Laporan Jurnalis https://mediahariini.com, Tari Rahmaniar
https://mediahariini.com, KUPANG– Dari tangan kecil yang dulu membawa keranjang pisang goreng, hingga tangan yang kini memegang tongkat kepemimpinan universitas ternama di NTT, perjalanan Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc tampaknya menunjukkan bahwa orkestra kesuksesan hanya bisa dimainkan oleh mereka yang tak pernah berhenti melangkah.
Peluncuran bukunya yang berjudul Sang Dirigen menjadi momen yang menghidupkan kembali berbagai perjuangan, sebuah cerita yang tidak hanya memotivasi, tetapi juga menyentuh hati.
Buku ini dimulai dengan gambaran paling tulus mengenai masa kecil Prof. Maxs. Setiap pulang sekolah dari GMIT Kuanino 1, ia membantu ibunya menjual pisang goreng dan nogosari.
Kehidupan yang sederhana semakin berat karena fakta bahwa hingga kelas dua SD dia masih tidak mampu membaca, keadaan yang pernah menyebabkan dia mengalami kekerasan dari guru.
Namun dari kejatuhan itulah tekadnya berkembang. Maxs muda melangkah melewati batas: diterima di SMPN 1 Kupang, SMAN 1 Kupang, hingga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Solo.
Kiprah akademiknya mencapai puncak ketika ia diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), sebuah langkah besar bagi anak yang pernah dianggap “tidak mampu membaca”.
Setelah kembali ke Kupang sebagai dosen, ia mengembangkan karier akademiknya hingga menjadi profesor pertama di bidang Ilmu Kesehatan Hewan Undana, dan akhirnya ditunjuk sebagai Rektor pada tahun 2021.
Bab kedua buku ini menyoroti tokoh penting di balik kesuksesan Prof. Maxs, yakni istrinya, drh. Hembang Murni Pancasilawati. Bersama dua putri mereka, Sherly dan Nana, keluarga menjadi tempat kembali yang menjaga keseimbangan kehidupan sang rektor.
Mereka digambarkan sebagai “pilar yang diam-diam”, hadir dalam setiap tekanan pendidikan dan kekacauan administratif. Bahwa seorang pemimpin bisa tetap teguh, sebagian besar disebabkan oleh keluarga yang menjaga semangatnya tetap utuh.
Bagian ketiga dari buku ini menggambarkan wajah Prof. Maxs di luar ruang rapat dan panggung resmi. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, setia, dan tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun. Kesaksian rekan-rekannya menunjukkan satu hal yang konsisten: ia adalah seorang pemimpin yang telah selesai dengan dirinya sendiri.
Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng, yang merupakan mantan wakil rektor Undana dan kini menjabat sebagai Rektor Undana, pernah mendampingi Prof Maxs selama tiga tahun mengatakan.
“Beliau memberikan kepercayaan yang besar kepada kami yang masih muda. Ia tulus, sabar, dan bahkan saat marah, nasihatnya tetap positif, tidak pernah menurunkan harga diri,” katanya.
Sifat itulah yang membuatnya mampu menghadapi kritik dan ejekan, tetap tenang, serta tetap rendah hati.
Pada peluncuran buku, Jumat (12/12), Prof. Maxs menyampaikan pesan yang menggambarkan kepribadiannya.
Perubahan terjadi bukan karena pujian, melainkan karena kritik. Kehidupan sederhana bukan sekadar gaya hidup, tetapi merupakan prinsip moral.
Metafora “dirigen” menjadi pusat bab keempat dalam buku ini. Seperti seorang konduktor orkestra, Prof. Maxs memimpin bukan dengan suara yang keras, tetapi dengan ketepatan arah dan ketenangan batin.
Dalam empat tahun kepemimpinannya, Undana mengalami pertumbuhan signifikan dengan lahirnya 36 guru besar—kenaikan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Ia mendapat pujian atas kemampuannya menyatukan berbagai karakter dalam komunitas akademik menuju satu visi: Undana Unggul di tingkat nasional maupun internasional.
Buku ini menekankan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang menguasai, tetapi lebih pada menciptakan ritme yang membuat semua orang bergerak bersama.
Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng, juga menyebutkan bahwa peluncuran buku ini merupakan dokumen yang sangat penting bagi generasi Undana.
“Buku ini memperlihatkan kepada masyarakat bahwa tokoh yang menginspirasi bernama Prof. Maxs benar-benar memberikan nuansa tersendiri bagi Undana. Sejarah, peran, serta kontribusinya telah dicatat dengan sangat baik,” katanya.
Ia juga mengingat momen bersamanya dengan Prof. Maxs
Beliau memiliki keyakinan terhadap kami, meskipun usia kami masih muda. Keputusannya selalu berfokus pada pelayanan yang lebih baik bagi mahasiswa dan komunitas akademik.
Jefri menambahkan, Prof. Maxs merupakan seorang pemimpin yang sangat sabar, bahkan ketika menerima kritik paling tajam pun.
Buku Sang Dirigen akhirnya melebihi status sebagai biografi; ia menjadi gambaran bahwa perjalanan besar bisa muncul dari titik kecil yang tampaknya tidak menjanjikan.
Dari seorang anak yang menjual pisang goreng, Prof. Maxs berkembang menjadi seorang pemimpin yang memimpin Undana dengan harmoni, integritas, dan kesederhanaan yang kuat.
Kini, setelah tidak lagi menjabat, masyarakat menantikan kontribusi terbarunya sebagai dosen penuh. Seperti orkestra yang mengubah irama, Prof. Maxs memasuki bab berikutnya—tetap setia pada musik pengabdian yang telah ia pilih sejak awal. (Iar)
Ikuti berita di https://mediahariini.com pada GOOGLE NEWS







