Rocky Gerung jadi chef di film baru Ismail Basbeth

PENGAMAT politik Rocky Gerung berperan sebagai koki atau chef dalam film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang yang mengisahkan perjuangan keluarga Tionghoa saat mengalami diskriminasi dan rasisme. Akademisi yang dikenal kerap melontarkan akal sehat itu menjalani syuting di Yogyakarta pada 11 Desember 2025 bersama tim produksi film, Matta Cinema Production.

Film besutan sutradara asal Yogyakarta, Ismail Basbeth ini diadaptasi dari novel dengan judul sama karya Wisnu Suryaning Adji yang dirilis pada 2023. Imran Hasibuan mengatakan rekannya sesama produser, Nugroho Dewanto, menawarkan peran chef kepada Rocky dua bulan sebelum syuting.

Bacaan Lainnya

Rocky tertarik setelah membaca skenario film. “Dia tertarik dengan cerita dan gagasan filmnya, yang menyuarakan aspirasi kaum Tionghoa Indonesia,” kata Imran dihubungi Tempo, Selasa, 16 Desember 2025.

Pertama Kali Main Film

Rocky berperan sebagai chef andal yang menyiapkan makan malam terakhir Encek (yang diperankan Ferry Salim) dengan anak dan menantunya. “Ini pertama kali saya main film, dan mendapatkan peran yang sangat unik sebagai chef atau koki,” kata Rocky melalui siaran pers yang dikirim tim Matta Cinema Production.

Rocky menyatakan terkesan terlibat dalam film ini. Kesan yang dia maksud adalah adanya pengalaman batin manusia yang eksistensial. Selain itu, menggambarkan pengetahuan dasar manusia dengan teknik bermain dalam film dan berimprovisasi di dalamnya.

Dalam waktu empat hingga lima jam, Rocky mengaku bisa memahami logika teknis pembuatan film. “Sekarang, saya mengerti sinematografi,” kata dia.

Sutradara film, Ismail Basbeth, mengatakan Rocky Gerung cukup berhasil memerankan karakternya dalam film ini. “Sebagai debutan, akting Bung Rocky cukup bagus,” kata Ismail Basbeth.

Pergulatan Keluarga Tionghoa

Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang merupakan drama yang mengisahkan pergulatan keluarga Tionghoa yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. Film ini menggambarkan kehidupan keluarga Tionghoa Indonesia yang tak banyak berbeda dengan suku lain. Di sana tak hanya ada duka dan nestapa, tetapi juga suka dan bahagia.

“Ikhtiar ini sejalan dengan arus yang belakangan ini bergema di kalangan keturunan Tionghoa yang dengan santai menyebut dirinya sendiri sebagai Chindo alias China Indonesia, bahwa mereka sama Indonesia-nya dengan suku-suku lain,” ujar Imran.

Sejumlah aktor-aktris senior dari kalangan Tionghoa turut membintangi film ini di antaranya Ferry Salim, Melissa Karim, dan Verdi Soleiman. Selain itu, juga tampil beberapa aktor-aktris muda berbakat, yakni Nicholas Anderson dan Jessy Davita.

Ismail mengatakan melalui tokoh Encek dan keluarganya yang tak bernama, dia ingin menyentuh dan mengajak penonton agar mampu memahami apa yang terjadi dalam hidup Encek. Tokoh fiksi Encek menggambarkan realitas kehidupan satu keluarga Tionghoa dari berbagai generasi berbeda, dalam sebuah cerita tentang trauma generasi. Dia berani mengubah nasib diri dan keluarganya, dengan segala duka dan lara yang menyertai usahanya.

Ismail berharap film ini memberikan sumbangsih dari pembuatnya tanpa kehilangan sisi lainnya sebagai film yang menghibur di mana saja penonton berada. “Berdarah Tionghoa ataupun bukan, hingga menjadi bagian langsung dari dialog dalam keluarga Indonesia yang sehat dan manusiawi,” kata Ismail.

Tim telah menyelesaikan syuting selama dua pekan. Film ini akan dirilis di bioskop-bioskop Indonesia pertengahan tahun depan. Film ini melibatkan kalangan profesional perfilman Indonesia, antara lain Ong Hari Wahyu (desain production), Satrio Kurnianto (director of photography), Edy Wibowo (art director), Retno Damayanti (costume designer), dan Charlie Meliala (music director).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *