PORTAL JOGJA – Mulai Awal Tahun Depan, Kota Yogyakarta sudah tak mendapat jatah untuk membawa sampah ke Piyungan. Namun hal ini tak membuat risau bagi warga Kampung Cokrodiningratan. Mereka telah memantapkan diri dengan program Permak Jas Kamal.
Bukan sembarangan usaha permak jas, namun ini berupa “Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Cokrodiningratan Jogja Atasi Sampah dengan Kampung Maggot Lestari”. Program ini berupa mengolah sampah organik seperti sisa makanan sebagai pakan maggot. Selain sampah organik dapat diatasi, warga juga mendapat tabungan dari hasil panen maggot.
Budi Daya Maggot Berbuah Tabungan
Pembesaran maggot di Cokrodiningratan bermula dari kegiatan bank sampah kelompok Mitra Maggot Dayoku untuk mengatasi sampah organik. Pada April lalu, 10 warga ibu-ibu PKK setempat mulai beternak maggot dengan kotak yang dibagikan ke rumah warga. Hasil penjualan panen maggot tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk tabungan.
Saat ini, tercatat 47 anggota aktif kelompok Maggot Mitra Dayoku yang mengikuti usaha pembesaran maggot. Telah 18 kali masa panen maggot dilalui dengan hasil berkisar 3-5 kg tiap warga. Ketua Kampung Cokrodiningratan Anwar Setyowantono mengabarkan hal tersebut.
“Jadi dua minggu sekali tebar kemudian panen.Tidak ada jeda sehingga masyarakat rutin mengolah sampah organik secara mandiri. Kelebihan dari pembesaran maggot di sini adalah semua sampah organik yang matang, semua sampah organik yang dari sisa-sisa sayur, itu bisa terurai dengan habis. Biasanya kita kalau membuang sampah harus mengeluarkan uang, tapi ini menghasilkan uang. Ini jadi pemantik, bagi masyarakat Kampung Cokrodiningratan,” katanya, sebagaimana dikutip dari laman pemkot setempat.
Hal ini telah dibuktikan sendiri oleh Nur Fitrilati yang juga merupakan warga Cokrodiningratan. Dalam sekali panen, Fitri dapat menerima hasil sekitar 1,5-3 kg dari 4 kotak maggot yang dipunyainya. Dia menyebut bahwa sampah organik yang dapat diserap antara 1-2 kg/hari.
Selain dari rumahnya sendiri, sampah organik yang dikelolanya juga menampung dari sejumlah tetangga yang tak memelihara maggot. Dengan harga jual panen maggot sekitar Rp 5.000/kg, dirinya sudah menghasilkan tabungan maggot sekitar Rp 70.000.
“Manfaatnya sangat banyak ya. Kebetulan untuk mengatasi sampah organik. Kita sudah sama sekali tidak membuang sampah (organik). Pelihara maggot itu kita mengurangi sampah organik dan mendapat rupiah tabungannya itu bonus,” ujar Fitri.
Ke depannya, pihak Kampung Cokrodiningratan akan melakukan kerja sama dengan pihak pegadaian dalam mengelola uang hasil panen maggot. Nantinya, tabungan panen maggot dikelola menjadi tabungan emas pegadaian.
Wali Kota Beri Apresiasi
Langkah Kampung Cokrodiningratan dengan progam Permak Jas Kamal ini mendapat apresiasi dari Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. Dengan keterbatasan lahan yang dimiliki Kota Yogyakarta untuk mengelola sampah, program seperti Permak Jas Kamal dengan menjadi alternatif solusi.
“Harapan saya ini di-gethoktular-kan ke wilayah lain supaya dicontoh. Jangan hanya di kampung Cokro, tapi mungkin di kampung-kampung yang lain,” ucap Hasto saat peluncuran Permak Jas Kamal di Pendopo Kelurahan Cokrodiningratan pada Sabtu (27/12).
Sosok orang nomor satu di Kota Yogyakarta ini juga mengajak pihak di luar Kampung Cokrodiningratan untuk mengelola sampah organik sendiri agar tidak perlu ada yang dibawa depo. Sampah sisa makanan atau organik dan daun-daunan dikumpulkan dimasukan ke ember lewat penggerobak dan dijemput oleh off taker sampah organik.***

Tinggalkan Balasan