Pameran Lukisan yang Menginspirasi di LIMA Art Gallery
Pada akhir tahun 2025, LIMA Art Gallery di area Garuda Wisnu Kencana, Bali, menyelenggarakan pameran lukisan yang menarik perhatian banyak pengunjung. Dalam pameran ini, sejumlah karya seni yang jumlahnya mencapai 32 lukisan ditampilkan. Karya-karya tersebut merupakan hasil dari Ricky B. Salim, seorang seniman yang memiliki keterbatasan dalam mengenali warna.
Menyelesaikan karya seni dengan jumlah puluhan tentu bukanlah hal mudah. Apalagi jika dilakukan dengan kondisi yang tidak ideal. Seorang seniman membutuhkan inspirasi, ketenangan, dan waktu yang tepat untuk dapat berkarya. Namun, bagi Ricky, semua itu menjadi bagian dari proses yang ia lalui.
Pameran ini terbuka untuk umum, sehingga siapa pun dapat menikmati keindahan karya-karya yang dipajang. Beberapa lukisan yang dicetak dalam bentuk kartu adalah hasil karya Ricky saat berada di Tuscany. Karya-karya ini menjadi bagian dari “Spread The Gospel of Through Art”, sebuah bentuk seni yang bersifat profetik dan menjadi sumber inspirasi bagi Ricky.
Dalam keterangannya, Ricky B. Salim menyampaikan bahwa kekuatan yang ia miliki bukan hanya berasal dari dirinya sendiri, tetapi juga dari kasih karunia dan kemampuan yang diberikan Tuhan. Ia percaya bahwa dalam kelemahannya, kuasa Tuhan menjadi sempurna. Hal ini menjadi motivasi utamanya dalam berkarya.
Ricky adalah seorang seniman dengan visi tinggi akan kedamaian dan penuh cinta kasih. Visi tersebut membuatnya terus berkarya. Sentuhan tangan dalam balutan warna-warni menciptakan karya yang luar biasa dan mampu menyentuh hati setiap orang yang melihatnya.
Salah satu faktor penting dalam perjalanan kreatif Ricky adalah dukungan dari istri tercintanya, Hany. Ia selalu setia dan sabar mendampingi Ricky. Meskipun tidak selamanya Hany ada di sisinya, seperti saat ia berada di Tuscany, Ricky tetap mampu melukis sendiri.
Sebagai seorang ayah, Ricky memiliki tiga anak, yaitu Nciloe Abigail, Nicholas Matthew, dan Nathania Caella. Selain itu, ia juga menjadi pendamping hidup bagi Hany. Tahun 2017 menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya, ketika ia memutuskan untuk serius menekuni dunia seni lukis.
Memulai karier baru di usia yang tidak lagi muda tentu bukan perkara mudah, apalagi dengan berbagai keterbatasan yang ia miliki. Namun, panggilan untuk melukis terus hadir, mengusik pikiran dan menggerakkan hatinya. Dorongan tersebut tak bisa ia abaikan.
Akhirnya, perjalanan batin Ricky menemukan bentuk dalam sebuah karya perdana yang berjudul Last Supper (Perjamuan Akhir). Lukisan ini ia persembahkan untuk sebuah gereja di Bali, menjadi penanda awal langkahnya sebagai pelukis.
Sejak saat itu, kuas dan kanvas seolah menjadi bagian dari hidupnya. Tangan Ricky terus menari, melahirkan karya demi karya, hingga ratusan lukisan berhasil ia hasilkan dan bagikan kepada banyak orang.
Di balik perjalanan kreatifnya, Ricky hidup dengan keterbatasan penglihatan warna atau partial color blind. Kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti melangkah. Melalui berbagai sumber daring, ia mempelajari bagaimana seseorang dengan keterbatasan serupa tetap dapat berkarya di dunia seni rupa.
Semangatnya yang menyala tak pernah padam, justru semakin menguat karena ia meyakini bahwa talenta dan anugerah yang Tuhan berikan memiliki tujuan. Melalui lukisan-lukisannya, Ricky merasakan bahwa karyanya membawa makna dan dampak bagi sesama.







