Isi Artikel
Pengalaman Pangan Lokal yang Berbicara tentang Identitas
Pangan lokal tidak hanya sekadar makanan. Ia adalah cerita, ingatan, dan identitas yang melekat sejak kecil. Setiap kali saya berpikir tentang pangan lokal, yang muncul pertama kali dalam pikiran saya selalu kampung halaman: tempat saya pertama kali belajar menikmati rasa, aroma, dan cara hidup yang sederhana.
Salah satu yang paling kuat membekas dalam ingatan saya adalah peuyeum. Namun, peuyeum yang saya temukan di etalase pusat oleh-oleh saat ini terasa begitu jauh dari peuyeum yang saya kenal dulu. Jarak itu bukan hanya jarak rasa, tetapi juga jarak antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan tuntutan zaman.
Perbedaan Istilah Tapai dan Peuyeum
Sebelum masuk ke cerita inti, ada satu hal yang perlu saya luruskan dari sudut pengalaman pribadi. Dalam keseharian saya di kampung, kami tidak pernah menggunakan istilah tapai untuk merujuk pada makanan hasil fermentasi singkong itu. Bagi kami, semuanya ya peuyeum, dan ketika berbicara dengan orang luar Sunda, kami hanya menerjemahkannya sebagai tape dalam bahasa Indonesia. Itulah pemahaman yang hidup dan dipakai masyarakat sekitar saya sejak kecil.
Belakangan saya menemukan beberapa tulisan yang membedakan tapai singkong dan peuyeum sebagai dua produk berbeda, terutama dari sisi tekstur, kadar air, dan ketahanan simpan. Saya tidak menolak pandangan itu, tetapi pengalaman lapangan saya justru menunjukkan sebaliknya: peuyeum masa lalu yang dijajakan hangat dalam pikulan, lebih dekat dengan gambaran tapai yang mereka sebut sekarang.
Perbedaan istilah ini pada akhirnya memperlihatkan satu hal: bahwa makanan tradisional sering bergerak mengikuti konteks budaya setempat. Selanjutnya bagi saya, peuyeum yang saya kenal dalam ingatan tetaplah peuyeum bukan tapai, bukan pula versi kering yang kini bertahan berminggu-minggu di etalase oleh-oleh.
Peuyeum yang Hidup dari Kehangatan Ragi
Dulu, peuyeum bukan barang oleh-oleh. Ia adalah makanan sehari-hari, dijajakan oleh penjual keliling menggunakan pikulan carangka anyaman bambu. Satu pikulan di depan, satu di belakang, dan di dalamnya tertata peuyeum yang baru saja matang dari peraman masih dibungkus daun pisang, masih hangat, dan aromanya seperti memanggil orang-orang untuk mendekat.
Saya masih ingat bagaimana rasa peuyeum masa kecil itu: manisnya tidak berlebihan, teksturnya lembut dan sedikit basah, dan ketika digigit terasa hangat karena ragi masih berproses. Ada sensasi hidup di dalamnya. Peuyeum semacam itu tidak dibuat untuk tampil cantik atau bertahan lama. Justru daya tahannya yang pendek itulah yang membuatnya istimewa.
Dalam dua atau tiga hari ia akan semakin berair dan lembek, dan itu pertanda bahwa ia benar-benar alami: tanpa trik, tanpa pengawet, tanpa ambisi untuk dipajang berminggu-minggu. Mungkin itu sebabnya saya merasa bahwa peuyeum dulu bukan sekadar makanan, tetapi pengalaman. Ada hubungan personal antara pembuat, penjual, dan pembeli.
Peuyeum Masa Kini: Cantik Digantung, Tapi Mati Rasanya
Kontrasnya terasa ketika saya melihat peuyeum masa kini tergantung rapi di pusat oleh-oleh. Tersusun dalam deretan yang seragam, sedikit kaku, dan… terlalu awet. Saya sering menemukan peuyeum yang bisa bertahan berminggu-minggu tanpa berubah bentuk. Dari segi bisnis, itu mungkin bagus. Dari segi budaya rasa, itu kehilangan sesuatu yang penting.
Peuyeum yang terlalu awet biasanya dikurangi kadar airnya. Teksturnya lebih keras, rasanya lebih manis namun datar, dan aromanya tidak lagi menyapa dari kejauhan. Tidak ada sensasi hangat, tidak ada kelembutan, tidak ada rasa “baru lahir dari peraman” seperti yang dulu saya kenal.
Saya tidak hendak merendahkan usaha industri oleh-oleh. Mereka bergerak sesuai kebutuhan zaman. Wisatawan ingin makanan yang tahan lama. Pemilik toko ingin stok stabil. Proses distribusi menuntut produk tidak cepat rusak. Tetapi di balik itu, saya tidak bisa menahan pertanyaan: Ke mana peuyeum masa lalu hilang?
Perubahan Ritme Hidup, Perubahan Rasa
Saya mencoba mencari jawabannya dari perubahan yang terjadi di sekitar kita. Pedagang pikulan sudah hampir tak terlihat. Orang-orang lebih memilih berbelanja ke toko oleh-oleh yang terang benderang, bukan menunggu pedagang keliling mengetuk pintu atau mampir ke halaman rumah.
Proses peraman disesuaikan agar hasilnya kering dan stabil. Selanjutnya yang paling terasa: waktu pengolahan makanan kini bukan lagi bagian dari hidup banyak orang. Dulu, membuat peuyeum adalah kegiatan rumah. Saya pernah membantu ibu menyiapkan singkong, mengukusnya, menaburkan ragi, lalu menutupnya dengan kain. Ada ritme, ada kesabaran, ada kebersamaan. Itu bukan sekadar membuat makanan, tetapi menjaga tradisi.
Sekarang? Saya sendiri harus mengakui, pekerjaan membuat saya tak lagi punya waktu untuk hal-hal sederhana seperti itu. Selanjutnya kalau saya yang sangat menyukai peuyeum tidak lagi membuatnya, apalagi generasi yang tidak pernah tumbuh bersama makanan itu. Pada titik inilah saya sadar: yang hilang bukan hanya rasa, tetapi gaya hidup yang melahirkan rasa itu.
Kerinduan yang Tidak Sesederhana Rasa Manis
Kerinduan saya pada peuyeum masa lalu sebenarnya adalah kerinduan pada keaslian. Kerinduan pada hal-hal yang tidak dipoles demi pasar, tidak direkayasa demi ketahanan, tidak dikemas demi estetika. Peuyeum dulu tidak sempurna. Kadang terlalu lembek, kadang terlalu manis, kadang terlalu asam. Tapi justru di situlah keindahannya: ia apa adanya. Peuyeum masa kini lebih cantik dilihat, tetapi kurang hidup ketika disantap.
Saya tidak berharap peuyeum dulu kembali persis seperti masa kecil saya. Zaman memang berubah. Toko oleh-oleh punya peran ekonomi. Produsen pangan butuh beradaptasi. Tidak ada yang salah dengan itu, yang saya harapkan sederhana: jangan biarkan tradisi rasa hilang hanya karena kita terlalu sibuk untuk merawatnya.
Jika ada satu hal yang membuat pangan lokal tetap hidup, itu bukan sekadar resep atau bahan baku, melainkan orang-orang yang mau terus merawat ingatan, cerita, dan cara pembuatannya. Saya mungkin tidak lagi membuat peuyeum sendiri. Tetapi lewat tulisan ini, saya ingin mengingatkan diri sendiri bahwa ada rasa yang tidak boleh hilang. Rasa yang membuat kita tahu dari mana kita berasal. Rasa yang membuat kita pulang, meski hanya lewat ingatan.







