Jika pernah ada masa yang terasa paling rawan menghadirkan kegagalan, kekecewaan, atau rencana yang berantakan, maka masa itu adalah sekarang.
Hal yang membuatnya terasa lebih berat, musim ini seakan berjalan panjang tanpa garis akhir yang jelas.
Kabar baiknya, bangkit dari keterpurukan selalu mungkin dilakukan, selama kita mau mengerjakan prosesnya.
Keluar jalur bukan berarti kamu gagal. Itu hanya berarti kamu manusia. Sama seperti yang lain, terpenting bukan seberapa jauh kamu tersesat, tetapi bagaimana cara kamu memandangnya dan apa yang kamu lakukan setelahnya.
Menyadari bahwa kamu sedang tidak berada di jalur yang benar, lalu memutuskan untuk kembali, adalah titik awal yang krusial. Namun, jika kamu sudah terlalu lama atau terlalu jauh keluar jalur, jangan memaksakan diri langsung kembali ke ritme lama.
Terlalu cepat bisa terasa menyakitkan dan justru membuatmu mundur lebih jauh.
Dilansir dari Your Tango, berikut tiga kebiasaan yang sering dikembangkan orang-orang yang pernah terlalu sering dikecewakan, tetapi akhirnya mampu bangkit kembali:
1. Mereka Memulai dari Hal Kecil dan Membiarkan Rutinitas Baik Tumbuh
Langkah pertama adalah menentukan apa yang benar-benar penting bagimu. Pilih satu atau dua hal saja jangan semuanya sekaligus.
Misalnya, jika ingin kembali makan sehat, jangan langsung menyusun menu sehat tujuh hari penuh. Mulailah dari hari ini atau besok saja. Setelah itu, tambahkan satu hari lagi, lalu satu hari berikutnya.
Pendekatan bertahap ini terbukti jauh lebih efektif. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memulai perubahan dari langkah kecil dan konsisten lebih mungkin mempertahankan kebiasaan baru dibanding mereka yang mencoba mengubah segalanya secara drastis dalam semalam.
Terlalu keras di awal hampir selalu berakhir pada kelelahan dan kembali ke titik nol.
2. Mereka Mengandalkan Pengingat Bukan Sekadar Niat
Setelah menentukan satu atau dua perubahan utama, langkah berikutnya adalah memasukkannya ke dalam rutinitas harian secara konkret.
Gunakan alarm ponsel, kalender, atau pengingat sederhana. Bisa berupa pengingat waktu makan, jadwal jalan kaki, atau waktu istirahat. Perlakukan itu seperti janji penting karena memang begitu.
Namun ingat, hidup tidak selalu berjalan rapi. Akan ada hari ketika semuanya berantakan. Jangan menyalahkan diri sendiri. Justru di situlah komitmen diuji apakah kamu mau kembali meski hanya sebagian.
Studi menunjukkan bahwa kebiasaan baru jauh lebih mudah dipertahankan ketika dikaitkan dengan pemicu spesifik, seperti alarm atau notifikasi. Pengingat sederhana membantu perilaku baru menjadi otomatis, bukan beban.
Satu langkah kecil tetap lebih baik daripada tidak melangkah sama sekali.
3. Mereka Membuat Diri Sendiri Bertanggung Jawab
Kebiasaan penting lainnya adalah akuntabilitas. Banyak orang yang berhasil bangkit memiliki seseorang untuk diajak berbagi progres entah teman, pasangan, atau rekan.
Mereka membicarakan target yang tercapai, juga yang gagal. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk belajar apa yang tidak berjalan dan bagaimana memperbaikinya ke depan.
Riset tentang penetapan tujuan menunjukkan bahwa orang yang memiliki partner akuntabilitas memiliki peluang hingga 95 persen lebih besar untuk menepati komitmen. Ketika ada seseorang yang mengecek, kita cenderung lebih konsisten terutama saat motivasi mulai menurun.
Fokuslah pada dasar-dasarnya terlebih dahulu. Detail bisa menyusul seiring kebiasaan baru mulai terasa alami.
Satu hal penting dalam kembali ke jalur adalah mempermudah diri sendiri. Perubahan memang sulit. Membentuk kebiasaan baru setelah kegagalan berulang bukan perkara sepele.
Jika sesuatu tidak bekerja, ubah pendekatannya. Jika butuh ide, mintalah bantuan. Tidak ada yang memalukan dari itu.
Tentukan bagaimana kamu ingin hadir untuk dirimu sendiri. Bangkitlah dengan caramu sendiri. Dua langkah maju dan satu langkah mundur tetaplah kemajuan.
Rayakan dirimu bukan sebagai hasil akhir, tapi sebagai karya yang sedang berkembang. Beri dirimu cukup ruang dan kasih sayang untuk bertumbuh.

Tinggalkan Balasan