Rupiah Naik 0,01 Persen ke Rp 16.750 per Dolar AS

JAKARTA, – Rupiah dibuka mengalami kenaikan sedikit pada perdagangan pasar spot Senin (22/12/2025) pagi ini. Mata uang Garuda berada pada angka Rp 16.750 per dollar AS, meningkat 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia terlihat berbeda-beda. Rupiah Thailand mengalami kenaikan sebesar 0,04 persen, yen Jepang meningkat 0,20 persen, dan won Korea Selatan bertambah 0,02 persen.

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, peso Filipina mengalami penurunan sebesar 0,10 persen, ringgit Malaysia turun 0,05 persen, dan dolar Singapura mengalami koreksi sebesar 0,05 persen.

Senada, mata uang utama negara-negara maju juga mengalami pergerakan yang berbeda. Poundsterling Inggris melemah sebesar 0,11 persen, euro Eropa menguat 0,04 persen, franc Swiss meningkat 0,11 persen, dolar Australia bertambah 0,03 persen, sementara dolar Kanada sedikit melemah sebesar 0,01 persen.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menganggap pergerakan rupiah ke depan cenderung stabil dengan kemungkinan penguatan yang sedikit dan terbatas. Penguatan ini didorong oleh sentimen risiko yang positif di pasar global, mengingat minimnya pengumuman data ekonomi penting pada akhir tahun.

Namun, perasaan positif tersebut diprediksi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan yang signifikan terhadap rupiah. Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan sentimen negatif di dalam negeri terkait prospek penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI), yang berpotensi menghambat laju apresiasi rupiah.

“Rupiah diperkirakan akan mengalami konsolidasi dengan kemungkinan penguatan yang sedikit atau terbatas, didukung oleh sentimen risiko yang meningkat di tengah minimnya data ekonomi pada akhir tahun,” kata Lukman Leong kepada , Senin ini.

Berdasarkan situasi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak antara Rp 16.650 hingga Rp 16.750 per dollar AS.

“Sentimen risiko saja diperkirakan tidak akan banyak mendukung rupiah mengingat sentimen negatif dalam negeri dari prospek pemangkasan suku bunga BI. Rentang Rp 16.650 hingga Rp 16.750,” katanya.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedikit meningkat pada awal perdagangan Senin pagi. Indeks berada pada angka 8.626,84, naik sebesar 17,28 poin atau 0,20 persen.

 

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diambil melalui RTI, IHSG dibuka pada posisi 8.629,25. Pada awal perdagangan, indeks sempat mencapai level tertinggi sebesar 8.646,93 dan terendah di 8.613,01, namun akhirnya tetap berada di zona penguatan.

Kegiatan perdagangan terlihat cukup sibuk. Volume transaksi mencapai 4,89 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp 2,61 triliun. Frekuensi perdagangan sebanyak 387.888 kali.

Dari segi pergerakan saham, tekanan jual masih terlihat. Sebanyak 323 saham mengalami penurunan, sementara 230 saham mengalami kenaikan, dan 145 saham berada dalam kondisi stabil.

Secara sektoral, sektor energi menjadi penggerak utama pasar dengan kenaikan sebesar 1,35 persen. Kondisi positif juga terjadi pada sektor bahan baku yang mengalami kenaikan sebesar 0,95 persen.

Peningkatan yang moderat terlihat pada barang konsumsi siklikal yang meningkat sebesar 0,30 persen, diikuti oleh sektor keuangan dengan kenaikan 0,17 persen, transportasi dan logistik naik 0,15 persen, serta sektor kesehatan yang hanya sedikit meningkat sebesar 0,03 persen.

Di sisi lain, beberapa sektor masih menghadapi tekanan. Sektor infrastruktur mengalami penurunan atau koreksi sebesar 0,84 persen, diikuti oleh sektor teknologi yang turun 0,42 persen. Tekanan juga terlihat pada sektor properti yang melemah sebesar 0,34 persen, industri yang mengalami penurunan 0,27 persen, serta sektor barang konsumsi non-siklikal yang terkoreksi sebesar 0,20 persen.

Diketahui bahwa IHSG berakhir pada perdagangan Jumat (19/12/2025) dengan penurunan sebesar 0,10 persen menuju angka 8.609. Tekanan jual masih mendominasi pasar meskipun mulai menunjukkan tanda-tanda pengurangan.

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memprediksi bahwa indeks masih berpeluang melanjutkan penurunan dalam perdagangan hari ini, Senin. Ia menemukan dari analisis gelombang (wave analysis), IHSG saat ini diperkirakan sedang berada di bagian gelombang [iv] dari wave 5 dalam skenario utama.

Dari posisi tersebut, IHSG dianggap masih rentan melanjutkan penurunan dalam waktu dekat guna menguji kisaran 8.464-8.560, sekaligus menutup celah (gap) kecil yang terbentuk sebelumnya.

“IHSG terus mengalami koreksi sebesar 0,10 persen menjadi 8.609 dan masih didominasi oleh tekanan jual meskipun mulai berkurang, serta telah melewati MA20. Kami memprediksi, saat ini IHSG sedang berada pada tahap wave [iv] dari wave 5 dalam label hitam, sehingga selanjutnya IHSG cenderung mengalami penurunan lebih lanjut untuk menguji level 8.464-8.560 sekaligus menutup celah kecilnya,” kata Herditya dalam analisis harian mereka.

Namun demikian, ada juga kemungkinan terburuk (worst case) yang harus diwaspadai oleh pelaku pasar. Dalam skenario ini, IHSG diperkirakan telah menyelesaikan gelombang (1) dan berpotensi mengalami penurunan yang lebih besar menuju level psikologis 8.000-an.

“Namun skenario terburuk (merah), IHSG telah menyelesaikan gelombang (1) dan akan mengalami penurunan yang cukup dalam hingga area 8.000-an,” katanya.

Untuk sementara, level support IHSG berada di kisaran 8.553 dan 8.493. Sementara itu, area resistance terdekat berada di level 8.714 dan 8.821.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *