Foto Donald Trump di berkas Jeffrey Epstein tiba-tiba muncul lagi

WASHINGTON DC, – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi bahwa beberapa dokumen dalam berkas kasus pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein pernah dihapus dari publikasi online.

Satu gambar yang sempat diambil menampilkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, gambar-gambar yang pernah ditarik akhirnya kembali diunggah setelah melalui pemeriksaan internal.

Bacaan Lainnya

Perhatian terhadap hilangnya gambar tersebut pertama kali diungkapkan oleh anggota Komite Pengawas DPR Amerika Serikat dari Partai Demokrat.

Mereka menemukan adanya penghapusan foto berupa dua gambar cetak Donald Trump di dalam laci meja, sebagaimana dilaporkanSky News, Minggu (20/12/2025).

Satu gambar menunjukkan Trump berdiri di antara beberapa wanita berbikini, sementara foto lainnya memperlihatkan Trump bersama istrinya, Melania Trump, Ghislaine Maxwell, dan Jeffrey Epstein, meskipun beberapa gambar terlihat tertutup.

Setelah pengumuman tersebut diumumkan kepada publik pada hari Sabtu (19/12/2025),Sky Newsmengulang memeriksa dokumen Epstein yang tersedia secara online dan memastikan bahwa gambar tersebut memang tidak lagi muncul.

Kementerian Kehakiman Amerika Serikat kemudian mengumumkan melalui unggahan di platform X pada hari Minggu bahwa gambar yang menampilkan foto Trump telah kembali diunggah ke halaman resmi Epstein Files.

Sky Newsmemastikan bahwa dokumen bernomor 468 kembali tersedia secara online, dengan tampilan Trump masih terlihat dan tidak menunjukkan perbedaan yang jelas dibandingkan versi awal.

Berdasarkan pernyataan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat, tindakan penghapusan dilakukan sementara setelah Kantor Kejaksaan Distrik Selatan New York menandai gambar tersebut sebagai potensi tindakan lanjutan guna menjaga kepentingan korban.

“Sebagai tindakan pencegahan tambahan, Kementerian Kehakiman sementara menghapus gambar tersebut untuk diperiksa lebih lanjut,” kata kementerian tersebut.

Kementerian Kehakiman Amerika Serikat menyatakan, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada bukti bahwa korban Epstein terlihat dalam foto tersebut, sehingga gambar dipublikasikan kembali tanpa perubahan atau pengeditan tambahan.

Sampai saat ini, Trump belum mengeluarkan pernyataan mengenai penerbitan dokumen tersebut dan belum pernah dituntut atas pelanggaran hukum apa pun yang terkait dengan kasus Epstein.

Selain gambar yang menunjukkan Trump, Departemen Kehakiman Amerika Serikat juga menghapus sementara beberapa foto lainnya yang sebagian besar berupa lukisan perempuan telanjang yang ditemukan di rumah Epstein.

Perilisan dokumen Epstein

Ratusan dokumen terkait Epstein diumumkan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Jumat (18/12/2025), beberapa jam sebelum tenggat waktu setelah disahkannya undang-undang (UU) Epstein Files Transparency Act.

Banyak halaman dari dokumen tersebut diterbitkan dalam keadaan di sensor sebagian atau sepenuhnya, dengan alasan perlindungan terhadap lebih dari 1.200 korban dan anggota keluarga mereka yang disebutkan dalam berkas tersebut.

Alasan itu selanjutnya memicu pertanyaan dari sejumlah korban Epstein, ahli hukum, dan masyarakat umum.

Sementara anggota Komite Pengawasan DPR AS dari Partai Demokrat mengatakan, hal ini merupakan upaya Gedung Putih untuk menyembunyikan fakta.

Ashley Rubright, korban yang mengakui mengalami pelecehan selama beberapa tahun setelah bertemu Epstein di Palm Beach ketika berusia 15 tahun, menyampaikan keraguan terhadap alasan penyensoran tersebut.

“Melihat halaman-halaman yang sepenuhnya dihapus, tidak mungkin itu hanya bertujuan untuk melindungi identitas korban, dan pasti ada alasan yang sangat kuat. Saya hanya tidak tahu apakah kita akan pernah mengetahui alasan tersebut,” kata Rubright kepadaSky News.

Penasihat hukum Gloria Allred, yang mewakili beberapa korban Epstein, menyampaikan bahwa masih ada nama dan gambar korban yang seharusnya disensor, namun justru terpapar dalam rilis awal.

“Kami perlu memberitahu Departemen Kehakiman mengenai nama-nama yang seharusnya difilter tetapi ternyata tidak difilter,” kata Allred kepadaSky News.

Allred mengatakan situasi ini menimbulkan trauma berkelanjutan bagi para korban, terutama karena beberapa foto korban masih menunjukkan kondisi telanjang atau berpakaian tidak sempurna.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *