Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muhammad Nuh menyampaikan bahwa Rais Aam Miftachul Akhyar telah memberikan maaf kepada Ketua Umum PBNU sebelumnya, Yahya Cholil Staquf. Keputusan ini menjadi langkah penyelesaian konflik internal yang terjadi antara kubu Rais Aam dan Yahya Staquf.
Menurut Nuh, keputusan Rais Aam untuk memaafkan Yahya Staquf didasarkan atas kesalahan yang dilakukan oleh mantan ketua umum tersebut dalam mengundang Peter Berkowitz, seorang peneliti pro-Israel, sebagai narasumber dalam acara Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama di Jakarta pada 15-16 Agustus 2025. Pemafihan ini juga disampaikan dengan niat kebesaran jiwa dari jajaran Syuriyah PBNU.
“Rais Aam dan Wakil Rais Aam menyampaikan sikap kebesaran jiwa dengan memberikan maaf atas permohonan maaf Ketua Umum PBNU,” ujar Nuh dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan pada Kamis, 25 Desember 2025.
Nuh menjelaskan bahwa pemaafan ini merupakan bagian dari tradisi NU yang menekankan akhlak, tabayun, dan penyelesaian masalah secara bijaksana. Selain itu, keputusan ini juga muncul dari kebutuhan organisasi untuk tetap berjalan stabil dan menjaga keutuhan.
Sebelumnya, Yahya Staquf dinilai melanggar anggaran dasar/anggaran rumah tangga serta Peraturan Perkumpulan NU karena menghadirkan peneliti pro-Israel tersebut. Jajaran Syuriyah kemudian menggelar rapat harian di Hotel Aston, Jakarta, pada 20 November 2025. Hasil rapat tersebut meminta Yahya mengundurkan diri dari jabatan ketua umum dalam waktu tiga hari.
Yahya menolak permintaan tersebut hingga akhirnya Syuriyah memutuskan mencopotnya dari jabatan ketua umum pada 26 November 2025. Syuriyah bahkan mengangkat Zulfan Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU untuk menggantikan Yahya.
Yahya menentang pemecatan tersebut dan menilai bahwa tindakan ini bertentangan dengan AD/ART organisasi. Ia lalu melakukan rotasi posisi Saifullah Yusuf dari jabatan Sekretaris Jenderal ke Ketua PBNU bidang Pendidikan, Hukum, dan Media pada 28 November 2025. Kubu Yahya juga menunjuk Amin Said Husni sebagai sekretaris jenderal.
Konflik yang terjadi memicu serangkaian pertemuan oleh sesepuh NU dan Mustasyar PBNU di berbagai pesantren seperti Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri; Pesantren Tebuireng Jombang; hingga Musyawarah Kubro di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada 21 Desember 2025. Hasil musyawarah tersebut merekomendasikan islah antara kedua kubu serta pelaksanaan muktamar.
Selanjutnya, jajaran Syuriyah menginisiasi rapat konsultasi di Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis, 25 Desember 2025. Rapat ini dihadiri oleh jajaran Syuriyah, Mustasyar, pengurus Tanfidziyah termasuk Yahya Staquf, hingga para kiai sepuh Nahdlatul Ulama. Hasil rapat konsultasi menyepakati akan segera menggelar muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Setelah rapat konsultasi, Miftachul Akhyar dan Yahya Staquf bertemu dihadapan para kiai NU.
Muhammad Nuh menambahkan, kesepakatan untuk segera menggelar muktamar merupakan upaya menjaga ketertiban organisasi dan keutuhan umat. Rencana muktamar ke-35 akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang diatur dalam AD/ART organisasi.
Penggelaran muktamar dalam waktu dekat ini juga berarti mempercepat pelaksanaan forum tertinggi di Nahdlatul Ulama. Jika merujuk masa jabatan Yahya Staquf periode 2021-2026, muktamar akan digelar pada akhir 2026 atau di awal 2027.
“Langkah-langkah teknis akan disiapkan oleh PBNU agar pelaksanaan muktamar dapat berlangsung tertib, sah, dan bermartabat,” ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.
Nuh berharap seluruh anggota NU dan jajaran pengurus di semua tingkatan menjaga suasana kondusif sembari mempersiapkan muktamar. Ia juga meminta warga NU mempercayakan proses pergantian kepemimpinan di PBNU kepada mekanisme yang telah disepakati bersama.







