Paus Leo XIV: Semoga suara senjata berhenti

Ringkasan Berita:

  • Paus Leo XIV memberikan pesan Natal pertamanya sebagai pemimpin umat Katolik sedunia.
  • Pernyataan Paus Leo XIV disamaikan dari balkon utama Basilika Santo Petrus, Vatikan, Kamis (25/12/2025).
  • Paus mendesak Rusia dan Ukraina berani terlibat dalam dialog dan mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tiga tahun.
  • Sri Paus kembali mengulang permohonan agar setidaknya Hari Raya Natal dihormati sebagai hari perdamaian.

 

Bacaan Lainnya

 

, ROMA –“Semoga suara senjata berhenti, dan semoga pihak-pihak yang terlibat, dengan dukungan dan komitmen komunitas internasional, menemukan keberanian untuk terlibat dalam dialog yang tulus, langsung, dan penuh hormat.”

Demikian pernyataan Paus Leo XIV dari balkon utama Basilika Santo Petrus, Vatikan, Kamis (25/12/2025).

Pesan itu disampaikan pemimpin umat Katolik sejagat tersebut  sebelum memberikan berkat Urbi et Orbi (bagi Kota dan Dunia) di hadapan sekitar 26.000 umat beriman yang memadati Lapangan Santo Petrus Vatikan. 

Dalam pesan Natal pertamanya sebagai pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus mendesak Rusia dan Ukraina berani terlibat dalam dialog dan mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tiga tahun. 

Paus berkebangsaan Amerika Serikat itu juga berharap tercipta setidaknya “24 jam perdamaian di seluruh dunia”.  

Harapan itu disampaikan di tengah berlanjutnya pertempuran di Ukraina dan belum tercapainya kesepakatan gencatan senjata. 

Sangat Sedih

Pada hari Selasa (23/12/2025), Paus Leo XIV menyampaikan keprihatinan serupa saat berada di Castel Gandolfo, tempat peristirahatan musim panas paus.  

Ia menyebut penolakan Rusia terhadap gencatan senjata sebagai salah satu hal yang membuatnya sangat sedih.

“Di antara hal-hal yang membuat saya sangat sedih adalah kenyataan bahwa Rusia tampaknya telah menolak permintaan gencatan senjata,” ujarnya. 

Ia kembali mengulang permohonan agar setidaknya Hari Raya Natal dihormati sebagai hari perdamaian. 

Sejak awal, Vatikan secara konsisten mendesak Rusia-Ukraina untuk terlibat dalam dialog yang jujur dan penuh hormat guna mencegah kehancuran yang lebih luas. Sikap ini sejalan dengan pandangan Paus Fransiskus sebelumnya.  

Pada 2023, menjelang satu tahun pecahnya perang, Paus Fransiskus menyampaikan seruan keras agar konflik dihentikan. “Saya menyampaikan permohonan yang paling sungguh-sungguh kepada bangsa-bangsa yang berperang untuk perdamaian yang stabil dan terhormat bagi semua. Sayangnya, permohonan saya tidak didengar, dan perang berlanjut, dengan sengit, selama dua tahun lagi, dengan segala kengeriannya,” kata Paus Fransiskus kala itu. 

“Perang menjadi semakin kejam dan meluas ke darat, laut, bahkan ke udara, dan kematian menimpa kota-kota yang tak berdaya, desa-desa yang tenang, dan penduduknya yang tak berdosa,” lanjutnya.

Sejak awal masa kepausannya, Paus Leo XIV dikenal mengambil sikap tegas terhadap perang di Ukraina.  Tiga hari setelah terpilih sebagai Paus, pada 11 Mei 2025, ia secara terbuka menyampaikan simpatinya kepada rakyat Ukraina. 

“Saya turut merasakan penderitaan rakyat Ukraina yang terkasih,” ujarnya saat itu. 

Paus Leo XIV juga menekankan bahwa tidak ada kemenangan bersenjata yang dapat menggantikan penderitaan para ibu, ketakutan anak-anak, serta masa depan yang direnggut akibat perang.  

Ia menyoroti penderitaan warga sipil dan rusaknya infrastruktur akibat serangan bersenjata. 

“Dunia kita terus terluka oleh perang di Ukraina dan di banyak wilayah lain di dunia,” kata Paus Leo XIV dalam pernyataannya pada Agustus 2025. 

Dalam pertemuan dengan para peziarah Ukraina pada 28 Juni 2025, Paus kembali menyatakan kedekatannya dengan rakyat Ukraina, khususnya keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih, para tawanan, dan korban “perang yang tidak masuk akal”. 

Bahkan, sebelum terpilih, Paus Leo XIV telah secara terbuka menentang agresi Rusia.  

Pada tahun 2022, ia menyebut perang di Ukraina sebagai “invasi imperialis” yang bertujuan merebut kekuasaan.  

Sikap ini menandai perbedaan pendekatan dengan Paus Fransiskus yang sebelumnya lebih menekankan jalur diplomasi dan persaudaraan.

Menyebut krisis di Gaza

Dalam pesan Natal, Paus Leo XIV juga menyerukan perdamaian dan penghiburan bagi para korban konflik di berbagai belahan dunia.  

Ia menyoroti penderitaan akibat ketidakadilan, ketidakstabilan politik, penganiayaan agama, dan terorisme. 

Paus secara khusus menyebut Gaza, yang hancur akibat perang dan krisis kemanusiaan.  

Ia mengatakan kisah kelahiran Yesus menunjukkan bahwa Tuhan telah mendirikan kemah-Nya yang rapuh di antara orang-orang di dunia.  

“Lalu, mengapa kita tidak memikirkan tenda-tenda di Gaza, yang terpapar hujan, angin, dan dingin selama berminggu-minggu?” ujarnya. 

Paus mendoakan perdamaian bagi Thailand, Kamboja, Myanmar, Lebanon, Palestina, Israel, Suriah, Sudan, Sudan Selatan, Amerika Latin, Mali, Burkina Faso, Republik Demokratik Kongo, hingga Haiti. 

Untuk Ukraina, Paus Leo XIV kembali menegaskan harapannya agar “suara senjata berhenti” dan dialog yang tulus segera dimulai demi perdamaian yang adil dan abadi. 

Perdamaian merupakan tema sentral dalam ajaran Gereja Katolik. Prinsip ini telah tertanam dalam Alkitab dan tradisi Kristen, serta menjadi dasar wacana Takhta Suci selama berabad-abad. 

Dalam ensiklik Pacem in Terris (1963), Paus Yohanes XXIII menjadikan perdamaian sebagai prioritas utama kepausan.  

Ia menyerukan pelucutan senjata menyeluruh yang harus dimulai dari pembaruan hati dan pikiran manusia. 

“Perdamaian sejati dan abadi antar bangsa tidak dapat terdiri dari kepemilikan persediaan persenjataan yang sama, tetapi hanya dalam saling percaya,” tulis Paus Yohanes XXIII. 

Sumber: Kompas.com 

Simak terus berita di Google News

Pos terkait