Isi Artikel
Pusat Bedah Robotik dan Minimal Invasif Pertama di Indonesia
Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), salah satu rumah sakit unggulan dalam jaringan Siloam International Hospitals, baru saja meluncurkan Center for Robotic and Minimally Invasive Surgery. Pusat ini menjadi yang pertama di Indonesia yang menghadirkan teknologi bedah robotik dan minimal invasif. Kehadirannya menandai perkembangan besar dalam pelayanan kesehatan di Tanah Air, dengan fokus pada sayatan minimal, presisi tinggi, pemulihan cepat, serta risiko komplikasi yang lebih rendah.
“Teknologi ini telah hadir dan digunakan secara nyata untuk meningkatkan mutu tindakan bedah dengan mengatasi keterbatasan tangan manusia, keterbatasan mata manusia, dan juga kelelahan manusia,” ujar CEO Siloam International Hospitals Caroline Riady saat peluncuran pusat tersebut.
Saat ini, Siloam Hospitals Kebon Jeruk mengoperasikan tiga sistem robotik, yaitu Da Vinci Xi untuk urologi, ginekologi, bedah digestif, dan bedah umum; Biobot MonaLisa untuk diagnostik kanker prostat presisi tinggi; serta ROSA untuk prosedur ortopedi, khususnya total knee replacement. Seluruh teknologi tersebut dioperasikan oleh tim dokter spesialis multidisiplin yang memiliki sertifikasi internasional di bidang bedah robotik.
Dalam operasionalnya, pusat bedah robotik ini melibatkan dokter-dokter spesialis berpengalaman di bidangnya, seperti dr. Marto Sugiono, SpU (K), FRCS-Urology (UK) (bidang urologi); dr. Ferdhy Suryadi Suwandinata, SpOG-KFER (bidang obstetri dan ginekologi); Dr. dr. Wifanto Saditya Jeo, Sp.B-KBD (bidang Bedah Digestif); serta Dr. dr. Franky Hartono, Sp.OT (K) (bidang Ortopedi).
Keunggulan Da Vinci Xi Surgical System
Menurut dr. Ferdhy, keunggulan utama robotik Da Vinci Xi terletak pada stabilitas kamera dan kendali instrumen yang sangat presisi. Seluruh gerakan operator diterjemahkan secara akurat oleh robot, sementara sistem pengaman otomatis akan menghentikan pergerakan bila operator tidak berada pada posisi visual yang tepat di konsol.
“Robotik Da Vinci Xi memiliki sistem keamanan yang sangat baik. Gerakan akan otomatis berhenti jika dokter tidak melihat layar konsol, sehingga risiko kesalahan dapat ditekan seminimal mungkin,” ujarnya.
Dr. Ferdhy menjelaskan bahwa teknologi robotik sangat membantu dalam menangani kasus-kasus sulit, seperti endometriosis dengan perlekatan di area yang sulit dijangkau. Robotik bedah Da Vinci Xi memiliki 4-Lengan robotik generasi terbaru yang memberikan fleksibilitas tinggi dan stabilitas maksimal.
Tampilan visual 3D High-Definition Vision System dengan pembesaran hingga 10 kali, menghasilkan visualisasi organ yang sangat detail. EndoWrist® Technology mampu melakukan gerakan menyerupai pergelangan tangan manusia dengan ketepatan lebih tinggi. Fitur lainnya, yakni Integrated Table Motion yang memungkinkan penyesuaian posisi meja operasi selaras dengan gerakan lengan robot. Serta, Dual Console Option untuk pendidikan dan kolaborasi antara dua ahli bedah.
Biobot Tingkatkan Akurasi Diagnosis Kanker Prostat
Biobot juga berperan penting dalam meningkatkan akurasi diagnosis kanker prostat. Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), Biobot mampu mendeteksi tumor prostat berukuran sangat kecil dengan tingkat akurasi lebih dari 95 persen. Teknologi ini memungkinkan biopsi dilakukan secara presisi dan aman, dengan risiko infeksi dan perdarahan yang jauh lebih rendah dibandingkan metode konvensional.
Hingga kini, ratusan prosedur biopsi telah dilakukan menggunakan Biobot, sehingga pasien tidak lagi harus dirujuk ke luar negeri. “Tujuan utama kami adalah agar pasien Indonesia bisa mendapatkan layanan terbaik di dalam negeri, tanpa harus berobat ke luar negeri,” ujar dr. Marto Sugiono, SpU (K), FRCS-Urology (UK).
ROSA untuk Penggantian Sendi Lutut
ROSA (Robotic Surgical Assistant) adalah teknologi robotik bedah yang membantu dokter ortopedi melakukan pembedahan penggantian sendi lutut dengan tingkat presisi tinggi dan hasil yang lebih optimal bagi pasien. Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan, Dr. dr. Franky Hartono, SpOT (K) menjelaskan bahwa berbeda dengan robotik bedah yang bekerja pada jaringan lunak, robotik ROSA dirancang khusus untuk menangani struktur keras seperti tulang, yang membutuhkan pendekatan dan perhitungan konstruksi yang sangat presisi.
“Kalau ortopedi itu seperti ilmu konstruksi. Kalau memotong dan memasang tidak presisi, hasil akhirnya bisa miring, tidak nyaman, bahkan mengganggu fungsi sendi dalam jangka panjang,” ujar dr. Franky.
Sebelum operasi dilakukan, data lutut pasien diambil melalui pemeriksaan X-ray dan diolah menjadi model tiga dimensi. Data ini kemudian dimasukkan ke dalam sistem komputer ROSA untuk membantu dokter merencanakan posisi pemotongan dan pemasangan implan sendi lutut secara presisi.
“ROSA ini seperti GPS. Dia memberi tahu kalau arah potongannya kurang pas, terlalu miring, atau perlu disesuaikan. Kalau tidak sesuai perhitungan, sistem bahkan bisa menolak,” jelasnya.
Meski menggunakan robotik, keputusan akhir tetap berada di tangan dokter. ROSA berfungsi sebagai asisten yang memberikan data dan rekomendasi, sementara dokter menyesuaikan tindakan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
Masa Pemulihan Pasien
Terkait masa pemulihan, Dr. dr. Franky menjelaskan bahwa target utama dari penggunaan Robotic and Minimally Invasive Surgery ini bukan sekadar pasien jadi bisa cepat pulang dari rumah sakit, melainkan memastikan pasien nyaman, mandiri, dan kuat untuk kembali beraktivitas tanpa bergantung pada keluarga pasca di operasi menggunakan Robotic and Minimally Invasive Surgery.
“Rata-rata sekitar empat hari pasien sudah boleh pulang dan bisa kembali beraktivitas normal secara bertahap. Yang penting kualitas pemulihannya,” pungkasnya.







