Isi Artikel
Ringkasan Berita:
- Suami korban tidak terbukti terlibat dalam pembunuhan siswi SD 12 tahun bunuh ibu di Medan
- Keraguan muncul karena ayah korban tidak memanggil tetangga dan memilih menghubungi ambulans dari rumah sakit yang lebih jauh
- Berdasarkan kronologi dan bukti forensik, AL (12) melakukan penikaman seorang diri saat ibu tertidur, dengan total 26 luka
Tabir kecurigaan yang sempat menyelimuti kasus tragis pembunuhan seorang ibu oleh anak kandungnya sendiri akhirnya mulai terkuak.
Dalam perkara yang mengguncang publik ini, sosok sang suami yang semula menjadi pusat dugaan dipastikan tidak terlibat dalam peristiwa berdarah tersebut.
Kasus kematian F (42), yang diduga dibunuh oleh anaknya sendiri berinisial AL (12) di Kota Medan, sejak awal memicu tanda tanya besar.
Dugaan publik, termasuk warganet, mengarah pada kemungkinan keterlibatan sang ayah. Namun, hasil pemeriksaan ilmiah berbasis forensik kini berbicara tegas.
Tidak Ditemukan DNA Sang Ayah di Lokasi Kejadian
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sumatera Utara menyatakan telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap DNA yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP).
Hasilnya, tidak satu pun mengarah kepada sang ayah.
“Sudah kita periksa semua DNA di lokasi, tidak ada mengarah ke si bapak,” kata Kasubbid Kimia Biologi Bid Labfor Polda Sumut AKBP Hendri Ginting saat konferensi pers di Polrestabes Medan, Senin (29/12/2025).
Hendri menjelaskan, DNA yang ditemukan pada pisau hanya milik korban dan kakak AL. DNA korban ditemukan karena pisau tersebut merupakan peralatan dapur yang biasa digunakan sehari-hari.
Sementara itu, DNA kakak AL menempel akibat upayanya merebut pisau dari tangan sang adik.
“Selanjutnya darah dari lantai 1 menuju lantai dua, itu adalah DNA kakak.
Di dalam kamar lantai dua tidak ditemukan DNA selain kakak,” ucap Hendri.
Keluarga Korban Merasa Ada Kejanggalan
Sebelum hasil forensik diumumkan, kecurigaan terhadap sang suami, Alham Siagian, sempat mencuat ke permukaan.
Hal ini diungkapkan oleh Dimas, adik dari korban Faizah Soraya.
Menurut Dimas, Faizah ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tergeletak bersimbah darah di kamar lantai satu rumahnya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, pada Rabu (10/12/2025).
Saat itu, Alham disebut langsung menghubungi Rumah Sakit Colombia untuk meminta ambulans. Sikap ini justru menimbulkan tanda tanya bagi pihak keluarga.
“Yang masih didalamin polisi dari waktu pukul 03.00 WIB sampai Ambulan kok tidak ada panggil tetangga atau apa,” kata Dimas.
Telepon yang Dinilai Janggal
Dimas juga mengungkapkan dugaan bahwa Alham tidak sepenuhnya jujur saat menghubungi rumah sakit.
Ia menyebut, Alham mengatakan korban mengalami pendarahan, bukan luka tusuk.
“Iya sudah berlumur darah,” katanya.
Selain itu, keluarga mempertanyakan alasan Alham memilih rumah sakit yang jaraknya tidak paling dekat dari rumah.
“Rumah sakit banyak yang dekat. Makanya yang sedang didalamin dari pukul 3 pagi sampai ambulan datang mereka di rumah ngapain kenapa enggak ada panggil tetangga atau minta tolong malah nunggu ambulan dari Colombia,” katanya.
Anak Bertindak Sendiri, Ayah Tak Terlibat
Polrestabes Medan akhirnya mengungkap kronologi lengkap kejadian.
Berdasarkan hasil penyelidikan, AL melakukan aksinya sendirian di dalam kamar.
Sang kakak berupaya menghentikan, sementara ayah tidak berada di lokasi kejadian saat penusukan berlangsung.
Sebelum tragedi terjadi, korban tidur bersama kedua anaknya di kamar lantai satu, sedangkan suami beristirahat di lantai dua. Sekitar pukul 04.00 WIB, AL bangun dan mengambil pisau dari dapur.
“Adik (AL) mengambil pisau, membuka bajunya, dan melukai korban,” kata Kapolrestabes Medan Kombes Calvijn Simanjuntak saat konferensi pers di Polrestabes Medan, Senin (29/12/2025).
Korban mengalami 26 luka tikam.
Upaya Kakak Menghentikan Aksi Brutal
Kakak AL terbangun ketika tubuhnya tertimpa dan menyaksikan ibunya ditikam berulang kali. Ia berhasil merebut pisau dan membuangnya ke dalam kamar, meski tangannya tersayat.
Namun AL kembali ke dapur dan mengambil pisau kecil lainnya.
Saat AL hendak masuk kembali, pintu kamar ditutup oleh kakaknya sehingga pisau terjatuh. Kakak yang panik kemudian berlari ke lantai dua membangunkan ayah.
AL menyusul, sudah mengenakan pakaian, lalu memeluk ayahnya. Ketiganya kemudian turun ke lantai satu.
Detik-detik Terakhir Korban
Setibanya di lantai satu, ayah dan kakak mengecek kondisi korban, sementara AL duduk lemas di sofa ruang tamu.
“Kondisi korban masih hidup dan meminta dipanggil ambulans,” ucap Calvijn.
Korban sempat meminta minum, yang kemudian dipenuhi oleh sang kakak. Ayah korban lalu menghubungi Rumah Sakit Columbia Asia untuk meminta bantuan medis.
Sekitar pukul 05.40 WIB, ambulans tiba di lokasi. Namun, nyawa korban tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.
Kombes Calvijn menegaskan bahwa hasil DNA menunjukkan keterlibatan AL dan korban pada gagang pisau.
“Hasil investigasi pisau itu memang sudah ada di rumah untuk kepentingan dapur,” ucap Calvijn.
“Jadi bukan dipersiapkan pelaku untuk melukai korban,” sambungnya.
Selain itu, DNA korban dan kakak AL ditemukan pada bilah pisau, sementara darah di lantai satu seluruhnya milik korban.
Darah di lantai dua merupakan DNA kakak yang membangunkan ayah.
“Kemudian, kelima, di celana dalam adik (AL) terdapat darah korban,” ucapnya.
Kecurigaan Terhadap Suami Tak Terbukti
Dengan rangkaian temuan tersebut, polisi menegaskan bahwa kecurigaan terhadap sang suami tidak terbukti secara hukum maupun ilmiah.
Kasus ini menjadi pengingat betapa prasangka dapat berkembang cepat, namun hanya fakta dan bukti yang mampu menjawab kebenaran.
Tragedi ini bukan hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga pertanyaan besar tentang kesehatan mental anak, dinamika keluarga, serta pentingnya pendekatan hukum yang berhati-hati dalam perkara yang melibatkan anak di bawah umur.
***
(TribunTrends/Sebagian artikel diolah dari TribunMedan)
Jangan lewatkan berita-berita tak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook







