Ruh Tanpa Label
Oleh karena itu, siapa pun yang datang ke Gontor dengan pandangan formalistik tasawuf—mencari wirid tertentu, baiat tarekat, atau simbol-simbol kesederhanaan—mungkin akan pulang dengan perasaan kosong. Ia seperti seseorang yang berdiri di tepi lautan sambil bertanya, “Di mana airnya?” Padahal setiap napasnya telah terbasahi oleh uapnya. Tasawuf di Gontor adalah tasawuf yang bersembunyi dalam etika, tersembunyi dalam disiplin, dan bekerja secara diam-diam membentuk kepribadian.
Secara filosofis, pendekatan ini menyampaikan pesan yang penting: jiwa lebih mendasar daripada bentuk. Keimanan yang tulus tidak selalu memerlukan pernyataan. Justru, sering kali kekuatannya berkurang ketika terlalu diwujudkan dalam simbol. Gontor tampaknya ingin menyampaikan bahwa tasawuf bukanlah identitas tambahan, melainkan inti dari proses pendidikan itu sendiri. Ia bukan cabang yang dipasang, tetapi akar yang memberi kehidupan pada seluruh pohon.
Laku Sehari-hari
Dalam konteks ini, tasawuf diartikan sebagai proses pembersihan niat dan pengaturan jiwa dalam dinamika masyarakat yang nyata. Santri tidak dianjurkan untuk menjauh dari dunia, melainkan dilatih untuk mengelola dunia tanpa terjebak dalam keterikatannya. Zuhud bukan berarti meninggalkan kegiatan, tetapi melepaskan hati dari ketergantungan. Ikhlas bukan sekadar ucapan, melainkan tuntutan kehidupan yang diuji setiap hari: saat lelah mengajar, saat tanggung jawab menumpuk, saat nama diri harus dikalahkan demi kepentingan bersama.
Tasawuf jenis ini tidak menghasilkan individu yang terjebak dalam pengalaman mistis, melainkan manusia yang stabil, tangguh, dan siap menjalankan tanggung jawab sejarah. Ia bekerja secara diam-diam, namun mencapai keteguhan moral. Ia tidak membangun menara spiritual yang terisolasi, tetapi memperkuat dasar batin untuk kehidupan bersama.
Samudra Kesadaran
Di sinilah sufisme Gontor menjadi sufisme yang hidup —living sufism—tanpa perlu menyebut dirinya sebagai sufistik. Ia hadir dalam keheningan, bekerja dalam kesunyian, dan berbuah dalam kepribadian. Seperti air laut yang asin, ia tidak selalu terasa segar bagi yang mencicipinya sekilas, tetapi justru menjadi penopang seluruh siklus kehidupan. Ia menguap menjadi awan, turun sebagai hujan, dan kembali memberi kehidupan pada daratan.
Akhirnya, mencari tasawuf di Gontor memang seperti mencari air di lautan: sia-sia jika yang dicari adalah bentuk yang terpisah. Namun sangat bermakna jika yang disadari adalah fakta bahwa kita sudah berada di dalamnya. Tasawuf di Gontor bukanlah sesuatu yang dipelajari agar diketahui, melainkan dihirup agar dihayati. Dan mungkin saja, itulah pelajaran sufistik yang paling mendalam: bahwa Tuhan sering kali paling dekat ketika kita berhenti mencarinya dalam bentuk-bentuk yang kita bayangkan sendiri.
Getaran Halus
Akhirnya, sufisme tidak selalu muncul sebagai jalan yang memiliki nama, melainkan sebagai getaran halus yang membimbing langkah tanpa suara. Ia hadir dalam kesabaran yang tidak dipertunjukkan, dalam keikhlasan yang tidak mengharapkan imbalan, dan dalam kesetiaan terhadap amanah yang dijalani sebagaimana adanya. Mungkin inilah alasan mengapa di tempat seperti Gontor, sufisme tidak terlihat mencolok—karena ia telah menyatu dengan napas kehidupan sehari-hari.
Maka siapa pun yang berada di dalamnya tidak perlu merasa sedang mencari sesuatu yang hilang. Cukup menundukkan hati, menghaluskan niat, dan berjalan dengan penuh kesadaran. Karena mungkin saja, tanpa kita sadari, kita tidak sedang berada di tepi samudra, melainkan sudah lama berada di tengahnya—dikelilingi air, digoyang oleh ombak, dan perlahan diajarkan makna oleh kedalaman itu sendiri.
Mantingan, 16 Desember 2025






