Ekspansi Bisnis yang Agresif oleh Happy Hapsoro dan Prajogo Pangestu
Pengusaha ternama Indonesia, Happy Hapsoro dan Prajogo Pangestu, terus memperluas jaringan bisnis mereka. Dalam kuartal IV 2025, keduanya telah mendirikan sejumlah anak perusahaan baru sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat portofolio bisnis serta mengambil peluang di sektor migas dan mineral.
Pendirian PT Kinarya Medika Selaras (KIMS) oleh Petrosea Tbk.
Salah satu langkah terbaru adalah pendirian anak usaha baru oleh PT Petrosea Tbk. (PTRO), yaitu PT Kinarya Medika Selaras (KIMS). Anak perusahaan ini didirikan bersama dengan PT Rekakarsa Karya Nusantara, yang sepenuhnya dimiliki oleh PTRO. KIMS bergerak dalam berbagai bidang seperti pertambangan, penggalian, aktivitas profesional, ilmiah, teknis, penyewaan, ketenagakerjaan, agen perjalanan, konstruksi, industri pengolahan, serta perdagangan besar dan eceran.
Perusahaan ini memiliki kepemilikan sebesar 99,90% oleh PTRO, sedangkan 0,10% dimiliki oleh PT POSB Infrastructure Indonesia. Sementara itu, KIMS akan fokus pada layanan kesehatan manusia dan sosial, serta aktivitas profesional, kimia, teknis, dan perdagangan eceran.
Corporate Secretary Petrosea, Anto Broto, menyatakan bahwa pendirian anak perusahaan baru ini akan memberikan dampak positif terhadap penguatan dukungan operasional perseroan sekaligus menjadi wujud nyata pengembangan usaha serta implementasi strategi diversifikasi usaha perseroan.
Langkah Serupa oleh Rukun Raharja Tbk. (RAJA)
Selain PTRO, emiten afiliasi Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), juga melakukan pendirian anak perusahaan baru. Pada 18 November 2025, RAJA mendirikan PT Banawa Rezeki Optima (BRO), yang bergerak di bidang konsultasi manajemen dan perusahaan holding dengan fokus pada usaha angkutan laut domestik maupun internasional.
Corporate Secretary Rukun Raharja, Yuni Pattinasarani, menjelaskan bahwa pembentukan entitas tersebut diharapkan memperkuat posisi perseroan dalam industri serta membuka peluang pertumbuhan usaha di masa mendatang.
Sebelumnya, pada 29 Oktober 2025, anak usaha RAJA, PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU), juga mendirikan dua anak perusahaan baru: PT Raharja Energi Indonesia dan PT Raharja Energi Negeri, keduanya bergerak di sektor energi dengan fokus eksplorasi, produksi, serta pengelolaan sumber daya gas alam.
Ekspansi ke Luar Negeri
Ekspansi bisnis PTRO tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga menembus batas geografis. Melalui anak usahanya, Petrosea Services Solutions PTE LTD., PTRO mendirikan Petrosea Solutions Pakistan (Private) Limited (PSP) yang efektif berdiri pada 25 September 2025. PSP, yang berlokasi di Karachi, bergerak di bidang engineering, procurement & construction management.
Anto Broto menyampaikan bahwa pendirian anak perusahaan baru ini akan memberikan dampak positif bagi perseroan dan merupakan bagian dari pengembangan usaha dan ekspansi bisnis perseroan ke luar negeri serta memperkuat operasional perseroan di sektor EPC.
Prospek Sektor Tambang Migas dan Mineral
Analis Samuel Sekuritas, Juan Harapa, menilai bahwa diversifikasi dan ekspansi PTRO menjadi motor penggerak pertumbuhan pendapatan. Setelah periode kinerja yang kurang optimal akibat beban pra-operasional serta kontribusi terbatas dari aset dan proyek yang baru diakuisisi, PTRO memasuki fase pertumbuhan yang kuat dengan dukungan portofolio kontrak yang besar dan terdiversifikasi di sektor batu bara, nikel, serta tembaga/emas, dengan klien papan atas.
Samuel Sekuritas memperkirakan pendapatan PTRO mencapai US$857 juta di akhir 2025, meningkat tajam menjadi US$1,35 miliar pada 2026 dan US$1,37 miliar pada 2027. Laba bersih diramal tumbuh dari US$10 juta menjadi US$62 juta di 2026, lalu US$81 juta pada 2027. Rekomendasi saham PTRO disematkan rating buy dengan target harga Rp17.000.
Prospek Positif Sektor Tambang
Riset Henan Putihrai Sekuritas menyoroti prospek positif sektor tambang mineral dan migas. Permintaan emas diprediksi tetap kuat, terutama didorong oleh pembelian bank sentral negara berkembang. Harga tembaga juga mencapai level tertinggi sejak Mei 2024, didukung gangguan pasokan dan stimulus China.
Pertumbuhan diproyeksikan meningkat dari 3,7% yoy pada 2024 menjadi 3,8% yoy pada 2025, didorong oleh transisi energi yang mendorong adopsi kendaraan listrik, investasi infrastruktur kelistrikan dan pusat data, serta ekspor China atas produk intensif tembaga.
Di sisi nikel, permintaan untuk baterai isi ulang diperkirakan tumbuh 10% YoY pada 2025, meski pertumbuhan global melambat. Surplus pasar nikel diperkirakan melebar menjadi 392.000 ton pada 2025, naik signifikan dari 198.000 ton pada 2024.
Sektor batu bara juga diproyeksi tetap mendapat dukungan, terutama dari meningkatnya kebutuhan listrik di negara berkembang dan emerging markets. Namun percepatan pengembangan energi terbarukan akan menurunkan porsi batu bara dalam bauran listrik global, dengan India menjadi penggerak utama pertumbuhan permintaan.
Langkah ekspansi dan diversifikasi yang agresif oleh Hapsoro dan Prajogo, didukung prospek sektor migas, mineral, dan energi terbarukan yang solid, menegaskan strategi mereka untuk mengamankan pertumbuhan jangka panjang serta memperkuat posisi di pasar domestik maupun global.







