PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengumumkan penundaan pengoperasian Kereta Api Wisata Jaka Lalana yang sebelumnya dijadwalkan melayani rute Jakarta–Bogor–Sukabumi–Cianjur. Penundaan ini dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan, karena KAI sedang fokus sepenuhnya pada penanganan dampak bencana yang terjadi di wilayah Sumatera, termasuk perbaikan jalur kereta yang terganggu.
Menurut Humas KAI Daop 2, Hardoyo, keputusan untuk menunda operasional KA Jaka Lalana telah diputuskan setelah koordinasi dengan Gubernur Jawa Barat dan beberapa bupati serta walikota yang wilayahnya dilintasi kereta wisata tersebut.
“KAI bersama Gubernur Jabar sepakat untuk menunda pengoperasian KA Jaka Lalana karena KAI masih fokus pada pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak bencana,” ujar Hardoyo. Ia menjelaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memperbaiki jalur kereta yang rusak akibat bencana. Pengoperasian KA Jaka Lalana akan dilanjutkan setelah proses pemulihan selesai.
Hardoyo menambahkan bahwa ketika layanan KA Jaka Lalana berjalan, KAI akan menyediakan berbagai paket wisata yang disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten dan kota yang dilewati kereta ini. Hal ini dimaksudkan agar dapat mendukung pertumbuhan pariwisata dan ekonomi di wilayah selatan Jawa Barat.
Beberapa daerah seperti Cianjur telah menyiapkan paket-paket wisata yang akan ditawarkan kepada wisatawan ketika KA Jaka Lalana mulai beroperasi. Contohnya, rute menuju Gunung Padang yang terkenal di kawasan tersebut akan menjadi salah satu destinasi yang diminati.
Meski harga tiket belum diumumkan secara resmi, KAI menyatakan bahwa layanan ini dirancang sebagai kereta wisata dengan konsep perjalanan tematik. Oleh karena itu, harga tiket nantinya akan disesuaikan dengan paket wisata yang ditawarkan di masing-masing daerah tujuan.
Hardoyo menegaskan bahwa KAI akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyusun paket perjalanan yang fleksibel sesuai dengan potensi wisata di wilayah yang dilintasi KA Jaka Lalana. “Nanti akan ada paket-paket wisata sesuai kebutuhan daerah,” katanya. Dengan konsep ini, tarif KA Jaka Lalana tidak hanya mencakup perjalanan kereta, tetapi juga bisa terintegrasi dengan destinasi wisata, layanan pendukung, serta aktivitas pariwisata lokal.
Pengumuman resmi mengenai harga tiket dan skema paket wisata akan disampaikan setelah pengoperasian kereta ini dipastikan berjalan. Meskipun penundaan diberlakukan, KAI sebelumnya telah melakukan uji coba kereta Jaka Lalana dengan lima rangkaian kereta, terdiri dari dua gerbong khusus wisata, dua gerbong eksekutif, dan satu gerbong makan. Rangkaian ini telah melintas pada 17 stasiun dari Jakarta melalui Bogor dan Sukabumi sampai Cianjur.
Hardoyo menegaskan bahwa dari hasil uji coba tersebut, KA Wisata Jaka Lalana sudah dinyatakan layak untuk beroperasi. “Setelah tuntas penanganan bencana Sumatera, kita tinggal meluncurkan pengoperasian KA wisata, karena sudah dilakukan uji coba dan dinyatakan layak,” jelasnya.
