KORAN – PIKIRAN RAKYAT – Saat bercermin, banyak orang mendapati bercak cokelat yang tiba-tiba muncul di wajah, mungkin tak pernah ada sebelumnya. Pada awalnya samar, lama-kelamaan bercak itu semakin terlihat. Meski sudah mencoba berbagai produk perawatan kulit, bercak ini sering kali sulit hilang. Pada titik ini, banyak orang mulai merasa khawatir dan kehilangan rasa percaya diri.
Kondisi ini dikenal dengan nama melasma, salah satu bentuk hiperpigmentasi yang paling sering muncul di wajah dan terbilang bandel untuk diatasi.
Apa itu melasma? Secara medis, melasma terjadi ketika produksi melanin, pigmen pemberi warna pada kulit, meningkat secara berlebihan di lapisan epidermis maupun dermis. Bercak berwarna cokelat hingga keabu-abuan akan muncul secara simetris, umumnya di pipi, dahi, atas bibir, atau dagu. Meskipun tidak berbahaya dan tidak menular, melasma sering kali kambuh dan menjadi sumber kecemasan bagi penderitanya.
Faktor pemicu
Dilansir Antara akhir pekan lalu, penyebab melasma cukup beragam. Paparan sinar matahari yang berulang dan intens menjadi salah satu faktor utama, diikuti dengan perubahan hormon, seperti pada masa kehamilan atau penggunaan kontrasepsi hormonal. Selain itu, riwayat genetik, trauma pada kulit akibat iritasi atau prosedur tertentu, serta penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko melasma.
Melasma tidak tersebar merata di seluruh dunia. Di Asia Tenggara, prevalensinya bisa mencapai 40%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global. Ini dipengaruhi oleh tipe kulit yang cenderung lebih gelap dan paparan sinar matahari tropis yang terus menerus sepanjang tahun.
Menurut dr. Tanya Febrina, seorang dokter kulit berpengalaman dari Pekanbaru, hormon estrogen dan progesteron dapat meningkatkan pigmentasi kulit, yang menjelaskan mengapa melasma sering muncul selama kehamilan atau penggunaan kontrasepsi hormonal. Risiko melasma juga lebih tinggi pada mereka yang memiliki riwayat melasma dalam keluarga, khususnya pada tipe kulit sawo matang hingga gelap.
Penanganan
Melasma tampil sebagai bercak tidak beraturan dengan warna yang bervariasi, dari cokelat muda hingga kebiruan. Penanganan melasma pun membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati dan terukur. Konsultasi dengan dokter kulit menjadi langkah penting untuk memastikan tipe melasma dan kedalaman pigmen, yang akan menentukan jenis terapi yang tepat.
Salah satu terapi utama untuk melasma adalah obat oles depigmentasi, seperti hydroquinone atau tretinoin, yang harus digunakan dengan pengawasan dokter. Untuk kulit yang sensitif, alternatif lain seperti asam azelaic, asam kojic, atau vitamin C dapat digunakan. Penggunaan obat-obatan ini bertujuan untuk menekan aktivitas melanin tanpa menyebabkan iritasi lebih lanjut.
Pada sebagian pasien, terapi topikal ini bisa dikombinasikan dengan prosedur klinis seperti chemical peeling atau laser, yang ditujukan untuk melasma yang lebih dalam atau membandel. Teknologi laser bekerja dengan menargetkan pigmen secara langsung tanpa merusak jaringan di sekitarnya.
Perlindungan terhadap sinar matahari menjadi langkah utama dalam mencegah melasma semakin parah. Sunscreen bukan sekadar tambahan kosmetik, melainkan bagian integral dari terapi melasma. Tanpa penggunaan tabir surya yang tepat, hasil perawatan bisa kembali memudar dengan cepat.
Edukasi
Sering kali, masyarakat melakukan pendekatan trial-and-error dalam mencoba berbagai produk tanpa diagnosis yang jelas. Ini dapat menyebabkan perbaikan sesaat yang diikuti dengan iritasi atau bercak yang semakin gelap. Padahal, melasma adalah kondisi kronis yang memerlukan pemahaman menyeluruh terkait jenis melasma, faktor pemicunya, dan terapi yang aman.
Penting untuk menangani melasma dengan pendekatan klinis yang sistematis dan personal. Pemahaman yang baik tentang melasma membantu penderitanya memilih terapi yang tepat. Terapi yang dilakukan bertahap dan aman akan memberikan hasil yang lebih efektif dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, melasma adalah sinyal dari tubuh yang mengajak kita untuk lebih mem
ahami kondisi kulit kita. Penanganan yang tepat dan sikap menerima diri sangat penting dalam mengelola kondisi ini. Yang terpenting, nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh warna kulitnya, dan edukasi yang benar dapat membantu siapa pun menjalani hidup dengan lebih tenang meski bercak melasma masih ada.***







