Kecelakaan Maut Akibat Konvoi Silat yang Menghalangi Ambulans
Sebuah peristiwa tragis terjadi di lereng Gunung Lawu, yang berujung pada kematian seorang kakek berusia 60 tahun bernama Hadi Sukat. Kejadian ini terjadi saat ia sedang dalam perjalanan menuju Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, upaya penyelamatan tersebut terhambat akibat kemacetan parah yang disebabkan oleh konvoi silat serba hitam.
Malam minggu yang seharusnya menjadi momen kebersamaan dan khidmat justru berubah menjadi panggung kesedihan. Di bawah gemuruh suara knalpot brong dan kilatan kembang api, sebuah ambulans terjebak dalam kerumunan massa. Di dalamnya, nyawa seorang kakek sedang berjuang sengit melawan waktu.
Perayaan anggota baru perguruan silat di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada Sabtu (20/6/2026) malam, berakhir dengan duka yang menyayat hati. Jalur wisata utama Solo–Tawangmangu yang dipadati ratusan orang berpakaian serba hitam tiba-tiba lumpuh total. Sayangnya, kemacetan ini harus dibayar mahal dengan hilangnya nyawa Hadi Sukat, yang mengembuskan napas terakhirnya sebelum sempat mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Karangpandan.
Kesulitan Petugas Medis dalam Menjangkau Korban
Situasi malam itu sangat pelik. Agung, salah satu relawan Karangpandan (Rendan), menjelaskan bahwa armada ambulans di wilayah tersebut sedang terbagi fokusnya. Sebagian besar unit dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hebat pabrik briket di Bangsri, serta mengevakuasi tiga korban pembacokan bersenjata tajam di Desa Ngemplak.
Ambulans yang akhirnya datang dari RSDM dr Moewardi Solo untuk menjemput Hadi Sukat terpaksa harus berjuang keras membelah lautan manusia yang menutup akses jalan raya. Kendaraan darurat tersebut sempat tak bergerak (stuck) akibat padatnya peserta konvoi, sebelum akhirnya berhasil merayap sampai ke rumah pasien dan mencoba menembus kembali kerumunan menuju puskesmas.
Namun, beberapa menit yang terbuang di jalanan berakibat fatal. Begitu roda ambulans menyentuh pelataran Puskesmas Karangpandan, takdir berkata lain. Petugas medis yang memeriksa kondisi korban mendapati denyut nadinya sudah berhenti total. Hadi Sukat dinyatakan meninggal dunia.
Penyesalan Keluarga atas Buruknya Manajemen Lalu Lintas
Tragedi ini menyisakan kekecewaan mendalam bagi pihak keluarga yang menyayangkan hilangnya empati serta buruknya manajemen lalu lintas di saat kondisi darurat. Putri almarhum, Dwi Purnamasari (36), mengungkapkan rasa sesalnya atas peristiwa memilukan tersebut.
“Harusnya polisi lintas kan mengatur jalan, ngasih jalan, harusnya kalau mau dikasih ruang itu dilakukan di lokasi yang tidak menghalangi jalan. Kalau menurut saya pribadi sebenarnya, jangan sampai menganggu pengguna jalan, sangat di sayangkan sekali, itu kan setahun sekali harusnya bisa menempatkan,” ujar Dwi.
Dwi mengaku telah mengetahui kondisi kesehatan sang ayah yang terus memburuk sejak dini hari. Namun, jalur evakuasi medis yang tertutup oleh penumpukan massa konvoi membuat upaya penyelamatan sang ayah menjadi sangat terlambat.
Peristiwa yang Menjadi Pengingat Bagi Ruang Publik
Kini, suasana haru menyelimuti pelepasan almarhum. Jenazah Hadi Sukat, yang dikenang hangat oleh tetangga sebagai sosok pelindung dan pengayom keluarga, telah dikebumikan di Pemakaman Nongko 2, Dusun Gedangan, Desa Karangpandan pada Minggu siang. Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi ruang publik kita—bahwa di atas jalan raya, ego kelompok seharusnya luruh ketika sirine ambulans meminta haknya untuk menyelamatkan nyawa.







