Saat banjir tak hanya datang dan pergi, tapi menetap di rumah warga Cirebon

Ringkasan Berita:

  1. Sudah sejak hari Selasa kemarin sejumlah rumah warga di Cirebon kebanjiran.
  2. Ini terjadi di Desa Battembat, Kecamatan Tengahtani.
  3. Warga menginginkan solusi dari banjir di daerahnya.

 

Bacaan Lainnya

Laporan Wartawan , Eki Yulianto

, CIREBON – Air kecokelatan itu tidak lagi sekadar mampir atau menumpang lewat. Ia datang, menggenang, lalu bertahan. 

Sejak Selasa (23/12/2025) malam, puluhan rumah di sebuah kompleks perumahan di Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, masih terendam banjir dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa.

Hingga Sabtu sore, genangan air belum sepenuhnya surut.

Air masih merayap masuk ke dalam rumah, membuat warga hidup dalam kecemasan.

Dari pantauan, aktivitas warga nyaris tak terlihat di tengah genangan banjir. 

Hanya beberapa warga yang melintas, melihat dan meratapi banjir yang memiliki ketinggian bervariasi itu. 

Di sebuah rumah yang masih tergenang, pemiliknya hanya bisa pasrah. 

Warga hanya berjalan-jalan di dalam rumah, memantau situasi. 

Setiap hujan turun, rasa waswas ikut naik, takut air kembali meninggi, takut banjir belum benar-benar pergi.

Intensitas hujan yang turun hampir setiap hari belakangan ini menambah keresahan warga.

Aktivitas lumpuh. Rumah-rumah berubah menjadi ruang bertahan, sementara jalanan di sekitar kompleks masih digenangi air setinggi lutut.

Meski banjir kerap datang setiap kali hujan turun, warga menyebut kejadian kali ini sebagai yang terparah.

Sri Nengsih (36), salah seorang warga terdampak, masih mengingat jelas bagaimana banjir itu bermula.

“Awalnya ya datang hujan dulu lebat. Abis itu mungkin dari resapan, kita kan perumahan adanya di tengah-tengah ya, pinggir sawah, depan rawa,” ujar Sri Nengsih saat ditemuin media, Sabtu (27/12/2025).

Menurutnya, air diduga berasal dari buangan yang tak jelas arahnya. Perlahan, air naik dan masuk ke rumah-rumah warga.

“Jadi mungkin ketika air buangan dari mana entah dari mana, maka terjadilah banjir. Banjir sampai masuk rumah,” ucapnya.

Di dalam rumah, ketinggian air mencapai bawah lutut. Sementara di luar, air bisa setinggi lutut orang dewasa.

Barang-barang elektronik pun tak luput dari amukan banjir.

“Barang-barang ada yang sampai rusak, mesin cuci, kulkas kena. Kulkas sampai digituin, ditinggikan biar nggak kena banjir,” kata dia.

Banjir tak hanya merusak harta benda, tetapi juga memperlihatkan sisi rentan warga. Terutama mereka yang tinggal sendiri.

“Kita kan di sini kalau ada sosok laki-laki mungkin bisa bopongan, ngangkat-ngangkat barang. Kalau ada yang janda kan susah ya, kasihan,” katanya, lirih.

Sri menyebut, genangan air sudah terjadi sejak sekitar sepekan lalu. Sempat surut, namun kembali datang dan naik lagi.

“Kalau tergenang ini sudah sejak seminggu lalu, terus sempat surut tapi banjir lagi, naik lagi,” ujarnya.

Sementara itu, sebagian warga memilih mengungsi. Dwi Purnamasari (34) menjadi salah satunya.

Sejak banjir datang, ia bersama keluarganya meninggalkan rumah dan tinggal sementara di rumah kerabat.

“Sampai rumah paling tinggi sampai sebetis. Sebetisnya di dalam rumah, kalau di luar selutut,” ucap Dwi.

Ia mengaku telah mengungsi sejak beberapa hari lalu. Sudah empat hari lamanya ia meninggalkan rumah yang masih terendam.

“Saya ngungsi dari awal banjir. Sudah empat hari,” kata dia.

Di rumah tersebut, Dwi tinggal bersama enam orang, termasuk anak kecil. Kondisi banjir membuat kehidupan mereka terhenti.

“Di sini hampir semua blok kena banjir, puluhan. Ya mengganggu banget banjir itu, ganggu aktivitas. Kerja juga jadi enggak kerja,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *