Sampit Disergap Kabut Asap! Kebakaran Lahan 3 Hektare Ancam Bandara Haji Asan
SAMPIT — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kobaran api hebat melumat sekitar tiga hektare lahan di kawasan Lingkar Kota Utara, Kecamatan Baamang, tepatnya di sekitar Jalan Tjilik Riwut Kilometer 6.
Hingga Selasa (7/7/2026) pagi, upaya penjinakan si jago merah belum membuahkan hasil sepenuhnya. Kepulan asap tebal berwarna putih pekat terus membubung ke udara dan mulai menyelimuti wilayah sekitar. Kondisi ini memicu kekhawatiran meluas lantaran titik api hanya berjarak sekitar 5,5 kilometer dari jalur operasional Bandara Haji Asan Sampit.
Kepala Seksi Humas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim, Heri Wahyudi, menjelaskan bahwa jajarannya bergerak cepat setelah mendapat aduan darurat dari warga yang melintas di kawasan tersebut.
“Kami mendapat informasi dari warga mengenai kebakaran itu. Sampai pagi ini api masih terlihat aktif sehingga terus kami pantau bersama tim,” kata Heri Wahyudi saat mengonfirmasi situasi terkini di lapangan.
Heri Wahyudi memaparkan bahwa vegetasi lahan yang kering akibat hantaman cuaca panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir menjadi bahan bakar sempurna yang membuat lidah api mengamuk dengan sangat cepat. Sejak Senin malam, titik-titik api baru bahkan terus bermunculan di bawah permukaan lahan gambut.
Fokus utama tim gabungan saat ini adalah melokalisasi area agar kebakaran tidak merembet ke arah fasilitas vital negara. Pihak Disdamkarmat Kotim mengakui jika kabut asap tebal ini terus diproduksi oleh lahan yang terbakar, risiko penurunan jarak pandang ekstrim (visibility) berpotensi besar mengganggu keselamatan jadwal penerbangan pesawat.
“Harapannya api bisa segera dikendalikan sehingga tidak meluas ke area lain dan tidak menimbulkan dampak yang lebih besar, termasuk terhadap aktivitas masyarakat maupun penerbangan,” ujar Heri Wahyudi menambahkan terkait target penanganan tim di lapangan.
Hingga saat ini, penyebab pasti dari pemicu awal munculnya percikan api di Lingkar Utara tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak berwenang. Petugas gabungan dan relawan masih terus bersiaga di posko terdekat untuk memetakan luasan dampak kebakaran secara berkala.
Upaya Penanggulangan Karhutla
Tim gabungan terdiri dari petugas pemadam kebakaran, relawan, dan pihak swasta yang bekerja sama untuk mengatasi kebakaran yang terjadi. Mereka melakukan berbagai langkah seperti penggunaan alat pemadam air dan peralatan khusus untuk memadamkan api yang berada di bawah permukaan tanah.
Selain itu, pihak berwenang juga melakukan koordinasi dengan instansi terkait, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), untuk memantau kondisi cuaca dan potensi hujan yang dapat membantu proses pemadaman.
Dampak Terhadap Masyarakat
Kebakaran ini telah mengganggu kehidupan masyarakat sekitar. Kebiasaan sehari-hari seperti berkebun, berdagang, atau bahkan beraktivitas di luar rumah terganggu karena kabut asap yang menyelimuti lingkungan.
Beberapa warga mengeluhkan gangguan pernapasan akibat paparan asap. Untuk menghindari risiko kesehatan, mereka disarankan untuk tetap tinggal di dalam ruangan dan menggunakan masker saat keluar rumah.
Langkah Pencegahan di Masa Depan
Pemerintah daerah dan organisasi masyarakat berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan karhutla. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui sosialisasi dan edukasi tentang bahaya kebakaran hutan serta cara menghindarinya.
Selain itu, pihak berwenang juga berupaya memperkuat sistem pemantauan dan deteksi dini kebakaran. Hal ini dilakukan melalui pemasangan alat sensor dan penggunaan teknologi canggih seperti drone untuk memantau area rawan karhutla.
Dengan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi swasta, diharapkan kejadian karhutla dapat diminimalkan dan keamanan lingkungan dapat terjaga.

