Isi Artikel
Senja Akan Berlalu
Seperti bunga yang perlahan kehilangan warnanya
saat matahari menyengatkan kehangatannya di punggung siang,
demikian pula perjalanan manusia.
Ia bersemi sejenak, menjadi wangi sesaat,
lalu menyerahkan diri pada musim yang mengajaknya kembali.
Seperti senja yang bergerak dari ufuk ke ufuk,
begitulah cara hidup yang selalu diiringi bayangan kematian;
ada saat di mana jejak berhenti,
pada titik yang digambar oleh tangan Sang Pencipta
jauh sebelum kita mengenal cara menulis kata esok.
Hidup akan berubah menjadi gurun yang retak dan sepi,
bila lupa disiram firman-Nya,
jika jiwa membiarkan angin dunia
membuat hatinya menjadi tanah yang gugur tanpa biji.
Karena kehidupan bukan hanya sekadar pesta bunga
yang cepat layu di taman sementara;
ia rindu dirawat, diarahkan,
agar berkembang menuju Taman Ilahi
di mana setiap helai bunga menjadi doa,
setiap buah menjadi syukur
ketika terkena sinar firman-Nya yang tak pernah layu.
Waikomo–Lembata, 10 Desember 2025
Jembatan Perjanjian
Di tengah gurun, saat kesunyian menjadi ruang tanpa batas,
terdengar suara yang menembus jauh
hingga ke batu yang paling dingin di dalam hati manusia.
Suara itu berbicara dengan lembut yang menyentuh hati,
menarik jiwa untuk berjalan perlahan
mendekati cahaya yang menanti di ambang kata pertobatan.
Ia bukan sekadar suara yang terdengar di angkasa,
namun semangat yang berkembang dari jiwa dalam,
api yang membersihkan, memurnikan,
hingga jiwa bening kembali
seperti embun yang pertama kali terkena sinar matahari.
Di dekat pintu masuk kerajaan, ia berdiri
seperti penjaga pagi yang tak pernah lelah menantikan cahaya.
Ia mengucapkan salam kepada domba-domba yang pernah tersesat,
mengulurkan lengan pulang
ke kandang damai yang secara sembunyi-sembunyi selalu mereka rindukan.
Suaranya oh, suaranya!
menggoncang jiwa sebagaimana badai yang merobohkan topeng yang rapuh.
Seluruh hidupnya berubah menjadi kesetiaan,
mengabdi tanpa syarat dengan meleburkan dirinya,
membuatnya menjadi seorang martir yang tubuhnya mungkin rapuh,
namun cahayanya tidak pernah redup sejenak pun.
Ia menjadi perantara kesepakatan,
lokasi di mana langkah manusia bertemu dengan jejak Firman Tuhan yang memberi kehidupan.
Di atas jembatan, suara Roh berhembus lembut dan hati merasa kagum serta bersujud.
Menjadi jembatan perjanjian
adalah menjadi cahaya yang menyala di tengah angin dunia,
berani menyala meskipun dunia mengharuskan memadamkan,
berdiri tegak saat arus mengharuskan keseragaman
supaya cahaya tetap menjadi cahaya,
tidak kehilangan bentuk, tidak kehilangan makna.
Waikomo–Lembata, 11 Desember 2025
Kasih yang Terluka
Kau yang berada di balik langit yang tak terjangkau,
mengalirkan kasih-Mu sebagaimana aliran sungai yang tak pernah berhenti
yang membasuh noda jiwaku
dan membuatku kembali menjadi anak-Mu.
Kasih-Mu menuntun langkahku
supaya aku tidak tersesat di jalannya dunia
dan terus berjalan menuju kebebasan spiritual
yang lebih luas dari horizon.
Namun aku sering menolak undangan-Mu,
membiarkan hatiku keras
dan memandang perintah-Mu sebagai beban,
bukan cahaya yang menyembuhkan.
Kini aku merindukan damai-Mu,
damai yang goyah akibat ketidaksetiaanku sendiri.
Bukalah pintu berkat-Mu, Tuhan,
bimbinglah aku dengan Roh-Mu
supaya imanku kembali menjadi batu karang.
Engkau memanggilku pulang
ke pada-Mu yang pernah kucintai,
namun tetap terbuka sebesar langit
bagi jiwa yang ingin kembali.
Lamahora–Lembata, 12 Desember 2025
Menampilkan Wajah Allah
Pepohonan berbuah mewartakan kasih,
bunga-bunga bersemi menjadi doa yang diam,
dan senyum anak kecil adalah matahari
yang mengungkap wajah Tuhan di pagi hari dunia.
Namun bumi berdarah karena luka,
karena manusia mengganti kebenaran dengan kebohongan,
memajang ketidakadilan
dan mengusir Allah dari irama hidupnya.
Ciptaan dibarui oleh rahmat,
namun hancur karena tangan yang lupa mengucapkan terima kasih;
manusia dihiasi cinta dari dalam,
namun ditipu oleh masa dari luar.
Meskipun Allah bersemayam dalam tubuh yang luka:
pada yang buta, pincang, dikhianati, dan dibangkitkan.
Namun kita lupa
bahwa keselamatan pernah mengenai kita.
Mari menampilkan wajah Allah
sebelum senja kehilangan cahaya;
wajah yang menyelamatkan, bukan menilai,
sebab dalam mata sesama,
kita sedang memandang
wajah-Nya sendiri.
Waikomo-Lembata, 13 Desember 2025
Ujilah Kesabaran
Awan menenun nubuat hujan
yang memikul rahasia langit,
tanah membuka rahimnya
menyapihkan anak dengan air kesabaran.
Petani mempercayakan harapan pada langit,
sementara jerit orang miskin
menggetarkan takhta Allah.
Ujilah kesabaranmu
karena hujan tidak hanya turun,
dia adalah keajaiban yang menyembuhkan luka masa lalu.
Rumput liar di lapangan jiwa
harus dihilangkan hingga ke akar kesombongan,
agar berkat Allah
mengalir seperti aliran sungai yang tidak memiliki muara,
melimpah hingga kekal.
Ujilah kesabaranmu
Karena penderitaan bukanlah malam yang tak berkesudahan.
Sejak para nabi hingga Sang Firman berwujud,
penderitaan adalah jalan sempit yang membawa pada cahaya.
Dia yang pernah terluka oleh salib kini berdiri sebagai Hakim sejarah,
mengukur dunia dengan alat ukur kasih dan keadilan.
Ujilah kesabaranmu
karena kegembiraan telah tumbuh di dalam hatimu.
Jangan mengabaikan cahaya yang kau rasakan,
jangan berpura-pura tidak mendengar lagu rahmat yang memanggil kembali.
Bersoraklah dengan pertobatan,
karena kasih-Nya telah menutupi bumi
seperti lautan yang menyerap batas-batas pantai.
Waikomo–Lembata, 14 Desember 2025
Rahmat di Tengah Dosa
Hidup bergerak mengikuti siklus sejarah
seperti bumi yang lelah menanggung luka,
tiap langkah yang tertinggal meninggalkan retakan,
tidak ada perjalanan yang benar-benar murni.
Keinginan dunia mengikis inti hati nurani,
namun di tengah puing-puing itu
Engkau menaburkan rahmat
seperti biji cahaya di medan kematian.
Ada cerita luka yang berseru tanpa suara,
keadilan yang dihakimi di lapangan yang sepi;
ada hidup yang menyimpang,
jiwa-jiwa yang terpisah dari pelukan kemanusiaan.
Terdapat kursi kekuasaan yang terpengaruh oleh darah dan pujian,
wewenang yang menjelma berhala
dan menelan martabat sesama.
Namun bersyukur tetap terasa di hadapan-Mu, ya Allah,
karena Engkau tidak pernah mengangkat rahmat
meski kami mencabik janji.
Engkau menulis keselamatan
dengan tinta sejarah yang melengkung,
menganyam cahaya dari benang kesalahan kami.
Kesalahan kami tidak pernah melebihi kesetiaan kasihMu.
Janji yang lama berada di dalam rahim waktu,
kini berubah menjadi daging dan bernapas di tengah kita.
Sejarah yang muncul dari kelemahan dan air mata,
Kau jadikan sebagai jalur keselamatan.
Kami yang hanyalah debu di bawah kaki-Mu,
kini diangkat menjadi anak-anak Tuhan,
bukan karena layak,
melainkan karena dikasihi.
Kau muncul dalam kehidupan kami yang kacau,
di tengah sisa-sisa masa lalu yang gelap dan berbau.
Kristus menebus malam kami
dengan terbitnya fajar dari luka salib-Nya.
Kami yang berlari menjauh dari wajah-Mu
Kau terus mengejar dengan cinta yang tak pernah lelah,
Kau panggil kembali
untuk berjumpa dengan-Mu
dalam Perkataan yang berwujud manusia.
Kini kami berbenah,
melepaskan kesombongan dan topeng kezuhudan,
berjalan pulang dengan hati hancur,
mendekati rahmat yang selalu menanti.
Waikomo–Lembata, 16 Desember 2025
Memancarkan Cahaya Tuhan
Ketika mata yang buta
melihat dengan jantung nurani,
mata yang sempurna justru menghalangi,
memperhalus sinis seperti kaca yang retak.
Ketika telinga yang tuli
mendengar dengan palung jiwa,
yang merasa utuh mengisolasi diri,
membalik dengan sombong, seolah suara kasih
tidak pantas berhenti di dadanya.
Cahaya Tuhan turun tanpa memilih,
seperti hujan yang tidak menghitung atap.
Ia menyapa orang yang buta dan tuli,
sementara yang mengaku melihat
mengatur kecerahan sesuai preferensi diri.
Di mana letak wajah Tuhan?
Pada kebajikan yang penuh kesombongan,
atau pada luka-luka yang berdoa dalam kesunyian
di tubuh orang yang miskin dan terpinggirkan?
Tuhan hadir dalam diri setiap manusia,
terutama bagi mereka yang tersesat di jalan dan ditolak oleh pintu.
Mari mencerminkan wajah-Nya melalui kehidupan yang rendah hati,
sebab yang buta dan tuli juga mampu menjadi matahari
bagi dunia yang kehilangan cahaya.
Waikomo–Lembata, 17 Desember 2025
* Albertus Muda Atun ialah seorang pendidik, aktivis, dan penulis. Menempuh pendidikan di SDI Ataili (1987-1993), SMPK APPIS Lamalera-Lembata (1993-1996), SMA Seminari San Dominggo Hokeng-Flores Timur (1996-2000), Diploma Dua (D2) di STP-IPI Malang Filial
Jayapura (2005-2007), gelar sarjana dari STP-IPI Malang (2009-2011).
Pernah menjabat sebagai Redaktur Pelaksana Tabloid SMANDU STAR (2014-2016), Redaktur Pelaksana Tabloid Suara Guru Lembata (2016-2017), Wartawan Majalah Pendidikan Cakrawala NTT Wilayah Lembata (2016-2018), dan Wartawan Media Online Warta Pendidikan.
(2019-2020).
Menulis pendapat dan puisi di berbagai media lokal maupun nasional seperti Pos Kupang, Victory News, Timor Express, Flores Pos, Cenderawasih Pos, Media Pendidikan Cakrawala NTT, Warta Flobamora, mediaindonesia.com, wartapendidikan.com, kupang.tribunnews.com,
odiyaiwuu.com, sekolahtimurcom, victorynews.com, berandanegeri.com, papuabangkit.com, ekorantt.com, aksinews.id, dan radarntt.net.
Pernah mengabdikan diri sebagai guru honorer di SMA Negeri 2 Nubatukan (2014-2024), serta sebagai penyuluh agama non PNS di Kantor Kemenag Kabupaten Lembata (2019-2021).
Saat ini berprofesi sebagai guru ASN di SMAS Keberbakatan Olahraga San Bernardino Lewoleba-Lembata. Bisa dihubungi melalui email: mudaalbertus@gmail.com. (*)
Ikuti terus informasi di Google News







