Agama Kristen di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, mencerminkan perjalanan kekristenan dari masa penjajahan hingga kini. Mayoritas umat Kristen di Indonesia adalah umat Protestan, dengan jumlah penduduk yang mengikuti ajaran Protestan mencapai sekitar 16,5 juta orang, sementara sisanya sekitar 7 juta orang mengikuti ajaran Katolik. Komunitas-komunitas Kristen tersebar tidak merata di seluruh negeri, dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah di wilayah Timur Indonesia menjadi tempat tinggal utama bagi komunitas ini.
Lokasi-lokasi dengan komunitas-komunitas Kristen yang cukup besar antara lain Sumatra Utara, Kalimantan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Maluku, Papua, Flores, Sumba, dan Timor Barat. Wilayah-wilayah ini memiliki sejarah yang kaya akan pengaruh agama Kristen, baik melalui aktivitas misionaris maupun interaksi dengan komunitas lokal.
Kedatangan Kekristenan di Nusantara dapat ditelusuri kembali ke abad ke-12, ketika sumber pertama mengenai kehadiran agama Kristen ditemukan dalam karya ensiklopedia oleh Abu Salih Al-Armini, seorang Kristen Mesir. Namun, para ilmuwan menyatakan bahwa lokasi yang disebutkan mungkin salah. Setelah Portugis menaklukkan Malaka pada tahun 1511, mereka berlayar ke Kepulauan Maluku dan mulai menyebarkan ajaran Katolik. Pada akhir abad ke-16, sekitar 20% penduduk Maluku bagian selatan diklasifikasikan sebagai umat Katolik. Orang-orang Belanda kemudian datang dan mendirikan pemukiman di Ternate pada tahun 1607, memperkuat pengaruh Protestan-Calvinis di wilayah tersebut.
Selama periode penjajahan, aktivitas misionaris tetap terbatas karena pemerintah kolonial tidak secara langsung mendukung penyebaran agama. Namun, pada abad ke-19, organisasi-organisasi misionaris seperti Serikat Misionaris Belanda dan Kelompok Misionaris Rhenish mulai aktif di Hindia Belanda. Pemisahan gereja dan negara pada masa itu memungkinkan aktivitas misionaris non-pemerintah berlangsung. Pada tahun 1900, meskipun aktivitas misionaris telah menyebar di seluruh wilayah koloni, jumlah umat Kristen tidak banyak bertambah, kecuali di Minahasa dan Tapanuli.
Di masa kini, agama Kristen masih menjadi agama minoritas di Indonesia. Umat Kristen memiliki posisi sosial politik yang relatif lemah, kecuali di wilayah-wilayah mayoritas Kristen. Meskipun begitu, umat Kristen Indonesia tetap menjunjung rasa kebangsaan dan persatuan nasional. Namun, terdapat beberapa insiden serangan kelompok radikal Muslim terhadap gereja-gereja dan umat Kristen, terutama di pulau Jawa. Situasi ini dipengaruhi oleh sejarah kolonial dan peran elit Kristen dalam politik dan ekonomi setelah kemerdekaan.
Dalam konteks budaya, musik Kristen juga memiliki peran penting. Festival seperti Pesparawi dan Pesparani menjadi wadah untuk memperkuat iman dan persatuan umat Kristen. Selain itu, seminari dan sekolah teologi di Indonesia terus berkembang, memberikan pendidikan teologis kepada calon pelayan gereja.








