.CO.ID – JAKARTA. Tujuan-tujuan perbankan tampaknya tidak akan sepenuhnya tercapai pada akhir tahun 2025 karena kondisi ekonomi makro yang masih tidak mendukung. Kondisi ini telah terlihat dari laporan keuangan beberapa bulan terakhir di kuartal IV.
Mari melihat kondisi dua bank besar yang telah merilis laporan keuangan bulan November 2025, yaitu Bank Mandiri dan Bank Central Asia (BCA). Bank Mandiri menunjukkan kinerja yang cukup baik dengan pertumbuhan kredit sebesar 13,1% secara tahunan (year-on-year(YoY). Hasil tersebut melebihi target pertumbuhan 8%–10% yang ditetapkan bank untuk tahun penuh 2025.
Dengan meningkatnya kredit, bank mencatatkan penurunan rasio kredit yang tidak lancar menjadi 0,99%. Sebagai perbandingan, pada September 2025 tingkatnya masih berada di 1,03%.
Namun demikian, laba bersih bank selama tahun ini turun 6,41% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 44,15 miliar. Jika dilihat, hal ini sejalan dengan kenaikan beban operasional sebesar 37,35% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 44,31 triliun.
Meski demikian, Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengakui bahwa pertumbuhan dua digit untuk penyaluran kredit dan dana pihak ketiga (DPK) masih mungkin dipertahankan oleh bank hingga akhir tahun.
“Kami melihat proyeksi ekonomi nasional yang masih stabil sebagai kesempatan untuk menjaga kinerja yang kuat,” ujar Novita, Senin (15/12/2025).
Sementara itu, penyaluran kredit BCA pada November 2025 telah mencapai Rp 921,20 triliun. Angka ini memang mengalami pertumbuhan sebesar 5,18% dibanding tahun sebelumnya. Namun, capaian tersebut masih berada di bawah target pertumbuhan antara 6% hingga 8% yang ditetapkan oleh bank untuk keseluruhan tahun 2025.
Wakil Direktur Komunikasi Perusahaan dan Tanggung Jawab Sosial BCA Hera F Haryn mengatakan, hasil tersebut pada dasarnya tidak terlepas dari kondisi ekonomi makro nasional. “Secara prinsip, pertumbuhan kredit akan sejalan dengan kondisi perekonomian,” ujarnya.
Hingga akhir tahun ini, Hera menyatakan bahwa BCA tetap optimis akan mencapai target yang ditetapkan. Dalam hal ini, ia memastikan bahwa bank menyalurkan kredit berkualitas kepada berbagai segmen dan sektor dengan hati-hati sambil tetap menerapkan manajemen risiko yang ketat.
Di sisi lain, dari segi profitabilitas, NIM bank pada periode ini berada pada tingkat 5,7%. Namun, Hera menekankan bahwa NIM hanyalah salah satu dari beberapa komponen indikator profitabilitas. Meskipun demikian, laba bersih bank tetap mampu tumbuh sebesar 4,35% YoY menjadi Rp 52,67 triliun.
Nah, jika dua bank sebelumnya memutuskan tidak merevisi target, CIMB Niaga mengambil langkah yang lebih waspada. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengakui bahwa pihaknya menurunkan target pertumbuhan kreditnya dari sebelumnya berkisar antara 6–8% menjadi di bawah 5% untuk seluruh tahun 2025.
Meskipun demikian, jika melihat laporan keuangan bulan Oktober saja, pertumbuhan kredit masih cukup baik pada tingkat 7,98% YoY.
“Petunjuk kami tahun ini pertumbuhan kredit akan lebih rendah dibawah 5% karena penurunan permintaan di pasar dari semua segmen,” kata Lani.
Meskipun demikian, Lani memastikan target NIM sebesar 3,9% yang telah ditetapkan sejak awal untuk tahun penuh 2025 tetap tidak berubah, sesuai dengan target NPL di bawah 2%. Dengan demikian, pihaknya berupaya menjaga profit agar tidak tergerus di tengah ketidakpastian ekonomi.
Diketahui bahwa hingga Oktober 2025, laba bersih tahun berjalan CIMB Niaga masih mampu meningkat sebesar 6,44% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 5,77 triliun.
Tidak hanya dari bank dengan kapitalisasi pasar besar, langkah hati-hati juga diambil oleh Bank Neo Commerce. Bank digital yang memiliki modal inti sebesar Rp 4 triliun ini mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 7,2 triliun pada November 2025, turun 15,29% YoY. Direktur Bisnis Bank Neo Commerce Aditya Windarwo menyebutkan, penurunan ini merupakan dampak dari pengendalian penyaluran kredit yang dilakukan oleh bank.
Bahkan hingga akhir tahun, bank masih mencatat penyaluran kredit sekitar Rp 7 triliun. Secara keseluruhan, Adit menilai kinerja yang telah tercapai mencerminkan kinerja akhir tahun bank tersebut.
Menurut Moch Amin Nurdin, Konsultan Pusat Pengembangan Perbankan dan Keuangan, secara umum kinerja pada bulan November menjadi gambaran kinerja akhir tahun perbankan karena biasanya telah ditetapkan sebagai prediksi capaian hingga akhir tahun.
“Maka tidak akan berbeda secara signifikan,” kata Amin.
Secara umum, Amin menganggap berbagai indikator kinerja keuangan yang telah ditetapkan oleh bank memang tidak akan semuanya tercapai. Bank-bank besar masih mendapatkan banyak manfaat dari cukupnya modal untuk melakukan ekspansi serta kesetiaan nasabah. Hanya saja, efisiensi dan pengelolaan risiko, khususnya terkait kredit, tetap menjadi faktor penting dalam menilai kinerja perbankan pada akhir tahun nanti.
Selanjutnya, Amin menganggap tahun 2026 tidak akan mudah. “Dalam jangka pendek, 2026 tidak sebesar 2025,” ujarnya.
Namun demikian, ia melihat bank akan lebih siap setelah melewati situasi tahun 2025.
“Maka pasti akan terjadi perbaikan, strategi akan mereka sesuaikan. Tahun 2026 diharapkan akan lebih baik,” tutupnya.






