Ringkasan Berita:
- Ribuan warga di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, yang biasanya menikmati berkah panen durian, kini harus berjuang keras karena akses jalan dan jembatan putus total akibat banjir bandang dan longsor.
- Warga Kampung Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reuduek terpaksa menggunakan tali sling dan bambu untuk menyeberangi sungai DAS Peusangan demi mengangkut hasil panen.
- Terputusnya akses membuat tengkulak sulit masuk ke kampung, akibatnya harga durian di tingkat petani merosot drastis.
Laporan Wartawan Tribun Gayo Bustami I Aceh Tengah
, TAKENGON – Musim durian yang seharusnya menjadi berkah, justru berubah menjadi perjuangan hidup dan mati bagi ribuan warga di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Hal ini akibat akses jalan dan jembatan putus total usai diterjang bencana banjir bandang dan tanah longsor pada Rabu (26/11/2025) lalu.
Tak sama seperti tahun-tahun sebelumnya, panen durian saat ini terasa berbeda bagi warga di Kampung Bergang, Karang Ampar dan Kampung Pantan Reuduek atau Peuteng di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.
Karena warga harus menjemput rezeki yang tersisa usai dihantam bencana.
Warga Lewati Tali Sling Bawa Hasil Panen
Tak hanya itu, warga kini juga terpaksa menggunakan tali sling seadanya untuk menyeberangi sungai demi mengangkut hasil panen dari kebun.
Meski akses jalan utama terputus dan sebagian lahan tertimbun longsor semangat warga di Kecamatan Ketol tidak surut.
Bagi mereka, durian bukan sekadar komoditas, melainkan “talian nyawa” untuk bertahan hidup di masa darurat bencana.
Tiga kampung di Kecamatan Ketol ini berbatasan langsung dengan Kampung Simpang Rahmat Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah.
Hasil durian warga disana terpaksa harus dikeluarkan melalui jembatan sling darurat jalur menuju Bener Meriah.
Pantauan wartawan dilokasi, Sabtu (27/12/2025), jembatan sling darurat itu dibuat di Kampung Simpang Rahmat, disana terlihat pemandangan yang memilukan.
Iring-iringan warga termasuk para pemuda dan orang tua perlahan berjalan pada tali besi serta bambu sebagai penyangga yang melintang di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan.
Dengan kaki yang bergetar dan tangan mencengkeram erat, mereka membawa keranjang penuh durian yang beratnya mencapai puluhan kilogram (Kg).
Jembatan darurat tersebut bukan tanpa ada resiko, sedikit saja lengah nyawa bisa melayang, arusnya deras, lebarnya kurang lebih 50 meter dan tinggi jembatan kurang lebih 10 meter.
Meski dihatui rasa takut, tapi masyarakat disana tetap nekat melintasi demi mengangkut hasil durian lalu dijual serta bisa memenuhi kebutuhan pokok dapur-dapur keluarganya.
“Tidak ada jalan lain, ini satu-satunya jalan yang bisa kami lintasi, mesti penuh resiko, tapi hasil durian ini bisa membeli kebutuhan pokok dan memperbaiki rumah kami yang rusak,” ujar M Yasin salah satu petani yang ditemui dilokasi.
Harga Anjlok Karena Kendala Distribusi
Masalah lain pascabencana juga muncul, karena terputusnya akses jalan menuju ke tiga kampung tersebut membuat para tengkulak kesulitan masuk kesana.
Akibatnya, harga buah durian di tingkat petani merosot tajam, disebrang sungai dihargai Rp 8000 per buah hingga Rp 10.000 per buah, harga normal biasanya Rp 20.000 per buah hingga Rp 40.000 per buah.
“Gak sesuai lagi harganya, sekarang harus ada ongkos tambah nyebrang sungai, dan dari sebelah sungai di bayar ongkos lagi menuju ronga-ronga, maka di tingkat petani anjlok sekali harganya, tak karuan lagi laj harga durian kami sekarang,” keluhnya.
Harapan untuk Pemerintah
Yasir dan ribuan warga lain berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah (Pemda), terutama dalam hal perbaikan akses jalan agar hasil bumi mereka bisa segera dipasarkan ke luar daerah sebelum musim panen berakhir.
“Terpenting sekali kami butuh jalan segera diperbaiki, agar hasil keringat kami tidak terbuang sia-sia, banyak masih lagi hasil kebun kami di sebrang sungai belum terambil.
Kalau jalan sudah bisa dilalui, perkara kebutuhan pokok dapat kami upayakan sendiri,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan