Mengamati Kebijakan Gerakan Ayah Ambil Rapor ke Sekolah

.CO.ID,Oleh: Hendarman, Ketua Dewan Pakar JFAK INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan

Ada surat edaran yang mengajak para ayah untuk mengambil rapor ke sekolah tergolong menarik. Surat edaran ini berjudul ‘Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak Ke Sekolah’. Surat edaran ini dikeluarkan oleh kementerian yang menangani kependudukan dan pembangunan keluarga. Mengapa menarik?

Pertama, kebijakan ini diumumkan berdasarkan isufatherlessdi Indonesia. Dalam surat edaran tersebut, isu ini diduga tidak hanya terjadi ketika ayah secara fisik tidak hadir, tetapi juga meliputi ketidakberadaan keterlibatan emosional ayah, meskipun masih tinggal bersama keluarga.

Surat keputusan mengungkapkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) tahun 2025. Pendataan ini menemukan bahwa satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia mengalami kondisifatherless sebesar 24,8%.

Pembaruan Data Keluarga menunjukkan bahwa aspek ekonomi seperti perceraian sering kali menjadi dua faktor utama yang berkontribusi pada tingginya jumlah anak tanpa ayah di Indonesia. Surat edaran ini bertujuan sebagai solusi untuk mencegah timbulnya masalah akademik, perilaku agresif, hingga keterlibatan dalam tindakan berisiko.

Kedua, surat edaran ini berusaha meyakinkan masyarakat dengan memberikan penjelasan dan klarifikasi mengenai alasan mengapa ‘Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak Ke Sekolah’ perlu segera diterbitkan.

Sebuah kebijakan, termasuk surat edaran, seharusnya memang menyampaikan kejelasan mengenai akar dari masalah yang ada (root of the causes). Kebijakan ini mempertimbangkan bahwa isufatherlessadalah akar dari masalah dan bukan sebagai gejala-gejala (symptom) dari permasalahan.

Untuk memastikan bahwa isu ini sebagai akar masalah telah dijelaskan penyebabnya, meskipun tampak seperti rangkuman dari berbagai temuan penelitian yang mungkin menggunakan konteks budaya yang berbeda. Paling sedikit, sudah ada dasar pembenaran mengenai pentingnya Gerakan ini dengan menunjukkan bukti berupa kekuatan dan kelemahan keterlibatan ayah dalam proses tersebut.

Ketiga, surat edaran ini memang dikeluarkan pada waktu yang cukup tepat, yaitu menjelang akhir semester pelajaran di satuan pendidikan atau sekolah. Dengan pemilihan waktu tersebut, kebijakan ini tampaknya diharapkan dapat lebih mudah diterima secara normatif dan praktis oleh pihak orang tua sebagai sasaran atau target kebijakan tersebut.

Tidak sama dengan kebijakan-kebijakan lain yang sering menimbulkan perdebatan. Perdebatan ini diduga muncul karena lebih dipengaruhi oleh keinginan para pengambil kebijakan baru untuk menghapus kebijakan sebelumnya dan bekerja dengan cara yang berbeda.legacy( Warisan ) kebijakan baru di masa kepemimpinannya.

Apakah “Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak Ke Sekolah” sudah sesuai dengan ciri-ciri kebijakan?

 

Karakteristik Kebijakan

Terdapat dua ciri dari kebijakan publik yang disampaikan oleh Nugroho (2015). Ciri pertama adalah bahwa kebijakan publik seharusnya dapat dimengerti dengan mudah oleh berbagai kalangan masyarakat serta tujuan nasional. Dengan kata lain, kebijakan yang dibuat harus mempertimbangkan berbagai situasi yang ada di kalangan sasaran kebijakan tersebut.

Ciri kedua adalah bahwa kebijakan publik perlu dapat diukur agar dapat mengetahui sejauh mana terjadi kemajuan. Hal ini berarti kebijakan sebaiknya disesuaikan dan disesuaikan dengan perubahan sosial, ekonomi, dan politik, atau secara sederhana dinyatakan sebagai kebijakan yang rasional. Singkatnya, harus ada indikator jelas mengenai keberhasilan kebijakan yang diterapkan.

Tujuan dari Gerakan tersebut adalah memperkuat peran ayah dalam mendidik dan merawat anak sejak dini. Diharapkan bahwa kehadiran ayah pada momen penting akan mampu membentuk ikatan emosional yang berdampak positif terhadap rasa percaya diri, kenyamanan, serta kesiapan anak dalam menghadapi proses belajar.

Berdasarkan karakteristik pertama yang berkaitan dengan sasaran, yaitu ayah, mungkin muncul beberapa pertanyaan. Misalnya, apakah semua anak benar-benar memiliki ayah? Bisa saja terdapat kasus-kasus di mana anak tidak memiliki ayah akibat perceraian atau karena ayah tinggal jauh dari sekolah karena bekerja di daerah yang jauh bahkan di luar negeri.

Mengenai karakteristik kedua, yaitu indikator keberhasilan dan dampak kebijakan. Apakah sudah dipertimbangkan atau dipersiapkan komunikasi yang terjadi antara orang tua dan anak sebelum dan setelah pengambilan rapor ke sekolah.

Misalnya, apakah bisa dipastikan bahwa ayah akan berbicara dengan anaknya mengenai apa yang ia dengar dari guru kelas tentang sikap dan prestasi belajar anak setelah mengambil rapor? Atau apakah ayah, setelah mengambil rapor anak ke sekolah, masih menghabiskan sisa hari bersama anaknya? Atau justru sebaliknya, ayah sengaja menyisihkan waktu untuk mengambil rapor anak ke sekolah, lalu melanjutkan aktivitasnya sendiri.

Tindak Lanjut

Program “Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak Ke Sekolah” ini menarik karena sebelumnya pernah ada kebijakan atau ajakan untuk mengantarkan anak ke sekolah. Sayangnya, hingga kini belum ada studi atau penelitian serta evaluasi terhadap kebijakan tersebut yang menunjukkan dampaknya terhadap motivasi dan proses belajar anak.

Kebijakan ini seharusnya tidak mengulang kebijakan sebelumnya, terlebih lagi momennya jatuh pada saat pengambilan rapor. Jika menjadi kebijakan yang berkelanjutan, maka dalam satu tahun ajaran, ayah hanya diperbolehkan mendampingi anaknya maksimal dua kali, yaitu di semester ganjil dan semester genap. Apakah dengan frekuensi pendampingan yang terbatas tersebut mampu memengaruhi hubungan emosional antara ayah dan anak?

Sebaiknya dihindari munculnya kesan bahwa kebijakan ini merupakan kebijakan yang diambil sebagai respons terhadap suatu peristiwa, masalah, atau krisis yang telah terjadi. Hal ini berarti kebijakan tersebut dianggap sebagai pendekatan pengambilan keputusan atau tindakan yang dilakukan setelah kejadian tersebut terjadi. Selain itu, perlu pula dihindari agar kebijakan ini tidak dianggap sebagai upaya pencegahan atau antisipasi yang sering kali muncul akibat perhatian publik atau tren viral.