Juli 26, 2026

Modernisasi di langit UNESCO: Kala capung raksasa bersinergi dengan harmoni Tri Hita Karana

0
AA1T93VD.jpg

Bali.pikiran-rakyat.com– Hawa sejuk disertai kehangatan sinar matahari pagi menyelimuti terasering Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, saat jarum jam menunjukkan pukul 10.30 WITA. Di hamparan sawah yang dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO ini, para petani baru saja menuntaskan ritual panen padi beras putih di musim tanam kedua tahun 2025 ini.

Sisa-sisa batang padi masih tertancap di lahan persawahan yang bersaf-saf, kontras dengan langit biru yang bersih. Di beberapa sudut, nampak petani sibuk memotong jerami atau sekadar bersantai di bale bengong, menanti masa tanam beras merah yang baru akan tiba pada Januari 2026 mendatang.

Di tengah keheningan lanskap hijau itu, sebuah suara asing muncul ke cakrawala. Sebuah dengungan ritmis yang stabil, ‘whirrr… whirrr…’ terdengar menggelora. Suara itu bukan berasal dari helikopter, melainkan dari sebuah inovasi yang sedang mengubah wajah agraris “Bumi Lumbung Pangan” Bali.

Suara itu berasal dari sebuah drone dengan ukuran 2800 mm × 3150 mm × 780 mm bak ‘Capung Raksasa’, bergerak ke ketinggian membelah langit Jatiluwih. Inilah simbol transformasi pertanian menuju industri yang lebih efisien dan akuntabel, selaras dengan semangat Pupuk Indonesia dalam mendorong perubahan sektor pangan nasional.

Di antara lekuk terasering, I Putu Joni Astrawan (32) nampak sibuk dengan aktivitas baru bagi pertanian tradisional. Tangannya tidak memegang cangkul, melainkan memeriksa sensor dan lengan baling-baling pada mesin seberat 50 kilogram bernama DJI Agras T40. Bersama I Gede Rizky Saputra (20), dan I Made Prasetia Candra Andika (28), mereka menjadi operator yang bertanggung jawab memastikan “nutrisi langit” tersalurkan dengan presisi di tujuh tempek Subak Jatiluwih.

Meski wilayah ini memiliki sekitar 500-an petani, saat ini baru sekitar separuhnya yang mulai beralih dan meminta pihak DTW (Daya Tarik Wisata) Jatiluwih untuk melakukan penyemprotan drone di lahan mereka. Angka ini menandakan fase transisi selama setahun ini sedang berjalan menuju pertanian digital yang lebih masif.

Bagi Joni, menerbangkan drone di Jatiluwih menuntut ketelitian matematis. Ia menjelaskan bahwa kunci keberhasilan penyemprotan ada pada standarisasi dosis per satuan luas lahan. Dasar hitungan, dimulai dari skala luasan lahan 10 are, dosis standarnya adalah 8 hingga 10 liter air yang dicampur dengan 150 mililiter pupuk organik cair H2F1 (Hormon Hara Formula Satu Plus).

Data dasar inilah yang kemudian dikalibrasi untuk lahan yang lebih luas. “Jadi kalau misalnaya untuk lahan 25 are, total campurannya menjadi 12 sampai 15 liter air dan 300 sampai 350 mililiter pupuk cair. Dosis anjuran dari pencipta pupuk cair sendiri per 1 hektare itu sekitar 1,5 liter, dan air 35 sampai 40 liter per 1000 meter persegi. Jadi tinggal dibagi sesuai luasan lahan,” jelasnya, Kamis (25/12).

Joni melanjutkan, bahwa luasan lahan di Jatiluwih, jarang yang ada lebih dari 70 are, rata-rata di bawah itu. Tangki DJI Agras T40 yang memiliki kapasitas maksimal 40 liter air, dan rata-rata dalam satu ‘rit’ atau sekali terbang bisa menyemprot keseluruhan lahan. “Intinya yang baku adalah pada hitungan pupuk cair. Kalau hitungan air tidak baku. Kami “main” di tingkat kekentalan pokoknya,” imbuhnya.

Joni mengatur sedemikian rupa agar cairan yang keluar dari nosel drone berbentuk kabut (mist). “Kalau sistem kabut, penyerapan pupuk ke stomata daun jauh lebih maksimal daripada hanya sekadar membuat sawah basah kuyup. Tapi ini semua tergantung permintaan petani,” paparnya. Ia menegaskan, “Sebagian para petani, kadang ada juga yang meminta penyemprotan sawahunya itu basah kuyup.”

Teknologi ini merupakan bantuan dari Bank Indonesia kepada DTW Jatiluwih, di mana petani mendapatkan penyemprotan pupuk organik cair H2F1 secara gratis. Jadwal penyemprotan dimulai dari 10 hingga 14 Hari Setelah Tanam (HST), lalu berlanjut setiap dua pekan sekali hingga kondisi padi “bunting”.

Keunggulan lain dari teknologi ini adalah akuntabilitas data. Setiap jengkal tanah yang disemprot akan tersimpan sebagai rekaman digital. Jika musim tanam depan tiba, Joni tidak perlu melakukan pemetaan ulang; pesawat nirawak akan terbang secara otomatis menyusuri jalur yang sama dengan dosis yang tetap akurat.

“Untuk luasan lahan 25 are itu penyemprotan paling tidak hanya butuh waktu 5 sampai 7 menit. Kalau lebih dari 50 are, misal 60 are waktunya hanya 14 menit,” ucapnya.

Namun, mengoperasikan drone seberat 50 kilogram di medan Jatiluwih yang berundak adalah tantangan tersendiri. Medan terasering yang miring sering menjadi musuh bagi sinyal otomatis. “Kalau ada halangan kayu atau pohon besar, kami harus kerja berdua. Satu orang memegang remote, satu lagi menjaga di titik mendarat,” kata Joni.

Tantangan teknis juga mencakup kebutuhan daya. Untuk pengisian baterai jumbo tersebut, dibutuhkan daya listrik yang stabil setidaknya 6.000 Watt. Satu baterai akan terisi penuh dalam waktu 45 menit. Meski penuh tantangan, hasilnya sepadan. Dalam satu hari dengan cuaca bagus, Joni mampu meng-cover hingga tiga hektare lahan, pencapaian yang mustahil dilakukan manusia biasa dalam waktu sesingkat itu.

Punggung yang Tak Lagi Pegal

Manfaat nyata itu dirasakan hingga ke tulang oleh I Gede Made Ardana (51). Petani dari Tempek Umakayu yang akrab disapa Guru Yuda ini masih ingat betul bagaimana rasanya memikul tangki penyemprot seberat 20 kilogram sambil menapaki pematang yang curam dan licin.

“Dulu, kalau memupuk manual di lahan 25 are, saya butuh waktu tiga jam. Naik turun, memikul beban berat. Kalau tenaga habis, pasti sudah semprotan jadi tidak rata, dan banyak pupuk terbuang sia-sia,” kenang Guru Yuda sembari membetulkan udeng birunya. Kini, pemandangan petani yang terengah-engah itu mulai terkikis. Dengan “Capung Raksasa”, tugas fisik yang menguras raga itu tuntas dalam hitungan belas menit saja.

Efisiensi ini bukan sekadar soal punggung yang tak lagi pegal. Bagi Guru Yuda, teknologi adalah “pancingan” untuk sebuah kegelisahan yang lebih besar: regenerasi. Ia bercerita dengan nada getir tentang anaknya yang lebih memilih bekerja di Denpasar.

“Gajinya mungkin lima juta, tapi habis untuk kos dan makan. Pulang ke desa malah masih minta beras,” curhatnya. “Saya ingin anak muda lihat kalau bertani sekarang itu keren, pakai drone, pakai teknologi. Jadi mereka tidak malu pulang ke sawah.”

Efisiensi ini juga berdampak langsung pada hasil bumi. Penggunaan pupuk kimia pun berhasil ditekan hingga 50% dari anjuran biasanya berkat akurasi sistem pesawat nirawak. Hasilnya mencengangkan: dari yang biasanya hanya mendapat 8-9 kuintal, panen kali ini ia mampu mengantongi 1 ton 20 kilogram gabah dari luasan lahan yang sama.

Guru Yuda menegaskan bahwa satu hal yang pasti, di Jatiluwih, teknologi tetap tunduk pada tradisi. Prinsip Tri Hita Karana, hubungan dengan Tuhan, Alam, dan Sesama—tetap menjadi panglima. Masyarakat tidak perlu khawatir drone akan melanggar area suci Pura (Parahyangan).

“Kami sudah melakukan mapping. Jika ada Pura, jalur terbang drone akan diatur untuk menghindar,” tegasnya. Secara sosial (Pawongan), inovasi ini membuka peluang baru bagi anak-anak muda untuk kembali ke sawah. Dan secara alam (Palemahan), penggunaan dosis pupuk yang presisi mencegah pencemaran berlebih pada sistem air subak.

Ia juga berharap ada pihak-pihak yang akan kembali membantu pengadaan Capung Raksasa. Paling tidak butuh empat atau lima unit, supaya 227 hektare lahan di sini bisa merata disemprot pupuk organik cair.

“Jatiluwih ini dataran tinggi yang curah hujannya tinggi dan medannya beda dengan sawah-sawah lain di Bali atau Indonesia. Kalau hujan, sudah jelas operasional drone tidak bisa dilakukan. Semoga ada yang nanti membantu, entah dari pihak mana,” katanya.

Saat matahari mulai di atas ubun-ubun, Joni akhirnya mendaratkan DJI Agras T40-nya dengan mulus. Jatiluwih telah membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus datang dengan menghancurkan nilai-nilai luhur tempo dulu. Inovasi teknologi justru menjadi pelindung bagi warisan leluhur, memastikan punggung petani tak lagi pegal, dan harmoni Tri Hita Karana tetap abadi menyuarakan kemakmuran dari langit Tabanan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *